Deeptalk.co.id – Perkembangan teknologi secara tidak langsung melahirkan ancaman-ancaman baru bagi manusia. Walaupun, perkembangan teknologi sendiri bertujuan untuk meringankan pekerjaan manusia.
Gen z adalah generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi yang sangat pesat ini. Banyak sekali keuntungan yang didapatkan oleh gen z. Salah satunya mendapatkan kemudahan dalam mengakses informasi. Namun disisi lain, kemudahan mengakses informasi ini juga berarti informasi pribadi bisa dengan mudah diakses oleh orang lain. Tentu hal tersebut merupakan ancaman besar.
Tidak hanya mudah mengakses informasi, gen z juga bisa berinteraksi dengan banyak orang di belahan dunia lain. Namun disisi lain, akan mudah juga pelaku kejahatan untuk berinteraksi dengan korbannya. Maka dari itu, perkembangan teknologi ini bisa saja menjadi anugrah, namun juga bisa menjadi ancaman.
Saat ini gen z sudah mulai memasuki usia remaja dan dewasa. Artinya, beberapa dari mereka sudah mulai menjalin hubungan asmara. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai pada fase ini adalah kemungkinan gen z menjadi korban love bombing menjadi sangat besar karena kemudahan teknologi yang ada. Maka dari itu, artikel kali ini akan secara khusus memberikan edukasi terkait love bombing di era digital yang menjadi ancaman para gen z.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu menjadi korban love bombing dan kesulitan untuk keluar dari hubungan tersebut. Jangan ragu untuk mengunjungi psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pertolongan yang tepat.
Love Bombing di Era Digital

Istilah love bombing pada dasarnya sudah ada sejak jaman dahulu. Meski demikian, awalnya love bombing tidak merujuk pada hubungan asmara. Melainkan cara sebuah sekte keagamaan untuk menarik pengikutnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, love bombing justru menjadi cara para pasangan toxic untuk mendapatkan dan mengekang pasangannya.
Love bombing sendiri merupakan bentuk dari manipulasi emosional. Dimana pelaku akan mendekati korbannya dengan memberikan cinta, perhatian, pujian, dan kasih sayang yang berlebihan. Namun, tujuan dari pelaku adalah untuk memberikan pengaruh dan mengendalikan korbannya.
Fenomena love bombing menjadi semakin merajalela karena kemudahan teknologi yang ada pada saat ini. Pelaku bisa dengan mudah mengakses informasi pribadi korbannya, ancaman penyebaran informasi pribadi yang hampir mustahil dihentikan penyebarannya, dan juga memanfaatkan aplikasi pesan singkat dan sosial media.
Berikut beberapa faktor yang bisa memperparah love bombing di era digital ini:
Always online culture
Faktor pertama adalah always online culture atau kebiasaan saat ini dimana online merupakan kewajiban yang tidak bisa dihindari. Kebiasaan yang satu ini membuat para gen z merasa penting untuk membalas pesan dengan cepat dan berkomunikasi jangka panjang bahkan dengan orang yang baru saja dikenalnya. Kondisi semacam itu tentu akan memudahkan para pelaku love bombing untuk mendapatkan korbannya.
Overexposure via social media
Faktor kedua adalah overexposure via social media, yaitu kebiasaan anak muda jaman sekarang untuk mengekspos segala sesuatu tanpa pikir panjang di sosial media. Bahkan tidak sedikit yang tanpa ragu mengekspos informasi pribadinya, seperti tempat tinggal, nomor telepon, dan lain sebagainya. Hal tersebut memudahkan pelaku love bombing untuk menggali informasi korban yang nantinya akan digunakan sebagai bahan manipulasinya.
Aplikasi kencan
Faktor ketiga adalah merajalelanya aplikasi kencan dan penggunaan dari aplikasi tersebut. Pada awalnya aplikasi semacam ini memang akan memudahkan orang-orang untuk mendapatkan pasangan. Namun perlu diingat bahwa tidak semua orang dalam aplikasi tersebut memiliki niat baik. Siapa yang tahu kalau salah satu atau beberapa penggunanya justru merupakan pelaku love bombing yang sedang mencari korban.
Baca juga: Love Bombing: Ketika Cinta Terlalu Manis di Awal Bisa Berujung Toxic
Mengapa Gen Z Rentan Menjadi Korban Love Bombing?

Pada dasarnya siapa saja bisa menjadi korban maupun pelaku dari love bombing. Bahkan, kemunculan love bombing yang sudah ada sejak lama membuat kondisi tersebut tidak hanya bisa dialami oleh gen z saja. Namun perlu diketahui bahwa untuk saat ini sasaran empuk bagi para pelaku love bombing adalah mereka para gen z, mengapa demikian?
Usia dan pengalaman emosional
Untuk saat ini gen z masih dalam usia yang sudah mulai dewasa, namun cenderung belum matang secara emosional dan pengalaman. Kebanyakan dari mereka baru mulai menjalin hubungan romantis, yang artinya mereka belum memiliki banyak pengalaman dalam hal tersebut. Kurangnya pengalaman inilah yang bisa menjadi cela bagi para pelaku love bombing untuk masuk dalam kehidupan gen z.
Kebutuhan validasi digital
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang tidak begitu peduli dengan sosial media. Mayoritas gen z justru sangat terikat dengan hal-hal digital seperti sosial media. Banyak diantara mereka yang juga haus akan validasi digital, seperti mendapatkan banyak likes, komentar, dan pesan romantis di sosial media. hal semacam inilah yang tentu sering dimanfaatkan oleh pelaku love bombing.
Paparan terhadap hubungan yang tidak sehat
Gen z tumbuh di era digital yang membuat mereka terpapar oleh banyak hal. Salah satunya paparan konten-konten hubungan yang tidak sehat. Paparan tersebut bisa dari film, lagu, atau influencer yang membagikan kisahnya di media sosial. Hal ini membuat gambaran cinta tidak lagi sebagaimana mestinya. Melainkan menormalisasikan bentuk cinta yang posesif dan toxic sebagaimana yang ditawarkan oleh pelaku love bombing.
Itu dia penjelasan singkat terkait love bombing. Jika kamu menjadi korban love bombing dan ingin bebas dari trauma yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog yang ada disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Self-Compassion: Kunci Kesehatan Mental bagi Generasi Z di Tengah Tekanan Hidup
Sumber:
Hassan, S. (2016). Combating Cult Mind Control. Freedom of Mind Press.
Campbell, W. K., & Foster, C. A. (2002). Narcissism and commitment in romantic relationships: An investment model analysis. Personality and Social Psychology Bulletin, 28(4), 484-495.
American Psychological Association (APA). (2020). Technology and Mental Health in the Digital Age. APA Monitor on Psychology.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



