Semua artikel
Relationship

Fearful-Avoidant Attachment Style : Tanda-Tanda dan Awal Mulanya

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Pada setiap hubungan manusia, ada pola yang kompleks dan unik dalam cara kita berinteraksi dengan orang lain. Salah satu pola yang muncul adalah fearful-avoidant attachment style, atau pola penjalinan emosional yang ditandai oleh perasaan takut dan menghindar terhadap kedekatan emosional.

Seseorang dengan fearful-avoidant attachment style cenderung merasa terombang-ambing antara keinginan untuk memiliki hubungan yang intim dan takut akan kemungkinan terluka atau ditolak. Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan lebih lanjut tentang tanda-tanda yang menandai fearful-avoidant attachment style, seperti ketidaknyamanan dalam menyatakan perasaan, sulitnya mempercayai orang lain, dan kecenderungan untuk menjaga jarak emosional.

Selain itu, kita juga akan menjelaskan beberapa faktor yang mungkin menyebabkan seseorang mengembangkan fearful-avoidant attachment style, seperti pengalaman masa kecil yang traumatis atau pola penjalinan yang tidak sehat di masa lalu. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang tanda-tanda dan faktor penyebab fearful-avoidant attachment style, diharapkan kita dapat lebih memahami diri sendiri atau orang lain yang mungkin mengalami pola penjalinan ini dan mencari jalan untuk memperbaiki kualitas hubungan yang lebih sehat.

Seperti Apa Fearful-Avoidant Attachment Style Ini?

Dalam beberapa hal, fearful-avoidant attachment style seperti perpaduan antara dua gaya keterikatan tidak aman lainnya. Mungkin Anda akan merasa bingung akan bagaimana seseorang dapat memadukan dua attachment style yang sebenarnya tampak berlawanan tersebut.

Berikut adalah beberapa tanda spesifik ketika seseorang memiliki fearful-avoidant attachment style ini, diantaranya ialah :

Pandangan rendah baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Pemikat yang cemas biasanya memandang dirinya rendah dan pemeluk yang meremehkan biasanya memiliki gagasan yang rendah tentang orang lain. Sehingga orang yang memiliki keterikatan menghindar-ketakutan ini menjadi yang mengalami hal terburuk kedua di dunia ini.

Keinginan untuk memenuhi kebutuhan emosional dalam suatu hubungan. 

Fearful-avoidant menyadari bahwa tingkat ketergantungan yang sehat pada orang lain adalah hal yang baik bagi dirinya dalam suatu hubungan. Sehingga mereka juga masih memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya dalam suatu hubungan.

Menghindari hubungan karena tidak ingin terluka. 

Meskipun mereka menginginkan hubungan yang aman dan sehat, pendapat mereka yang rendah akan dirinya sendiri dan orang lain justru membuatnya percaya bahwa hubungan yang aman itu mungkin. Mereka juga yakin bahwa mereka tidak layak mendapatkan cinta dari orang lain dan pasangan mana pun karena pada akhirnya akan meninggalkan dan menyakiti mereka. Oleh karenanya, mereka sangat takut akan hal yang mereka inginkan. Namun mereka tidak memiliki strategi terorganisir untuk memenuhi kebutuhan mereka oleh orang lain.

Keengganan yang kuat diikuti oleh kecemasan yang kuat.

Meskipun setiap orang bisa memiliki rasa takut dan tentunya berbeda satu sama lain, ada pola hubungan yang tidak biasa bagi mereka pemilik fearful-avoidant attachment style sebagai sebuah kelompok. Mereka sangat ragu untuk memulai hubungan resmi. Mereka mungkin ingin memperpanjang tahap awal “bulan madu” dari suatu hubungan tanpa batas waktu dan tanpa melabelinya untuk meminimalkan kemungkinan patah hati di masa depan.

Namun ketika pasangan mereka meyakinkan untuk memulai hubungan resmi, mereka akan masuk ke mode keterikatan cemas. Mereka mungkin menjadi “melekat” atau tidak percaya karena kekhawatiran mereka tentang patah hati akhirnya tidak hilang begitu saja. Pada dasarnya, mereka menampilkan karakteristik dari keterikatan yang cemas dan meremehkan, dan mungkin bertahan di satu musim dan melarikan diri di musim lain.

Menolak untuk berbagi perasaan terdalam mereka.

Pemilik fearful-avoidant attachment style percaya bahwa dengan mengungkapkan diri mereka yang sebenarnya, akan membuat pasangannya tidak mencintai mereka lagi. Sehingga ketika bersama pasangannya, mereka hanya menampilkan sisi terluarnya dan enggan untuk membagikan perasaan terdalamnya.

Tidak ingin untuk mengakhiri hubungan.

Mereka yakin tidak akan menemukan seseorang yang mencintai mereka lagi. Pun jika orang yang terikat dengan rasa takut benar-benar membiarkan diri mereka terlibat dalam suatu hubungan, maka mereka akan sering tetap berada di dalamnya bahkan jika mereka tidak benar-benar bahagia. Inilah yang memudahkan para pemilik fearful-avoidant attachment style mudah terjebak pada toxic relationship.

Baca juga: Semakin Lanjut Usia Kian Rentan Terhadap Gangguan Mental, Benarkah?

Bagaimana Seseorang Bisa Memiliki Fearful-Avoidant Attachment Style?

Para ahli percaya bahwa banyak perilaku yang berbeda dari orang tua atau pengasuh si anak yang dapat menyebabkan anak-anak mengembangkan gaya keterikatan mereka, termasuk fearful-avoidant attachment style yang bisa terbawa hingga dewasa.

Para ahli menjelaskan bahwa keterikatan yang menakutkan ini sering kali memiliki setidaknya satu pengasuh yang menunjukkan perilaku orang tua yang menakutkan. Dengan kata lain, ketika si anak mengalami kesusahan atau ketakutan pada apa pun, reaksi yang mereka terima dari pengaruhnya justru tidak membantunya. Fakta lainnya, pengasuh mereka juga bahkan mungkin bisa menjadi sumber rasa sakit, kecemasan atau ketakutan yang dimiliki anak.

Ini mungkin termasuk apa saja, mulai dari pelecehan langsung baik fisik atau lainnya, hingga permusuhan yang lebih ringan atau lebih halus. Sedangkan perilaku orang yang menakutkan yang tidak disengaja ini seperti pengasuh yang menghadapi gangguan mental parah, yang dapat menyebabkan anak mengembangkan fearful-avoidant attachment style.

Pengasuh dengan penyakit mental mungkin tidak berusaha membuat anak mereka cemas dan mungkin sangat sedih mengetahui bahwa kondisi mereka menciptakan efek ini. Namun, anak tersebut masih belum dapat memahami perilaku pengasuh tersebut, dan karenanya mereka menjadi merasa cemas.

Baca juga: Hati-Hati Salah Pilih, Ini Dia Tips Memilih Teman Curhat

 

Sumber:

Martinez, E. (2021, July 6). Fearful Avoidant Attachment in Adults. Top Rated Miami Psychologists & Therapists. https://www.envisionwellness.co/fearful-avoidant-attachment-in-adults/

Evans, O. G. (2023, June 19). Fearful Avoidant Attachment Style: Signs & How To Cope. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/fearful-avoidant-attachment.html

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Fearful-Avoidant Attachment Style : Tanda-Tanda dan Awal Mulanya — DeepTalk