Deeptalk.co.id – Ghosting adalah perilaku dimana seseorang memutuskan komunikasi atau hubungan secara sepihak, tanpa adanya penjelasan terlebih dahulu. Orang yang melakukan ghosting dikenal dengan istilah ghoster. Walaupun terkadang menjengkelkan, namun tidak jarang ghoster justru tidak sadar akan perilakunya tersebut. Sayangnya, dalam beberapa kondisi perilaku ghosting ini bisa mendatangkan dampak psikologis bagi ghoster itu sendiri.
Untuk mengenal seperti apa itu ghoster dan dampak psikologis yang bisa dirasakan, artikel kali ini khusus membahas topik tersebut. Namun sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami beberapa ciri-ciri ghoster dan ingin berubah. Cobalah untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Ciri-Ciri Ghoster
Setiap pelaku ghosting atau yang kita kenal dengan ghoster pada dasarnya memiliki pembawaan yang berbeda-beda. Namun, secara umum ghoster memiliki pola yang serupa. Maka dari itu, berikut ciri-ciri ghoster yang bisa kamu identifikasi:
Menghindari konfrontasi emosional
Seorang ghoster umumnya tidak suka berada di tengah konflik atau percakapan yang ribet. Hal inilah yang membuat mereka memiliki kecenderungan untuk menghindari konfrontasi. Mereka akan lebih memilih untuk menghindar tanpa memberikan penjelasan terlebih dahulu.
Tidak konsisten dalam komunikasi
Ghoster sering menunjukan perilaku yang tidak konsisten, misalnya membalas pesan dalam waktu yang lama atau bahkan tidak membalas pesan sama sekali. Selain itu, seorang ghoster juga sering menghilang tanpa kabar dalam beberapa waktu, lalu muncul kembali.
Cepat menarik diri saat hubungan mulai serius
Ghoster akan sangat antusias di awal hubungan. Namun saat hubungan sudah mulai serius, mereka cenderung menarik diri. Mulai dari sulit untuk dihubungi, hingga benar-benar menghilang tanpa kabar. Hal tersebut dilakukan karena mereka tidak menyukai ikatan emosional mendalam atau membangun komitmen.
Kurang empati dan kesadaran sosial
Dalam beberapa kondisi, seorang ghoster juga memiliki empati yang rendah dan kesadaran sosial yang rendah. Bisa dikatakan bahwa mereka bukan orang yang peka akan lingkungannya. Mereka bahkan menganggap perilaku ghosting itu merupakan hal yang normal dan wajar dilakukan oleh siapapun.
Lebih nyaman dengan hubungan dangkal
Para ghoster ini bukan orang yang sulit untuk menjalin hubungan baru. Namun, hubungan dalam hal ini adalah hubungan yang singkat atau sementara, dan minim ikatan emosional. Biasanya, mereka lebih aktif menjalin hubungan online.
Tidak terbuka tentang perasaan
Seorang ghoster adalah sosok yang pandai dalam menyembunyikan emosi dan perasaan mereka. Mereka juga bukan tipe orang yang dengan mudah menunjukan ketertarikan, atau sekedar curhat tentang apa yang dirasakan.
Baca juga: Ghosting: Luka Psikologis dari Keheningan yang Tak Terjelaskan
Dampak Perilaku Ghosting yang Rawan Dialami Ghoster
Banyak diberbagai media yang membahas tentang dampak menjadi korban dari pelaku ghosting atau ghostee. Namun, tahukah kamu bahwa tidak hanya korban saja, pelaku ghosting juga bisa mengalami dampak psikologis. Hanya saja, sedikit dari mereka yang menyadari hal tersebut. Berikut beberapa dampak yang bisa dialami oleh ghoster:
Rasa bersalah dan kecemasan moral
Walaupun menjadi pelaku ghosting, pada dasarnya para ghoster tidak semua memiliki niat yang buruk. Nyatanya, banyak ghoster yang merasa bersalah akan perilakunya sendiri. Selain merasa bersalah, ada juga kecemasan moral yang dirasakan. Pasalnya, perilaku ghosting ini memang bertentangan dengan norma sosial dalam berkomunikasi.
Penurunan keterampilan interpersonal
Seperti yang dibahas pada ciri-ciri ghoster, mereka umumnya adalah individu yang menghindari konflik. Walaupun perilaku tersebut terkadang baik dengan tujuan agar tidak menimbulkan masalah. Namun hal tersebut justru membuat individu mengalami penurunan keterampilan interpersonalnya. Artinya, kebiasaan yang satu ini bisa membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi dengan sehat dan asertif. Jika berlangsung dalam jangka panjang, individu bisa mengalami kesulitan untuk membangun hubungan yang sehat.
Penguatan pola penghindaran
Seorang ghoster cenderung akan menghindari orang lain yang dianggap membuatnya berada dalam situasi sulit. Perilaku ghosting inilah yang dijadikan cara cepat untuk menghindar. Namun, jika terus berlangsung maka bisa menjadi kebiasaan untuk menghindari masalah tanpa mencari jalan keluarnya. Kebiasaan yang satu ini bisa mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan.
Ketidakpuasan dalam hubungan jangka panjang
Beberapa penelitian menunjukan bahwa seorang ghoster memiliki kecenderungan mengalami ketidakpuasan dalam hubungan jangka panjang. Pasalnya, mereka tidak membangun kepercayaan dengan komunikasi terbuka, dan cenderung menghindari konflik tanpa penyelesaian.
Isolasi sosial
seorang ghoster juga beresiko mengalami isolasi sosia, bukan diisolasi dari lingkungannya, namun lebih mengisolasi diri sendiri. Artinya, mereka terlalu membatasi diri dalam pergaulan. Khususnya dalam hubungan yang melibatkan emosi dan ikatan jangka panjang. Isolasi sosial ini bisa memicu berbagai kondisi lainnya, seperti perasaan kesepian, tidak memiliki dukungan emosional, hingga gangguan mental yang cukup serius seperti depresi.
Itu dia sedikit penjelasan tentang ciri-ciri dan dampak psikologis bagi seorang ghoster. Jika kamu mengalami beberapa kondisi di atas. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Manipulasi Emosional dalam Dunia Kerja: Toxic Boss dan Rekan yang Berbahaya
Sumber:
Freedman, G., Powell, D. N., Le, B., & Williams, K. D. (2019). Ghosting and destiny: Implicit theories of relationships predict beliefs about ghosting. Journal of Social and Personal Relationships, 36(12), 3709-3730. https://doi.org/10.1177/0265407519835522
LeFebvre, L. E. et al. (2019). Ghosting in emerging adults' romantic relationships: The digital dissolution disappearance strategy. Imagination, Cognition and Personality, 39(2), 125-150.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change. Guilford Press.
Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.
Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
Koessler, R. B., Kohut, T., & Campbell, L. (2019). Let’s (not) talk about it: The implications of ghosting on romantic relationships. Social Psychological and Personality Science, 11(6), 748–755.
Arriaga, X. B., & Agnew, C. R. (2001). Being committed: Affective, cognitive, and conative components of relationship commitment. Personality and Social Psychology Bulletin, 27(9), 1190–1203.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



