Deeptalk.co.id – Cancel culture merupakan istilah untuk menggambarkan upaya memboikot seseorang secara massal. Fenomena yang satu ini memang umum terjadi pada artis, tokoh masyarakat, atau orang-orang yang cenderung terkenal. Meski demikian, fenomena ini juga bisa dialami oleh orang lain dengan lingkup yang mungkin lebih kecil.
Fenomena cancel culture ini akhir-akhir ini cukup sering dilakukan dan menjadi pembahasan menarik di sosial media. Terlebih lagi jika upaya tersebut dilakukan kepada para artis karena sebab-sebab tertentu. Lantas, apakah fenomena cancel culture ini bisa berdampak pada kondisi mental seseorang?
Untuk itu artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai cancel culture dan dampak psikologisnya. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami masalah pada kesehatan mental, segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai cancel culture dan dampak psikologisnya.
Pengertian Cancel Culture
![]()
Seperti yang sudah dijelaskan di awal, cancel culture merupakan upaya untuk memboikot seseorang secara massal. Secara umum, terjadi 3 macam fenomena psikologis dalam diri seseorang sebelum akhirnya mereka melakukan cancel culture tersebut. Adapun fenomena psikologis yang dimaksud adalah:
· Melihat dan memahami hal-hal negatif yang ada pada diri korban;
· Merasakan berbagai emosi negatif seperti kesal, sedih, dan amarah yang besar, akibat mengetahui hal-hal negatif yang ada pada diri korban; dan
· Timbulnya perasaan untuk memberikan hukuman kepada korban yang dianggap sebagai balasan akibat hal negatif yang korban miliki.
Ketiga fenomena psikologis tersebutlah yang akhirnya memperkuat seseorang untuk melakukan cancel culture. Dengan demikian dapat diktekankan bahwa cancel culture merupakan upaya untuk memerangi hal-hal negatif yang ada pada diri korban, dengan memberikan hukuman sosial kepada korban tersebut.
Dampak Psikologis Dari Cancel Culture

Sayangnya tanpa disadari, perilaku cancel culture ini justru memberikan berbagai dampak negatif, baik untuk pelaku, korban, maupun orang-orang yang menyaksikan upaya tersebut. Untuk itu penting bagi kita lebih mendalami perilaku yang satu ini.
Berikut beberapa dampak psikologis dari cancel culture:
Memicu rasa malu
Seperti yang diketahui bahwa tindakan cancel culture ini melibatkan massa atau banyak orang. Bahkan cukup sering tindakan ini berlangsung di sosial media yang notabenenya bisa diakses oleh semua orang. Dengan demikian, saat seseorang mulai diboikot akibat hal negatif yang mereka miliki, tentu akan menimbulkan rasa malu bagi korban. Bahkan beberapa korban cancel culture mengaku merasa trauma akibat serangan para netizen.
Tidak hanya pada korban cancel culture, rasa malu ini juga bisa dialami oleh pelaku jika terbukti bahwa hal-hal negatif yang diumbar tidak benar atau tidak tepat sasaran. Dengan demikian, upaya cancel culture ini bisa menjadi boomerang bagi para pelakunya.
Baca juga : Mengenal Dampak dan Penanganan Fenomena Toxic Masculinity
Memicu cyberbullying
Seperti yang sudah dijelaskan pada point di atas bahwa upaya cancel culture ini cukup sering berlangsung di sosial media. Dengan demikian, orang-orang yang terpancing emosinya akibat hal-hal negatif yang dimiliki korban ini bisa memicu tindakan cyberbullying. Dalam upaya cancel culture ini juga tidak jarang menggunakan ungkapan-ungkapan kasar, dan mengekspos hal-hal yang tidak seharusnya diekspos.
Dikucilkan
Para pelaku cancel culture ini secara beramai-ramai mencoba untuk memboikot korban dengan mengungkap hal-hal negatif yang dimiliki korban. Tindakan tersebut akhirnya membuat korban terkucilkan di sosial media, bahkan oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Hal ini tidak mengherankan mengingat tujuan dari cancel culture itu sendiri.
Depresi
Dalam beberapa kasus, upaya cancel culture ini bisa mengakibatkan depresi bagi korban. Depresi sendiri merupakan masalah mental yang ditandai dengan adanya perasaan sedih yang mendalam dan membuat penderitanya kehilangan minat dalam aktivitas sehari-hari.
Depresi tersebut disebabkan oleh beratnya sanksi sosial yang mereka dapatkan. Mulai dari dikucilkan oleh lingkungan, mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, hingga banyaknya ujaran-ujaran kebencian yang ditujukan kepada korban. Bahkan dalam kondisi depresi yang sudah cukup berat, korban mulai memiliki pikiran untuk melakukan upaya bunuh diri.
Menurunkan empati bagi pelaku
Beberapa orang yang menjadi korban cancel culture justru merasa tertantang untuk mempertahankan ego mereka. Hal ini tidak jarang menimbulkan pro dan kontra di dunia maya. Sayangnya alih-alih menurunkan emosi pelaku, upaya semacam itu justru meningkatkan emosi, marah, bahkan frustasi.
Bahkan fenomena cancel culture ini juga bisa menurunkan empati bagi para pelaku. Hal ini disebabkan oleh penolakan para pelaku untuk menerima dan memahami penjelasan dari korban cancel culture tersebut.
Itu dia beberapa dampak psikologis dari tindakan cancel culture. Dapat disimpulkan bahwa cancel culture merupakan upaya memboikot seseorang secara masal. Dimana upaya tersebut bisa berdampak negatif bagi kondisi mental seseorang.
Baca juga : Benarkah Laki-Laki Tidak Boleh Menangis? Ini Dia Penjelasan Tentang Toxic Masculinity
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



