Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah mendengar anak terus menerus mengulangi kata yang diungkapkan oleh orang dewasa? Tentu saja kondisi ini merupakan kondisi yang cukup umum terjadi di dunia anak-anak.
Anak akan mempelajari banyak hal dari orang dewasa, termasuk dalam mengenal kata. Anak memang memiliki kecenderungan untuk mengulangi kata-kata orang dewasa. Hal ini juga dilakukan untuk mengajarkan anak dan memberikan lebih banyak kosa kata untuk anak. Sayangnya, hal ini akan menjadi wajar jika anak berusia di bawah 3 tahun.
Anak yang sering mengulang kata biasa disebut dengan istilah ekolalia. Ekolalia atau echolalia memang kondisi yang umum, namun hal tersebut tidak bisa dibiarkan jika anak sudah memasuki usia 3 tahun keatas. Jika ekolalia terus berlangsung, bisa jadi itu pertanda anak mengalami gangguan medis tertentu.
Ekolalia merupakan salah satu gejala yang ditunjukkan pada anak dengan gangguan autisme atau gangguan keterlambatan perkembangan. Khususnya pada perkembangan kemampuan bicara anak. Beberapa penelitian menyatakan bahwa ekolalia merupakan salah satu cara yang normal bagi anak dengan gangguan autisme untuk mematangkan kemampuan kognitif dan bahasanya.
Selain menjadi gejala pada gangguan autisme, ekolalia yang terjadi pada anak dan orang dewasa juga bisa menjadi pertanda adanya gangguan saraf atau cacat perkembangan tertentu. Gangguan saraf ini membuat penderita ekolalia mendengar suara yang bergema.
Untuk itu, jika ekolalia terus berlangsung di atas usia 3 tahun, sebaiknya orang tua mengkonsultasikan kondisi tersebut kepada psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Jenis-Jenis Ekolalia Pada Anak

Ekolalia sendiri terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:
Immediate echolalia (ekolalia langsung)
Penderita jenis ekolalia langsung akan mengulangi kalimat yang baru didengarkan. Contohnya, Ibu yang mengatakan “ayo makan” akan diulangi secara langsung oleh anak. Namun, pada penderita autisme, immediate echolalia merupakan cara mereka menyampaikan ke orang lain bahwa dia sedang mencerna informasi tersebut.
Delayed echolalia (ekolalia tertunda)
Berbeda dengan immediate echolalia, pada penderita delayed echolalia tidak mengulangi kata atau kalimat yang didengarkan secara langsung. Mereka akan memberikan jeda beberapa menit atau bahkan beberapa tahun untuk mengulang kata atau kalimat tersebut. Kata atau kalimat itu juga bisa diungkapkan dimana saja dan kapan saja.
Gejala Ekolalia Pada Anak

Gejala utama dari ekolalia sudah pasti pengulangan kata atau suara yang mereka dengarkan. Baik itu secara langsung atau tertunda beberapa saat. Sedangkan gejala ekolalia lainnya bisa berupa:
Nada suara yang khusus
Anak dengan ekolalia memiliki nada suara yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Mereka bisa saja mengulang suara dengan ada yang kaku seperti robot, atau dengan lantunan seperti sedang bernyanyi.
Mengganggu interaksi
Penderita ekolalia sebenarnya tidak bermaksud untuk merusak suasana interaksi yang ada. Meski demikian, mereka terkadang cenderung terlalu pasif atau bahkan terlalu agresif sehingga sering dianggap mengganggu interaksi.
Menghindari kontak mata
Penderita ekolalia juga terkadang tidak melakukan kontak mata dan juga cenderung tidak menunjukkan ekspresi yang tepat saat sedang berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, mereka juga sering kali tidak memahami ekspresi wajah dan postur tubuh orang lain.
Tidak memberikan respon
Penderita ekolalia umumnya hanya akan mengulangi kata atau kalimat yang mereka dengarkan, tanpa memberikan respon terhadap kata atau kalimat tersebut.
Gejala yang ditunjukkan setiap penderita bisa jadi berbeda-beda. Jika beberapa gejala di atas timbul pada anak di atas usia 3 tahun atau pada orang dewasa, sebaiknya segera dikonsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan lebih lanjut.
Baca juga: Mood Disorder: Mengenal Gangguan Depresi Mayor
Dampak Ekolalia Pada Anak

Seperti yang sudah dituliskan di atas, ekolalia bisa berdampak sebagai salah satu ciri-ciri dari gangguan medis. Gangguan yang umum ditemukan adalah pada penderita autisme. Namun, selain autisme, ekolalia juga dapat menjadi pertanda berbagai gangguan lainnya, seperti:
Afasia, yang merupakan gangguan komunikasi akibat kerusakan pada otak.
Penyakit autoimun, yang merupakan kondisi dimana sel-sel yang seharusnya melindungi tubuh justru mengganggu sistem kekebalan tubuh.
Demensia, yang merupakan kondisi menurunnya kemampuan berpikir atau daya ingat seseorang.
Sindrom tourette, yang merupakan kondisi dimana seseorang mengalami tic atau pengulangan pada gerakan atau ucapan yang tidak terkendali.
Disabilitas intelektual, yang merupakan keterlambatan atau hambatan dalam perkembangan seluruh tingkat intelegensi.
Keterlambatan bicara, yang merupakan kondisi dimana anak mengalami keterlambatan perkembangan, khususnya pada kemampuan bicara dan bahasanya.
Penanganan Ekolalia Pada Anak

Selain beberapa gangguan di atas, masih banyak lagi gangguan kondisi medis yang ditandai dengan kondisi ekolalia. Untuk itu, penting bagi orang tua untuk mengkonsultasikan kondisi ekolalia yang terjadi pada anak usia 3 tahun ke atas.
Orang tua bisa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Psikolog umumnya akan memberikan terapi psikologis berupa terapi wicara kepada anak. Sedangkan psikiater akan meresepkan obat-obatan untuk mengurangi gejala yang muncul. Selain itu, orang tua juga akan diberikan penjelasan mengenai cara melakukan perawatan di rumah.
Semoga artikel ini dapat membantu.
Baca juga: Ailurofobia: Ketakutan Berlebih Terhadap Kucing



