Semua artikel
Pikiran

Gen Z dan Overgeneralisasi: Bagaimana Stereotip Mempengaruhi Kesehatan Mental

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda-beda dalam mengambil sebuah kesimpulan. Meski demikian, terdapat beberapa pola pikir yang keliru. Dimana pola pikir keliru itu tidak jarang menciptakan kesimpulan yang keliru pula. Salah satu pola pikir yang keliru ini didapatkan dari overgeneralisasi.

Saat ini merupakan era digital yang memungkinkan semua orang mengakses informasi dengan sangat cepat. Sayangnya, kemudahan mengakses informasi itu membuat kita hanya fokus terhadap satu atau dua informasi dan langsung mengambil kesimpulan secara general. Padahal, untuk mendapatkan kesimpulan yang tepat, diperlukan proses berpikir dan informasi yang lebih beragam.

Kabar buruknya, tidak sedikit gen z yang memiliki pola pikir overgeneralisasi. Lantas, apakah overgeneralisasi mempengaruhi kondisi mental seseorang? Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai overgeneralisasi dan dampak terhadap kesehatan mental yang bisa dialami oleh para gen z.

Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami masalah mental akibat overgeneralisasi atau lainnya. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Apa Itu Overgeneralisasi?

Man and woman calculating domestic budget at home

Overgeneralisasi adalah bentuk dari kesalahan berpikir atau cognitive bias yang membuat seseorang mengambil sebuah kesimpulan secara luas dari atau umum, dari informasi atau pengalaman yang terbatas.

Overgeneralisasi menjadi sebuah permasalahan yang cukup serius dan cukup sering dilakukan oleh para gen z. Seharusnya, pola pikir yang satu ini tidak perlu terjadi mengingat kemudahan informasi yang bisa didapatkan di era digital. Namun, kemudahan informasi itu juga yang membuat sebagian orang menjadi malas untuk melakukan eksplorasi terhadap pengetahuan yang lebih dalam.

Contoh overgeneralisasi bisa berupa kesimpulan akan tidak pernah berhasil dalam melakukan segala sesuatu dalam hidup, karena gagal dalam sebuah tes atau ujian. Selain itu, bisa juga berupa perasaan bahwa semua orang di tempat kerja merupakan orang yang toxic, karena bertemu dengan satu atau dua orang toxic di tempat kerja. Kedua contoh tersebut menggambarkan pola pikir overgeneralisasi terhadap satu atau dua kondisi, dan mengambil kesimpulan secara luas.

Baca juga: Mengatasi Prokrastinasi pada Gen Z: Strategi dan Tips yang Efektif

Bagaimana Overgeneralisasi Mempengaruhi Kesehatan Mental Para Gen Z?

Young Asian Man Working At Home

Tanpa kita sadari, kebiasaan overgeneralisasi mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan para gen z. Salah satu dampak overgeneralisasi ini adalah mampu mempengaruhi kondisi mental para gen z. Berikut beberapa dampak overgeneralisasi terhadap kesehatan mental gen z:

Meningkatkan resiko stress dan kecemasan

Dampak pertama kebiasaan overgeneralisasi pada kesehatan mental adalah mampu meningkatkan resiko stress dan kecemasan pada gen z. Kebiasaan overgeneralisasi membuat seseorang merasa tidak mampu mengontrol kehidupan dan pola pikir mereka. Kondisi semacam inilah yang memicu stress dan kecemasan. Jika terus terjadi seperti itu, maka sangat mungkin stress dan kecemasan itu berkembang menjadi sebuah gangguan psikologis.

Mengurangi motivasi dan rasa percaya diri

Dampak kedua dari overgeneralisasi pada kesehatan mental adalah mampu mengurangi motivasi dan rasa percaya diri para gen z. Pasalnya, kebiasaan overgeneralisasi membuat para gen z kesulitan untuk mencapai pikiran mereka. Hal semacam ini  mampu mengurangi motivasi untuk terus berkembang, dan hilangnya rasa percaya diri.

Meningkatkan resiko depresi

Dampak ketiga dari overgeneralisasi pada kesehatan mental adalah mampu meningkatkan resiko depresi pada gen z. Seperti yang kita ketahui, depresi merupakan gangguan mental yang cukup serius, dan ditandai dengan perasaan sedih mendalam. Dalam banyak kasus, depresi bahkan menimbulkan pikiran untuk bunuh diri. Kebiasaan overgeneralisasi membuat seseorang merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol hidup, dan kehilangan harapan untuk masa depan. Pemikiran semacam itu jika terus berlanjut, maka akan memicu depresi.

Menghambat peluang untuk pengembangan diri

Dampak keempat dari overgeneralisasi pada kesehatan mental adalah mampu menghambat peluang untuk pengembangan diri. Hal semacam ini tentu akan sangat rugi jika dialami oleh para gen z. Bagaimana tidak, gen z saat ini seharusnya dalam usia yang produktif untuk mengembangkan diri. Jika gen z terbiasa dalam overgeneralisasi, tentu hal tersebut akan mengganggu proses perkembangan dirinya. Selain itu, mereka juga merasa untuk tidak mampu mencapai tujuan, dan menurunkan semangat untuk terus belajar.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai overgeneralisasi dan dampak terhadap kesehatan mental yang bisa dialami oleh para gen z. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi psikologis jika kamu memiliki kebiasaan overgeneralisasi. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan bertemu dengan para profesional di bidang kesehatan mental, untuk membenahi pola pikir tersebut. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Mengapa Gen Z Begitu Sulit Menghindari Prokrastinasi?

 

Sumber:

Beck, A. T. (1977). Cognitive therapy: A new approach to the treatment of depression. Guilford Press.

Burns, D. D. (1980). Feeling good: The new mood therapy. William Morrow Paperbacks.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

Ellis, A. (1962). Reason and emotion in psychotherapy. Lyle Stuart.

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : 
@logosindonesiaofficial
Logos Institute : 
@logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : 
@deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : 
@deepgrowindonesia
EduQuotient : 
@eduquotientofficial

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Gen Z dan Overgeneralisasi: Bagaimana Stereotip Mempengaruhi Kesehatan Mental — DeepTalk