Deeptalk.co.id – Membuat orang lain senang dengan keberadaan kita memang merupakan salah satu cara untuk beradaptasi dengan lingkungan. Namun, tentu hal tersebut dilakukan seperlunya saja. Pasalnya, berlebihan dalam menyenangkan orang lain justru bisa memberikan dampak negatif untuk diri sendiri, khususnya untuk kesehatan mental.
Upaya untuk menyenangkan orang lain ini dikenal dengan istilah people pleasing. Orang yang memiliki kecenderungan untuk menyenangkan orang lain secara berlebihan dikenal dengan julukan people pleaser.
Salah satu generasi yang cukup sering menjadi seorang people pleaser adalah generasi z atau gen z. Gen z adalah individu yang lahir pada tahun 1997-2012. Artinya, saat artikel ini dibuat gen z sudah berusia 13-28 tahun. Pada usia tersebut gen z sudah mulai memasuki dunia sosial. Beberapa diantara mereka sudah bekerja, dan bahkan mulai berumah tangga.
Menjadi seorang people pleaser bisa jadi upaya gen z untuk bisa diterima oleh lingkungan sosial. Sayangnya, beberapa diantara mereka justru berlebihan melakukan hal tersebut. Pada akhirnya kebiasaan menyenangkan orang lain ini justru memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi mental dan sosialnya.
Selain itu, banyak gen z yang menjadi seorang people pleaser demi untuk mendapatkan validasi dari orang lain. Hal ini biasanya dipicu oleh metode parenting yang didapatkan pada masa kecil. Dimana bisa saja mereka cenderung diabaikan oleh orang tua, atau orang-orang terdekatnya. Lantas, seberapa penting validasi bagi gen z? dan mengapa mereka perlu berhenti mencari validasi itu?
Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai alasan mengapa para gen z tidak perlu menjadi seorang people pleaser dan tidak perlu mendapatkan validasi dari orang lain. Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat adalah seorang people pleaser dan berdampak terhadap kesehatan mental. Jangan ragu untuk mendapatkan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Seberapa Penting Validasi Bagi Gen Z?

Hidup di era perkembangan teknologi membuat para gen z sangat membutuhkan validasi dari orang lain. Pasalnya, media sosial ikut andil dalam pembentukan persepsi dan mempengaruhi rasa percaya diri para gen z.
Validasi dari orang lain membuat gen z mendapatkan rasa percaya diri mereka. Dengan rasa percaya diri tersebut, gen z juga menjadi berani dalam mengambil keputusan. Mungkin tidak asing bagi kita melihat gen z mencari validasi atau perhatian orang lain melalui media sosial. Dimana hal tersebut akan mempengaruhi persepsi gen z lainnya. Pada akhirnya, pencarian validasi menjadi trend dikalangan gen z.
Selain bisa meningkatkan rasa percaya diri, mendapatkan validasi juga bisa mengurangi kecemasan dan depresi yang dialami oleh para gen z. Pasalnya, validasi ini membuat mereka mendapatkan dukungan, merasa dihargai, dan juga dipahami oleh sekitarnya.
Sekilas validasi ini cukup bermanfaat bagi gen z. Namun tentu saja, hal yang berlebihan akan memberikan dampak negatif. Misalnya membuat gen z ketergantungan terhadap orang lain, mengurangi kreativitas dan inovasi, ketergantungan pada media sosial, hingga pengabaian terhadap kebutuhan diri sendiri.
Baca juga: Prokrastinasi pada Gen Z: Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Pendidik untuk Membantu
Dampak People Pleasing Pada Gen Z

Menjadi seorang people pleaser memang merupakan salah satu cara untuk mendapatkan validasi dari orang lain. Namun tahukah kamu bahwa hal tersebut justru bisa berdampak negatif untuk diri sendiri. Maka dari itu, berikut beberapa dampak menjadi people pleaser yang bisa dialami oleh gen z:
Stress dan kelelahan
Selalu mengupayakan untuk menyenangkan orang lain bisa membuat diri kita mengalami kelelahan baik secara fisik maupun mental. Dimana hal tersebut bisa berdampak pada kondisi stress berlebih. Pasalnya, upaya menyenangkan orang lain terkadang membuat kita lupa akan kesenangan pribadi.
Mengabaikan diri sendiri
Selain memicu stress dan kelelahan, menjadi seorang people pleaser juga sering kali membuat gen z mengabaikan diri sendiri. Pasalnya, mereka selalu memikirkan kebutuhan orang lain, di atas kebutuhannya sendiri. Tidak hanya kebutuhan fisik saja, melainkan juga kebutuhan mental, seperti merasa senang, nyaman, dan sejenisnya.
Kehilangan identitas
Dampak selanjutnya dari menjadi seorang people pleaser adalah memicu kehilangan identitas. Orang yang terbiasa menyenangkan orang lain cenderung tidak menjadi diri mereka sendiri untuk memenuhi hal tersebut. Jika berlangsung lama, maka bukan hal mustahil bisa membuat seseorang kehilangan identitas aslinya.
Itu dia penjelasan mengenai seberapa penting validasi bagi gen z, dan dampak menjadi seorang people pleaser. Perlu diketahui bahwa dalam tahap tertentu kondisi people pleasing bisa mempengaruhi kesehatan mental. Jika itu terjadi, kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id untuk berkonsultasi dengan para profesional di bidang kesehatan mental.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Gen Z dan Prokrastinasi: Bagaimana Mengembangkan Kemampuan Mengatur Waktu yang Efektif
Sumber:
"The Dark Side of Validation" oleh Psychology Today (2020)
"The Dangers of Over-Validation" oleh Verywell Mind (2020)
"The Negative Effects of Excessive Validation" oleh MindBodyGreen (2020) 1. "The Effects of People-Pleasing on Mental Health" oleh Psychology Today (2020)
"People-Pleasing: The Hidden Dangers" oleh MindBodyGreen (2020)
"The Impact of People-Pleasing on Self-Esteem" oleh Verywell Mind (2020)
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



