Semua artikel
Gangguan Psikologi

Eating Disorder: Mengenal Gangguan Anorexia Nervosa

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Cukup banyak di masyarakat yang memandang bentuk tubuh kurus merupakan standar kecantikan. Model, artis, bahkan murid populer di sekolah umumnya memiliki bentuk tubuh yang kurus. Tidak jarang kita melihat seseorang dengan bentuk tubuh yang berisi dipandang sebelah mata oleh cukup banyak orang.

Pandangan yang beredar di masyarakat inilah yang membuat seseorang mendambakan bentuk tubuh ideal sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh banyak orang. Umumnya para gadis akan melakukan apapun untuk mendapatkan bentuk tubuh ideal. Hal ini membuat mereka melakukan diet ketat yang akhirnya mengganggu kesehatan fisik dan juga mental.

Rasa takut memiliki berat badan berlebih tidak jarang menimbulkan beberapa gangguan mental. Salah satu gangguan mental yang dapat dialami adalah anorexia nervosa yang merupakan bagian dari eating disorder atau gangguan makan. Untuk memahami lebih dalam, artikel ini akan memberikan penjelasan mengenai anorexia nervosa.

Apa Itu Anorexia Nervosa?

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, anorexia nervosa merupakan bagian dari eating disorder yang ditandai dengan adanya obsesi untuk mendapatkan bentuk tubuh yang kurus, perasaan takut berlebih akan kenaikkan berat badan, dan adanya persepsi yang salah mengenai berat badan.

Tidak jarang penderita anorexia nervosa mengeluarkan kembali makanan yang telah dikonsumsi dengan memuntahkan secara paksa atau mengkonsumsi obat pencahar. Walaupun tindakan ini mirip dengan penderita bulimia nervosa, namun penderita anorexia nervosa melakukan hal tersebut karena rasa takut akan kenaikkan berat badan. Sedangkan penderita bulimia nervosa melakukannya karena perasaan bersalah setelah makan dalam jumlah yang banyak.

Penderita anorexia nervosa umumnya akan makan dengan porsi sedikit walaupun telah memiliki berat badan di bawah rata-rata berat badan normal pada umumnya. Hal ini membuat mereka terlihat sangat kurus. Meski demikian, mereka tetap terobsesi untuk terus menurunkan berat badan mereka.

Penyebab Anorexia Nervosa

Penyebab dari gangguan anorexia nervosa belum diketahui secara pasti hingga saat ini, namun para ahli sepakat bahwa terdapat 3 faktor utama yang dapat meningkatkan seseorang menderita anorexia nervosa, yaitu faktor biologis, faktor psikologis, dan faktor sosial.

Dari faktor biologis belum bisa dipastikan apakah orang tua dengan anorexia nervosa akan menurunkan gangguan tersebut kepada anak dan keturunannya atau tidak. Namun, beberapa penelitian menemukan adanya gangguan mekanisme otak yang mengatur kesenangan dan selerah makan yang membuat orang depresi dan mempengaruhi nafsu makan orang tersebut.

Berdasarkan faktor psikologis, penderita anorexia nervosa umumnya kurang menghargai diri sendiri. Selain itu juga terdapat hubungan pengaruh bullying dengan penderita anorexia nervosa.

Sedangkan pada faktor sosial bisa berasal dari pengaruh keluarga, atau standar kecantikkan yang telah ditetapkan oleh masyarakat. Anak yang tinggal dengan keluarga yang kurang memberikan perhatian akan menimbulkan stress pada anak, dan dapat meningkatkan kemungkinan anak mengalami anorexia nervosa.

Baca juga: Mengenal Gejala dan Jenis-Jenis Gangguan Makan 

Gejala Anorexia Nervosa

Seorang penderita anorexia nervosa umumnya memiliki gejala berupa cenderung menggolong-golongkan makanan yang baik dan kurang baik bagi tubuh mereka. Hal ini tentu disesuaikan dengan makanan mana yang kira-kira akan menambah berat badan secara drastis dan tidak.

Mereka juga cenderung menghindari kegiatan atau pertemuan yang menyajikan makanan, selalu memikirkan berat badan dan kalori, mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis, rasa takut berlebih akan kenaikkan berat badan, mudah lelah, dan mudah menangis atau merasa sedih.

Dampak Anorexia Nervosa

Cukup banyak dampak yang muncul akibat seseorang mengalami anorexia nervosa. Dampak yang paling terlihat adalah membatasi asupan makan yang berlebihan sehingga sering kali membuat penderita memiliki berat badan jauh di bawah rata-rata berat badan ideal. Hal ini akhirnya membuat penderita mengalami kekurangan gizi, mudah merasa lelah, dan mudah terjangkit berbagai macam penyakit.

Penderita anorexia nervosa juga bisa mengalami gangguan pada jaringan endokrin yang menyebabkan kurangnya tiga periode menstruasi berturut-turut pada menstruasi pertama yang merupakan tanda awal seseorang memasuki fase remaja. Selain itu, menurunnya massa otot, depresi, hingga menurunnya densitas tulang yang meningkatnya kelainan mineral tulang pada wanita dapat dialami oleh penderita anorexia nervosa.

Sebuah penelitian menyatakan bahwa wanita yang menderita anorexia nervosa memiliki resiko lebih besar mengalami kehamilan yang tidak normal atau bahkan melahirkan bayi prematur. Dengan demikian, pengidap anorexia nervosa sudah sepantasnya mendapatkan penangan yang tepat.

Jika kamu atau orang sekitar mu memiliki gejala anorexia nervosa, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan diagnosis yang penanganan yang tepat. Mendapatkan penanganan sedini mungkin akan membantu penderita pulih lebih cepat. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

 

Sumber :

Melani, S. A., Hasanuddin, H., & Siregar, N. S. S. (2021). Hubungan kepercayaan diri dengan gangguan makan anorexia nervosa pada remaja di SMAN 4 Kota Langsa. Jurnal SAGO Gizi dan Kesehatan, 2(2), 170-177.

Nasution, S. W., Hasibuan, N. A., & Ramadhani, P. (2017). Sistem Pakar Diagnosa Anoreksia Nervosa Menerapkan Metode Case Based Reasoning. KOMIK (Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komputer), 1(1).

Azzahara, N. F., & Dhanny, D. R. (2021). Hubungan Psikososial dan Status Gizi pada Remaja Wanita dengan Anoreksia Nervosa. Muhammadiyah Journal of Midwifery, 2(1), 1-9.

Baca juga: Kenali Gangguan Mental yang Dapat Terjadi Pada Anak dan Remaja

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Eating Disorder: Mengenal Gangguan Anorexia Nervosa — DeepTalk