Semua artikel
Masalah Mental

Dampak Negatif Perfeksionisme pada Kesehatan Mental

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Perfeksionisme, seringkali dianggap sebagai sifat yang positif yang mendorong orang untuk mencapai standar yang tinggi. Namun, dibalik citra positifnya, perfeksionisme juga memiliki dampak negatif yang signifikan pada kesehatan mental seseorang.

Saat seseorang mempertaruhkan kesejahteraan mereka demi pencapaian yang sempurna, tekanan yang dihasilkan bisa menjadi beban yang berat. Dalam hal ini, perfeksionisme yang berlebihan dapat menyebabkan stres kronis, kecemasan, dan depresi yang berkepanjangan. Dalam paragraf berikutnya, kita akan mengulas secara lebih rinci dampak negatif perfeksionisme pada kesehatan mental serta cara mengatasi tantangan ini untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik. 

Apa itu Perfeksionisme?

American Psychological Association mendefinisikan perfeksionisme sebagai kecenderungan untuk menuntut orang lain atau diri sendiri untuk mendapatkan tingkat kinerja yang sangat tinggi atau bahkan sempurna, melebihi apa yang dibutuhkan oleh situasi. Kecenderungan ini membawa seseorang percaya bahwa agar sesuatu berjalan dengan baik, hal tersebut harus tampak sempurna. Kami menamai mereka yang mengidap perfeksionisme dengan sebutan perfeksionis.

Perfeksionis merasakan kebutuhan yang kuat untuk tampil sempurna. Apapun itu harus sempurna di mata perfeksionis, terlebih hasil kinerjanya sendiri. Akan tetapi, perfeksionisme tidak sama dengan berjuang untuk menjadi diri sendiri yang terbaik. Ini justru sebenarnya menahan perfeksionis dengan menciptakan perilaku yang tidak sehat dalam pencapaian untuk berpenampilan tertentu. 

Perfeksionisme hadir dalam dua bentuk, yakni adaptif dan maladaptif. Kedua jenis perfeksionis ini memiliki standar yang tinggi. Akan tetapi, ketika perfeksionis maladaptif tidak mencapai standar tinggi sesuai keinginan dengan pencapaian yang sempurna, ini justru membuatnya stres.

Gordon Flet dan Paul Hewitt, dua pakar terkemuka di bidang perfeksionisme mendefinisikan tiga aspek utama perfeksionisme. Mereka mengatakan tiga komponen tersebut meliputi bahwa ada perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri, perfeksionisme yang berorientasi pada orang lain, serta perfeksionisme yang ditentukan secara sosial.

Akan tetapi, terlepas dari jenis kepribadian perfeksionisme yang dimiliki seseorang, mereka telah menetapkan standar yang keras pada diri mereka sendiri. Mereka mungkin merasa perlu untuk menyenangkan diri sendiri dan dianggap sempurna orang lain. Namun nyatanya terlalu keras pada diri sendiri dengan kecenderungan perfeksionisme ini akan menimbulkan keterkaitan dengan depresi, kecemasan, gangguan makan, dan masalah kesehatan mental lainnya.

Baca juga: Bagaimana Hewan Peliharaan Bisa Meningkatkan Kesehatan Mental? Ini Dia Manfaatnya

Bagaimana Perfeksionisme Mempengaruhi Kesehatan Mental dan Fisik?

Sudah banyak jurnal penelitian yang menyatakan perfeksionisme dapat sangat memengaruhi kesehatan mental dan fisik. Dalam studi terbaru yang dilakukan oleh Thomas Curran dari University of Bath dan Andrew P. Hill, dari York St. John University, Inggris, dijelaskan bahwa resep secara sosial perfeksionisme adalah yang “paling melemahkan” dari tiga komponen lainnya.

Terbukti perfeksionisme dapat memiliki efek yang sangat negatif pada mahasiswa. Dengan penelitian tambahan yang menunjukkan hubungan yang mengkhawatirkan antara perfeksionisme dengan depresi dan bunuh diri. Bentuk komponen perfeksionisme yang ditentukan secara sosial membuat individu percaya konteks sosial mereka yang terlalu menuntut. Dimana orang lain menilai mereka dengan keras, dan bahwa mereka harus menunjukkan kesempurnaan untuk mendapatkan persetujuan.

Kecemasan, depresi, dan keinginan bunuh diri hanyalah sebagian dari masalah kesehatan mental yang telah berulang kali dikaitkan oleh spesialis dengan bentuk perfeksionisme ini. Pun studi lain yang lebih tua bahkan menemukan bahwa lebih dari separuh orang yang meninggal karena bunuh diri digambarkan oleh orang yang mereka cintai sebagai perfeksionis.

Lalu studi lain menemukan adanya kecenderungan perfeksionisme yang sangat memukul kaum muda. Terbukti pada suatu riset dimana lebih dari 70% anak muda yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri memiliki kebiasaan menciptakan ekspektasi yang sangat tinggi terhadap diri mereka sendiri. Serta menurut perkiraan lain, hampir 30% mahasiswa sarjana mengalami gejala depresi yang mereka asosiasikan dengan kecenderungan perfeksionisme yang mereka hadapi.

Tren tersebut bahkan mengalami peningkatan selama beberapa dekade terakhir, khususnya dalam budaya berbahasa Inggris. Curran dan Hill mempelajari lebih dari 40.000 mahasiswa Amerika, Kanada, dan Inggris dan menemukan bahwa pada 1989–2016, proporsi orang yang menunjukkan sifat perfeksionisme meningkat hingga 33 persen.

Mereka menambahkan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri, yang terjadi ketika individu menganggap penting secara irasional untuk menjadi sempurna, memiliki ekspektasi yang tidak realistis terhadap diri mereka sendiri dan menghukum diri mereka dalam evaluasi dirinya sendiri. Inilah yang nantinya akan meningkatkan gejala depresi klinis, gangguan makan, hingga kematian dini di kalangan mahasiswa dan anak muda.

Tak hanya itu, perfeksionisme yang membawa kebiasaan mengkritik diri juga dikatakan dapat meningkatkan risiko gangguan bipolar. Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa itulah yang menjelaskan mengapa orang dengan bipolar juga mengalami kecemasan.

Perfeksionisme kritik diri juga dikatakan meningkatkan risiko gangguan bipolar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa itu mungkin menjelaskan mengapa orang dengan bipolar juga mengalami kecemasan. Perfeksionisme yang tak henti-hentinya dapat menjadi resep untuk stres kronis juga tidak memungkiri akan adanya kemungkinan timbulnya penyakit kronis pada fisik.

Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Dismorfik Tubuh dan Standar Kecantikan di Setiap Negara

 

Sumber:

APA Dictionary of Psychology. (2023). Perfectionism. https://dictionary.apa.org/perfectionism

Taylor, M. (2021, August 20). Perfectionism: 6 Consequences to Watch For. WebMD. https://www.webmd.com/balance/features/consequences-perfectionism

Sandoiu, A. (2018, October 12). How perfectionism affects your (mental) health. Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323323

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Dampak Negatif Perfeksionisme pada Kesehatan Mental — DeepTalk