Deeptalk.co.id – Banyak orang yang tanpa sadar menjadi korban manipulasi dari orang lain. Pasalnya, manipulator atau pelaku manipulasi ini memang sangat cerdik dalam membuat korbannya mengikuti apa yang mereka inginkan.
Manipulasi sendiri merupakan upaya untuk mengendalikan orang lain demi mendapatkan keuntungan pribadi. Dalam menjalankan aksinya, manipulator bahkan tidak ragu untuk merugikan korbannya. Namun karena kecerdikan mereka dalam mempengaruhi orang lain, korban justru kesulitan untuk lepas dari manipulator ini.
Jenis manipulasi sendiri cukup beragam. Dalam urusan asmara, jenis manipulasi yang cukup umum adalah gaslighting. Lantas, seperti apa gaslighting itu? Bagaimana peran manipulator dalam melakukan gaslighting? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Gaslighting

Seperti yang dipaparkan di awal, gaslighting merupakan salah satu jenis manipulasi emosional. Tepatnya, gaslighting merupakan upaya untuk memanipulasi psikologis seseorang sehingga membuat orang tersebut meragukan kemampuan, persepsi, ingatan, bahkan kewarasannya sendiri.
Istilah gaslighting sendiri berasal dari sebuah film berjudul Gas Light pada tahun 1938 dan 1944. Film tersebut menggambarkan seorang suami yang melakukan gaslighting terhadap istrinya. Dimana istri merasa gila akibat manipulasi yang didapatkan.
Dalam ilmu psikologi, pelaku gaslighting manipulasi dengan tujuan mengendalikan, mendominasi, menguasai, atau mengontrol orang lain melalui kebingungan yang diciptakan. Tanpa kita sadari, perilaku gaslighting sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun banyak dialami dalam hubungan asmara, namun tidak jarang juga terjadi dalam dunia kerja, keluarga, hingga pertemanan.
Baca juga: Mengenali Taktik Manipulasi: Bagaimana Psikologi Menjelaskan Pola Perilaku Manipulatif
Mekanisme Psikologis Gaslighting

Sekilas mungkin terdengar aneh, bagaimana bisa seseorang membuat orang lain meragukan keyakinannya sendiri. Untuk memahami hal tersebut, kita perlu tahu bahwa gaslighting bekerja melalui beberapa mekanisme psikologis, diantaranya:
- Disonansi kognitif, yaitu upaya gaslighting yang dilakukan pelaku dengan membuat korban mengalami konflik antara kenyataan dengan klaim manipulasi dari pelaku. Hal tersebut menimbulkan kebingungan bagi korban. Intinya dalam disonansi kognitif ini, korban kesulitan membedakan kenyataan sebenarnya dengan klaim manipulasi yang didapatkan.
- Internalisasi rasa bersalah, yaitu upaya gaslighting yang dilakukan pelaku dengan memanfaatkan rasa bersalah korban. Dalam hal ini pelaku akan melimpahkan segala kesalahan kepada korban, sehingga muncul self blame atau kebiasaan menyalahkan diri sendiri.
- Devaluasi identitas diri, yaitu upaya gaslighting yang dilakukan pelaku dengan merusak rasa percaya diri korban. Bisanya dengan meremehkan ingatan, emosi, atau persepsi korban. Hal ini berdampak pada penurunan rasa percaya diri korban, dan menjadi semakin terikat dengan pelaku.
- Kontrol emosional, yaitu upaya gaslighting yang dilakukan pelaku dengan membuat korban tidak stabil secara emosi, sehingga pelaku bisa lebih mudah mengendalikan korban untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Baca juga: Strategi Psikologis Mengelola Perilaku Posesif dalam Hubungan Interpersonal
Gaslighting dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pada awal artikel sudah dipaparkan juga bahwa perilaku gaslighting sebenarnya sangat dekat dengan kita. Dimana perilaku gaslighting dialami oleh siapa saja dan dalam konteks relasi seperti apapun. Berikut beberapa bentuk gaslighting dalam konteks relasi:
Gaslighting dalam hubungan romantis
Bisa dikatakan bahwa gaslighting cukup sering dijumpai dalam konteks hubungan romantis. Dalam hal ini, pelaku gaslighting akan mengontrol pasangannya dengan menyangkal realitas pasangan. Termasuk membuat pasangan meragukan kemampuannya agar terus bergantung secara emosional dengan pelaku.
Gaslighting dalam lingkungan keluarga
Tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis, gaslighting juga kerap kali ditemukan dalam lingkungan keluarga. Misalnya orang tua yang mengendalikan anak untuk mendisiplinkan anak atau mendominasi kehidupan anak.
Gaslighting dalam hubungan profesional
Tanpa kita sadari juga, perilaku gaslighting sering terjadi dalam konteks hubungan profesional. Baik itu antara atasan dan bawahan, atau antar rekan kerja. Misalnya atasan yang membuat bawahannya sendiri ragu akan kemampuan yang dimiliki demi mempertahankan posisi, dan membuat bawahan bekerja lebih banyak dari yang seharusnya.
Gaslighting dalam konteks sosial/politik
Konteks gaslighting yang satu ini sering dialami masyarakat, namun tidak sadar kalau sedang dalam pengaruh gaslighting, yaitu gaslighting dalam konteks sosial/politik. Misalnya orang-orang berpengaruh yang memanipulasi opini publik agar bisa mendatangkan keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai perilaku gaslighting yang merupakan bagian dari upaya manipulasi emosional. Perlu diingat bahwa hanya sebagian kecil pelaku gaslighting yang dengan sadar berupaya merubah perilakunya tersebut. Justru korban yang sering menemui profesional demi mengatasi trauma akibat perilaku gaslighting yang pernah dialami.
Jika kamu salah satu korban dari pelaku gaslighting, atau seorang pelaku gaslighting yang ingin berubah. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Perilaku Posesif dan Gangguan Kepribadian: Hubungan dengan Borderline, Narsistik, dan Dependen
Sumber:
Abramson, K., & Moran, K. (2018). Gaslighting: A marital syndrome. Philosophical Perspectives, 32(1), 1–30.
Dorpat, T. L. (1994). On the double whammy and gaslighting. Psychoanalysis & Psychotherapy, 11(1), 91–96.
Sarkis, S. (2018). Gaslighting: Recognize manipulative and emotionally abusive people—and break free. Da Capo Press.
Sweet, P. L. (2019). The sociology of gaslighting. American Sociological Review, 84(5), 851–875.
Vallone, A. (2020). Gaslighting in intimate partner violence: A psychological perspective. Journal of Aggression, Maltreatment & Trauma, 29(9), 1043–1059.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



