Deeptalk.co.id – Aktivitas di otak manusia pada dasarnya cukup sibuk. Setiap bagian otak memegang perannya masing-masing untuk kelangsungan hidup kita. Maka tidak heran jika otak termasuk bagian tubuh yang sangat kompleks. Dengan otak juga manusia bisa berpikir, bertinda, termasuk mengendalikan organ tubuh lainnya. Cabang ilmu psikologi yang banyak mengulas tentang otak ini dikenal dengan istilah neuropsikologi. Salah satu kondisi yang membuat otak bekerja keras adalah depersonalisasi.
Kondisi depersonalisasi secara garis besar berhubungan dengan integritas sensasi, emosi, dan kesadaran diri. Dimana semua kondisi tersebut erat kaitannya dengan aktivitas yang melibatkan fungsi otak. Lantas, apa yang terjadi pada otak kita saat mengalami depersonalisasi? Artikel kali ini akan secara khusus membahas topik tersebut.
Sebelum kita masuk pada topik utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala gangguan mental, atau timbul perilaku abnormal. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut bersama psikolog atau psikiater. Dengan begitu bisa diketahui diagnosa yang tepat, dan mendapatkan penanganan yang sesuai.
Apa Itu Depersonalisasi?

Depersonalisasi adalah kondisi psikologis dimana seseorang merasa seakan terlepas dari tubuhnya, menyaksikan dirinya dari luar tubuh, kehilangan kendali akan tubuhnya, atau seakan tidak menjadi diri sendiri. Dalam perspektif neuropsikologis, depersonalisasi merupakan gangguan persepsi atau kesadaran diri yang melibatkan gangguan fungsi pada sistem otak, khususnya yang mengatur integrasi sensasi, emosi, dan kesadaran diri.
Dalam ilmu neuropsikologis juga, kondisi depersonalisasi bukan sekedar pengalaman traumatis. Melainkan juga berkaitan dengan disregulasi aktivitas saraf di beberapa area otak. Khususnya pada area otak yang berperan dalam pemrosesan emosi, persepsi tubuh, dan kesadaran diri. Pada dasarnya kondisi tersebut terjadi sebagai upaya otak dalam melindungi diri dari stress ekstrem atau trauma, dengan cara mematikansementara sistem emosi agar individu tidak merasa kewalahan.
Baca juga: Hubungan Depersonalisasi dengan Trauma Masa Lalu
Bagian Otak yang Terlibat Saat Depersonalisasi

Beberapa bagian otak memiliki peran penting dalam kondisi depersonalisasi, yaitu:
Korteks prefrontal / prefrontal cortex
Korteks prefrontal adalah bagian otak yang mengatur fungsi perencanaan maupun regulasi emosi. Pada bagian ini, terdapat bagian khusus yang berperan dalam fungsi eksekutif dan regulasi emosi yang bernama dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC). Pada individu dengan kondisi depersonalisasi menunjukan aktivitas berlebih pada area DLPFC ini. Hal tersebut memicu penghambatan terhadap sistem limbik (emosional). Pada akhirnya, individu mengalami pemutusan antara kesadaran dan emosi, sehingga muncul sensasi hampa atau tidak nyata.
Amigdala
Amigdala adalah bagian otak yang berfungsi mengatur emosi dan ingatan, khususnya yang berhubungan dengan rasa takut dan bahagia. Pada kondisi depersonalisasi, aktivitas di amigdala ini akan menurun secara signifikan. Penurunan ini mengakibatkan individu menjadi kurang responsif secara emosional terhadap pengalaman diri atau lingkungan.
Korteks insular / insula
Insula adalah bagian otak yang berperan dalam interoception atau kesadaran terhadap sensasi internal tubuh, seperti detak jantung atau pernapasan. Pada kondisi dipersonalisasi bisa terjadi disfungsi pada bagian insula yang memicu kehilangan perasaan kehadiran dalam tubuh sendiri.
Girus fusiform dan parietal inferior
Kedua bagian otak ini memiliki peran dalam pengenalan wajah dan representasi tubuh. Pada kondisi dipersonalisasi, terjadi aktivitas abnormal pada bagian ini. Hal tersebut memicu distorsi persepsi diri, seperti melihat wajah sendiri terasa asing atau tidak familiar.
Baca juga: Depersonalisasi: Antara Mekanisme Pertahanan Psikologis dan Gangguan Mental
Hubungan Depersonalisasi dengan Sistem Saraf

Kondisi depersonalisasi bisa memicu ketidakseimbangan antara sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Berikut penjelasannya:
Sistem saraf simpatik
Sistem saraf simpatik berfungsi dalam respon “fight or flight”. Pada kondisi depersonalisasi, terjadi aktivitas berlebih pada sistem saraf simpatik. Hal tersebut memicu peningkatan detak jantung, ketegangan otot, dan kewaspadaan tinggi. Dalam kondisi ekstrim (misalnya saat trauma), otak dapat memutus koneksi dengan pengalaman emosional untuk melindungi individu dari rasa sakit psikologis.
Sistem saraf parasimpatik
Sistem saraf parasimpatik berfungsi mengembalikan tubuh ke kondisi tenang. Sistem saraf ini saling berkaitan dengan sistem saraf simpatik.Pada depersonalisasi kronis, terdapat gangguan dalam regulasi antara kedua sistem ini, menyebabkan disosiasi emosional yang berkepanjangan.
Keterlibatan neurotransmitter
Beberapa penelitian menunjukan keterlibatan serotonin, dopamin, dan glutamat dalam mekanisme depersonalisasi. Ketidakseimbangan pada sistem neurotransmiter ini dapat memengaruhi cara otak memproses realitas dan kesadaran diri.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai kondisi depersonalisasi dalam perspektif neuropsikologi. Dapat disimpulkan bahwa cukup banyak bagian otak yang terganggu akibat kondisi depersonalisasi ini. Dimana hal tersebut memicu banyak hambatan dalam kinerja otak, termasuk mempengaruhi sistem saraf manusia.
Jika kamu mengalami gejala depersonalisasi. Cobalah untuk mengunjungi web deeptalk.co.id, dan berkonsultasi dengan psikolog disana. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Pengaruh Maladaptive Daydreaming terhadap Relasi Sosial dan Produktivitas
Sumber:
Craig, A. D. (2009). How do you feel—now? The anterior insula and human awareness. Nature Reviews Neuroscience, 10(1), 59–70.
Phillips, M. L., Medford, N., Senior, C., Bullmore, E. T., Suckling, J., Brammer, M. J., Andrew, C., Sierra, M., Williams, S. C. R., & David, A. S. (2001). Depersonalization disorder: Thinking without feeling. Psychiatry Research: Neuroimaging, 108(3), 145–160.
Sierra, M., & Berrios, G. E. (1998). Depersonalization: Neurobiological perspectives. Biological Psychiatry, 44(9), 898–908.
Sierra, M., Phillips, M. L., & David, A. S. (2002). Depersonalization disorder: A cognitive–behavioural–neurobiological approach to a neglected symptom. British Journal of Psychiatry, 180(6), 480–487.
Sierra, M., & David, A. S. (2011). Depersonalization: A selective impairment of self-awareness. Consciousness and Cognition, 20(1), 99–108.
Simeon, D., Guralnik, O., Schmeidler, J., & Hollander, E. (2000). Fluoxetine therapy in depersonalization disorder: An open trial. Journal of Clinical Psychopharmacology, 20(3), 445–449.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



