Deeptalk.co.id – Apakah kamu tahu tentang DSM V? DSM atau Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders adalah panduan resmi yang digunakan oleh para profesional kesehatan mental untuk membuat diagnosis terhadap gangguan mental. DSM V merupakan revisi terbaru yang dirilis pada tahun 2013 oleh American Psychiatric Association (APA). Namun, seperti kebanyakan revisi, DSM V juga tidak luput dari kritikan dan kontroversi. Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Apa Itu DSM V?

Sebelum membahas kritikan dan kontroversi yang ada di sekitar DSM V, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tentang apa itu DSM V. DSM V adalah panduan resmi untuk diagnosis gangguan mental yang disusun oleh American Psychiatric Association (APA). Buku ini memberikan kriteria untuk diagnosis dan deskripsi gangguan mental, serta memberikan panduan dalam pengobatan dan penelitian di bidang psikiatri.
Kritikan Terhadap DSM V

Meskipun DSM V adalah panduan resmi untuk diagnosis gangguan mental, buku ini tidak terlepas dari kritikan yang ada. Beberapa kritikan tersebut adalah sebagai berikut:
Over-Diagnosis
Salah satu kritikan terhadap DSM V adalah bahwa buku ini memperluas kategori diagnosis gangguan mental yang dapat menyebabkan terjadinya over-diagnosis. Beberapa ahli kesehatan mental khawatir bahwa ini dapat mengarah pada terlalu banyak orang yang diklasifikasikan sebagai “menderita” gangguan mental dan menerima pengobatan yang tidak diperlukan.
Ketergantungan Pada Farmakologi
Kritikan lain terhadap DSM V adalah bahwa panduan ini terlalu mengandalkan pengobatan farmakologi untuk mengatasi masalah kesehatan mental. Beberapa ahli kesehatan mental menganggap bahwa terapi dan intervensi non-farmakologi, seperti terapi bicara, dapat menjadi alternatif yang lebih efektif daripada pengobatan farmakologi.
Faktor Budaya Diabaikan
DSM V sering kali dianggap sebagai panduan global untuk diagnosis gangguan mental. Namun, beberapa ahli kesehatan mental menyoroti bahwa buku ini tidak memperhitungkan faktor budaya dalam diagnosa gangguan mental. Misalnya, beberapa simptom gangguan mental yang dikenali dalam DSM V mungkin tidak sama secara budaya di berbagai negara, bahkan di dalam satu negara pun mungkin berbeda.
Baca juga: Pentingnya Pertimbangan Budaya dan Etnis dalam Psikopatologi
Kontroversi Terhadap DSM V

Selain kritikan, DSM V juga dikelilingi oleh kontroversi yang cukup besar. Beberapa kontroversi tersebut antara lain:
Revisi Kategori Gangguan Mental
Pada DSM V, beberapa kategori gangguan mental telah mengalami revisi, termasuk gangguan spektrum autis dan gangguan bipolar. Beberapa ahli kesehatan mental menyatakan bahwa revisi ini tidak didasarkan pada bukti yang cukup dan dapat menyebabkan kebingungan dalam diagnosis.
Penggunaan skala spektrum untuk gangguan mental, seperti spektrum autisme dan spektrum bipolar, juga telah menuai kontroversi. Beberapa kritikus merasa bahwa penggunaan skala spektrum dapat menyebabkan diagnosis yang lebih luas dan ambigu, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan pasien menerima perawatan yang tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Konflik Kepentingan
Ada beberapa kontroversi mengenai konflik kepentingan yang ada di dalam APA yang mengeluarkan DSM V. Beberapa ahli kesehatan mental menganggap bahwa beberapa pengarang DSM V memiliki keterlibatan dengan perusahaan farmasi atau kelompokasi industri lainnya, yang dapat mempengaruhi pandangan mereka tentang gangguan mental dan pengobatan yang direkomendasikan dalam DSM V. Hal ini menimbulkan keraguan tentang keobjektifan panduan tersebut.
Diagnosis Kontroversial
Beberapa kategori diagnosis dalam DSM V dianggap kontroversial, seperti kategori “Gangguan Identitas Gender” yang sebelumnya dikenal sebagai “Gangguan Identitas Gender pada Anak” dan “Gangguan Identitas Gender pada Remaja atau Dewasa”. Kategori ini telah menuai kontroversi dari kelompok-kelompok hak LGBT karena dianggap memperkuat stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang dengan identitas gender yang berbeda.
Kriteria Gangguan Bipolar
Pembaruan kriteria gangguan bipolar dalam DSM V juga menuai kritikan. DSM V memperkenalkan konsep “episode mixed” yang menggabungkan gejala depresi dan mania. Namun, beberapa kritikus berpendapat bahwa konsep ini tidak jelas dan dapat menyebabkan diagnosis yang salah.
Perubahan Kriteria Gangguan Makan
DSM V juga memperbarui kriteria untuk gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Beberapa perubahan termasuk penghapusan kriteria berat badan minimum untuk anoreksia nervosa dan penambahan kriteria frekuensi muntah untuk bulimia nervosa. Namun, beberapa kritikus berpendapat bahwa perubahan ini dapat menyebabkan beberapa pasien kehilangan diagnosis mereka.
Kategori Gangguan Seksual
Pembaruan DSM V juga menambahkan kategori baru untuk gangguan seksual, termasuk dyspareunia (nyeri saat berhubungan seksual) dan hipoaktif sexual desire disorder (gangguan hasrat seksual). Namun, beberapa kritikus merasa bahwa kategori baru ini terlalu luas dan ambigu.
Keputusan untuk Menambahkan Gangguan Mental Baru
Terakhir, keputusan untuk menambahkan gangguan mental baru dalam DSM V juga menuai kontroversi. Contohnya adalah kategori gangguan perilaku seksual non-parafili, yang telah menuai kritikan karena kelompok ini sangat beragam dan mungkin terlalu luas untuk digolongkan sebagai gangguan mental
Maka Dapat Disimpulkan

DSM V adalah sebuah panduan resmi untuk diagnosis dan pengobatan gangguan mental yang digunakan oleh para profesional kesehatan mental di seluruh dunia. Meskipun demikian, DSM V tidak terlepas dari kritikan dan kontroversi.
Dalam penggunaan DSM V, sangat penting bagi para profesional kesehatan mental untuk mengingat bahwa buku ini hanya sebagai panduan dan tidak boleh menjadi satu-satunya sumber informasi dalam diagnosis dan pengobatan gangguan mental. Kriteria dan deskripsi gangguan mental dalam DSM V perlu dipertimbangkan secara hati-hati dengan mempertimbangkan konteks budaya dan individu yang bersangkutan.
Baca juga: Memahami Perilaku Abnormal: Perspektif Psikologi, Statistik, dan Norma Sosial
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



