Deeptalk.co.id – Kamu tentu sudah tidak asing lagi dengan gangguan fobia. Gangguan fobia merupakan bagian dari gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan adanya rasa takut berlebih terhadap suatu hal. Uniknya bagi penderita gangguan fobia, apa yang menjadi rasa takut terbesarnya bisa jadi hal-hal yang tidak berbahaya atau mengancam dirinya.
Artikel ini akan membahas salah satu bagian dari gangguan fobia yang dikenal dengan nama fonofobia. Namun sebelum membahas lebih jauh mengenai gangguan yang satu ini. Perlu diketahui bahwa artikel ini tidak bisa digunakan sebagai bahan self diagnosis. Jika pembaca menemukan kondisi yang sama dalam artikel ini, silahkan berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Pengertian Gangguan Fonofobia

Salah satu bagian dari gangguan fobia adalah gangguan fonofobia. Fonofobia sendiri masuk dalam kategori fobia spesifik. Selain dikenal dengan istilha fonofobia, gangguan ini juga dikenal dengan istilah ligyrofobia dan sonofobia.
Istilah fonofobia sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu phōnē yang artinya suaran, dan phobos yang artinya takut. Dengan demikian dapat diartikan bahwa gangguan fonofobia merupakan bagian dari fobia spesifik yang ditandai dengan adanya perasaan takut berlebih terhadap suara-suara tertentu. Suara tersebut umumnya akan memicu perasaan negatif.
Penderita gangguan fonofobia umumnya akan memiliki pendengaran yang sangat sensitif. Hal ini membuat mereka akan terganggu bahkan dengan suara-suara kecil. Penderita gangguan fonofobia juga akan merasa takut jika tiba-tiba mendengar suara yang sangat keras. Hal ini membuat penderita dengan gangguan fonofobia cenderung menonton televisi, bermain komputer, menyetel radio, dan sebagainya dengan volume suara yang rendah.
Karena pendengaran yang terlalu sensitif ini, penderita fonofobia cenderung menghindari kondisi atau tempat-tempat yang ramai dengan berbagai suara. Misalnya menghindari taman bermain, bioskop, konser musik, atau parade dan festival.
Gangguan fonofobia umumnya dialami anak kecil. Meski demikian, gangguan ini juga dapat diderita oleh orang dewasa. Anak kecil akan lebih rentan dengan gangguan fonofobia karena mereka memiliki tingkatan rasa takut yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa.
Kondisi fonofobia akan sangat mengganggu penderitanya. Pasalnya, mereka akan merasa terganggu bahkan tersiksa jika berada di tempat-tempat dengan suara yang kencang seperti berada disebuah pesta atau acara dengan suara kencang. Selain itu, suara-suara yang diakibatkan oleh kembang api, klakson, atau suara-suara yang muncul dengan tiba-tiba semacam itu bisa menimbulkan serangan panik bagi penderita gangguan fonofobia. Selain itu, penderita gangguan fonofobia juga akan mengalami kesulitan untuk memahami kode-kode melalui suara, misalnya kode morse, sirine ambulan, dan sejenisnya.
Penyebab Gangguan Fonofobia

Hingga saat ini, belum diketahui dengan jelas apa penyebab pasti dari gangguan fonofobia. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dipercaya dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan fonofobia, yaitu:
Genetik
Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan kecemasan, tipe fobia lainnya, atau gangguan fonofobia itu sendiri, akan beresiko lebih besar mengalami gangguan fonofobia.
Pengalaman traumatik
Selain faktor genetik, adanya pengalaman traumatik yang berhubungan dengan suara keras juga akan meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan fonofobia. Pengalaman traumatik tersebut bisa berupa menyaksikan seseorang meninggal akibat petir yang menimbulkan suara guntur.
Kondisi medis
Beberapa kondisi medis juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan fonofobia. Misalnya pada penderita sakit kepala migrain, kleine-levin syndrome atau hipersomnia, cedera traumatis pada otak, dan lain sebagainya.
Baca juga: Mood Disorder: Mengenal Macam-Macam Gangguan Bipolar
Gejala Gangguan Fonofobia

Gejala utama yang ditunjukkan oleh penderita gangguan fonofobia adalah adanya rasa takut berlebih terhadap suara-suara tertentu. Selain itu, penderita gangguan fonofobia juga menunjukkan beberapa gejala fisik dan psikologis seperti berikut:
Gejala fisik
Penderita gangguan fonofobia yang berhadapan dengan faktor pemicu fobianya cenderung akan mengalami jantung berdetak lebih cepat, keringat berlebih, kesulitan bernafas, nyeri pada dada, pusing, mual, perubahan suasana hati, hingga kehilangan kesadaran.
Gejala psikologis
Sedangkan gejala psikologis yang ditunjukkan oleh penderita gangguan fonofobia bisa berupa adanya perasaan takut dan cemas berlebih saat mendengar suara-suara tertentu. Selain itu, penderita gangguan fonofobia juga cenderung menghindar dari lokasi-lokasi dengan suara bising dan mengganggu.
Gejala gangguan fonofobia pada anak dan orang dewasa umumnya memiliki gejala yang sama. Meski demikian, gangguan fonofobia pada anak bisa jadi membuat anak lebih merasa takut dan tertekan dibandingkan dengan orang dewasa.
Respon seperti menutup telinga atau bersembunyi di dalam lemari saat mendengar suara mengganggu juga akan lebih sering dilakukan oleh anak-anak. Meski demikian, rasa takut terhadap suara pada anak bisa saja tidak diakibatkan oleh gangguan fonofobia, melainkan gangguan lain seperti hiperakusis dan sejenisnya.
Maka dari itu, diperlukan diagnosis oleh Psikolog atau Psikiater untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Selain itu, diagnosis yang tepat akan membantu Psikolog atau Psikiater untuk menentukan penanganan yang tepat pada penderita gangguan fonofobia.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Mengenal Ciri-Ciri dan Penyebab Gangguan Disgrafia



