Deeptalk.co.id – Manipulasi emosional merupakan bentuk kekejaman yang seringkali tidak disadari. Meski demikian, dampak dari manipulasi emosional ini tidak kalah parah dari bentuk kekejaman fisik. Para pelaku manipulasi emosional justru merupakan orang-orang yang licik dan tidak berperasaan. Mereka bisa membuat korbannya melakukan apapun yang diinginkan. Walaupun tindakan itu melukai korbannya.
Manipulasi emosional adalah bentuk pengaruh yang bertujuan untuk mengendalikan atau mempengaruhi orang lain namun dengan cara yang tidak sehat. Pelaku manipulasi emosional sangat pintar menyembunyikan kejahatan mereka. Maka dari itu, penting bagi kita mengenali sekecil apapun tanda-tanda dari pelaku manipulasi emosional.
Manipulasi emosional sendiri memiliki banyak sekali bentuk. Untuk mengenal seperti apa sebenarnya manipulasi emosional itu, artikel kali ini akan secara khusus membahas bentuk-bentuk manipulasi emosional beserta contohnya.
Sebelum kita membahas topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu menjadi korban manipulasi emosional, cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Berikut bentuk-bentuk manipulasi emosional yang perlu kamu ketahui:
Gaslighting
Bentuk manipulasi emosional yang pertama, dan paling familiar adalah gaslighting. Saking populernya bentuk manipulasi emosional yang satu ini, gaslighting menjadi topik pembahasan di banyak sekali media. Gaslighting adalah bentuk manipulasi emosional dimana pelaku akan membuat korbannya meragukan realitas, bahkan pikiran maupun perasaan korban sendiri. Tidak jarang, pelaku gaslighting juga membuat korban meragukan kewarasan yang dimiliki.
Contoh gaslighting bisa berupa upaya pelaku untuk menyangkal kebenaran-kebenaran yang ada di kepala korban. Misalnya saat korban merasa pelaku sudah berselingkuh, pelaku akan berkata “itu hanya imajinasimu saja”, atau “kamu saja yang terlalu sensitif”. Perkataan-perkataan semacam itu membuat korban kembali mempertanyakan keyakinannya sebelumnya, walaupun korban sudah memiliki bukti yang jelas.
Silent Treatment
Bentuk manipulasi emosional yang kedua adalah silent treatment. Jenis manipulasi emosional yang satu ini sebenarnya sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam hubungan asmara, pertemanan, maupun antar rekan kerja. Meski demikian, masih banyak orang yang menganggap silent treatment adalah hal yang normal. Silent treatment adalah perilaku dimana pelaku dengan sengaja mendiamkan korbannya sebagai bentuk hukuman atau kontrol terhadap korban.
Contoh silent treatment bisa berupa upaya mendiamkan pasangan setelah melakukan kesalahan. Sekilas akan terdengar biasa saja. Namun, yang benar pelaku seharusnya memberikan penjelasan tentang kesalahan korban agar ada komunikasi sehat di dalamnya. Jika hanya mendiamkan sebagai bentuk hukuman, bisa saja korban tidak mengerti maksud dari pelaku, dan justru memperburuk hubungan.
Baca juga: Mengenali Manipulasi Emosional: Taktik Halus yang Menguras Mental
Playing the Victim
Bentuk manipulasi emosional yang ketiga adalah playing the victim. Bentuk manipulasi emosional ini sering kita jumpai pada hubungan-hubungan toxic. Playing the victim atau memainkan peran korban adalah perilaku dimana pelaku memainkan peran sebagai korban untuk mendapatkan simpati atau menghindari tanggung jawab.
Contoh playing the victim adalah saat seseorang memutar balikan keadaan dengan membuat seakan korbannya yang melakukan kejahatan terhadap dirinya. Misalnya, saat seseorang mengatakan “aku marah kepadamu karena kamu telah menyakiti ku terlebih dahulu” kepada pasangannya. Perkataan semacam itu seolah-olah membuat korban adalah pelaku, dan pelaku adalah korban.
Guilt Tripping
Bentuk manipulasi emosional yang keempat adalah guilt tripping atau memanipulasi rasa bersalah, adalah bentuk manipulasi dimana pelaku membuat korban merasa bersalah. Tujuan utama dari guilt tripping adalah agar korban mau melakukan sesuatu yang tidak ingin korban lakukan, atau dalam kata lain mulai untuk mengendalikan korban.
Contoh perkataan yang sering dilontarkan oleh pelaku guilt tripping adalah “setelah semua yang kulakukan untukmu, kamu masih tidak bisa membantuku untuk kali ini saja?” Perkataan semacam itu membuat seakan-akan pelaku sudah mengorbankan banyak hal untuk korban, dan korban harus membalas budi dengan melakukan apa yang pelaku inginkan. Walaupun sebenarnya korban tidak ingin mengikuti apa kata pelaku.
Love Bombing
Bentuk manipulasi emosional yang kelima adalah love bombing. Jenis manipulasi yang satu ini memang sering dijumpai dalam hubungan-hubungan romantis. Love bombing adalah perilaku dimana pelaku akan membanjiri cinta, perhatian, dan kasih sayang yang besar dan sangat intens kepada korbannya. Saat korban sudah bergantung pada pelaku, barulah pelaku mulai mengeluarkan sifat aslinya. Pelaku bahkan tidak ragu melakukan kekerasan fisik maupun mental kepada korban. Saat korban sudah mulai sadar, pelaku akan mulai mengancam korban dengan banyak hal. Ancaman yang paling sering adalah penyebaran informasi pribadi, atau video/foto sensitif korban.
Projection
Bentuk manipulasi emosional yang keenam adalah projection. Jenis manipulasi yang satu ini merupakan tindakan dimana seseorang menuduh orang lain melakukan kesalahan yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Misalnya pelaku menuduh korban mencuri barang, padahal pelaku pencurian adalah pelaku itu sendiri.
Itu dia beberapa bentuk dari manipulasi emosional. Sebenarnya masih banyak lagi bentuk manipulasi emosional lainnya. Maka dari itu, penting bagi kita untuk lebih peka dan memahami seberapa baik atau buruk orang lain memperlakukan diri kita.
Perlu diketahui bahwa dampak terbesar dari manipulasi emosional dirasakan oleh korban. Jika kamu salah satu korban manipulasi emosional. Kamu bisa mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Peran Terapi Perilaku Kognitif dalam Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi
Sumber:
Forward, Susan. Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You. HarperCollins, 1997.
Sarkis, Stephanie. Gaslighting: Recognize Manipulative and Emotionally Abusive People—and Break Free. Da Capo Lifelong Books, 2018.
Stines, Shannon Thomas. Healing from Hidden Abuse: A Journey Through the Stages of Recovery from Psychological Abuse. MAST Publishing House, 2016.
Braiker, Harriet B. Who's Pulling Your Strings? How to Break the Cycle of Manipulation and Regain Control of Your Life. McGraw-Hill, 2003.
Simon, George K. In Sheep’s Clothing: Understanding and Dealing with Manipulative People. Parkhurst Brothers, 2010.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



