Deeptalk.co.id – Saat melihat seseorang sedang dalam kesusahan atau tertimpa musibah, umumnya kita akan merasa iba dan segera tergerak untuk membantunya. Namun, tidak sedikit orang yang memiliki pikiran bahwa pasti akan ada orang yang bisa membantunya lebih baik dari diri sendiri. Namun coba bayangkan jika semua orang memiliki pikiran serupa. Hasilnya orang yang sedang tertimpa musibah tersebut tidak akan mendapatkan pertolongan. Kira-kira seperti itulah gambaran mengenai bystander effect.
Walaupun bystander effect bisa dikatakan cukup jarang menjadi pembahasan di masyarakat awam, namun pada kenyataannya hal ini menjadi pembahasan penting dalam dunia psikologis. Bystander effect sendiri merupakan suatu fenomena dalam psikologi sosial, yang mana ketika seseorang sedang membutuhkan bantuan namun tidak ada orang disekitarnya yang mau membantu. Padahal pada kenyataannya banyak orang disekitarnya.
Fenomena yang satu ini memang cukup unik. Umumnya orang-orang akan gerak hatinya jika melihat orang lain yang membutuhkan bantuan. Namun dalam kasus bystander effect ini justru tidak ada orang yang membantu. Untuk mengenal lebih jauh mengenai bystander effect dan bagaimana fenomena tersebut bisa terjadi, artikel ini akan secara khusus membahas mengenai bystander effect itu sendiri.
Latar Belakang Terjadinya Bystander Effect

Istilah bystander effect muncul akibat sebuah kasus yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Catherine Susan Genovese alias Kitty Genovese. Di usia ke-28 tahun Kitty Genovese mengalami serangan dari seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, di sekitar tempat tinggalnya.
Saat baru pulang dari tempat kerja, Kitty Genovese yang baru saja memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Baru saja keluar dari mobilnya, Kitty Genovese diterjang oleh seorang laki-laki bernama Winston Moseley dengan sebuah pisau. Mendapatkan perlakuan tersebut tentu membuat Kitty Genovese reflek berteriak meminta tolong. Walaupun teriakannya bisa didengarkan oleh para tetangganya, namun tidak ada satupun orang yang menolongnya. Sampai seseorang bernama Robert Mozer berkata “tinggalkan wanita itu”, dan akhirnya membuat Winston Moseley kabur. Setelah kejadian tersebut, Kitty Genovese lalu dengan penuh upaya menghampiri pintu rumahnya. Meski demikian, tidak ada satupun orang sekitar yang membantunya.
Kejadian yang dialami oleh Kitty Genovese tidak berhenti sampai disitu saja. Seorang saksi melihat Winston Moseley pergi dengan menaiki sebuah mobil. Namun selang sepuluh menit setelahnya, Winston Moseley kembali dan menemukan Kitty Genovese masih berada di belakang bangunan. Saat itu juga Winston Moseley kembali menyerang Kitty Genovese dengan menusuknya berkali-kali dan memperkosanya. Walaupun Kitty Genovese berusaha melakukan perlawanan, namun ia tetap terbaring sekarat. Hingga akhirnya Winston Moseley pergi dengan mencuri beberapa uang Kitty Genovese.
Setelah dilakukan investigasi oleh kepolisian, ternyata terdapat 37 orang yang menyadari adanya kejadiaan naas yang dialami oleh Kitty Genovese. Namun ke-37 orang tersebut tidak ada yang berupaya untuk menolongnya. Kasus inilah yang mendorong psikolog bernama Bib Latane dan John Darley untuk meneliti kejadian aneh tersebut. Fenomena yang terjadi oleh para saksi yang menyaksikan pengalaman buruk dari Kitty Genovese ini lalu diteliti dan melahirkan sebuah teori pasti yang dinamakan bystander effect. Dengan penjelasan mengenai bystander effect, masyarat akhirnya paham dengan apa yang terjadi.
Baca juga : Mengenal Cara Mengatasi Trauma Psikologis Akibat Kekerasan
Penyebab Bystander Effect

Bib Latane dan John Darley selaku pencetus bystander effect ini juga mengemukakan bahwa terdapat dua penyebab yang menimbulkan fenomena bystander effect. Adapun penyebab fenomena bystander effect yang dimaksud adalah adanya difusi tanggung jawab, dan terlalu melihat situasi. Berikut penjelasannya:
Difusi tanggung jawab
Penyebab pertama adalah adanya difusi tanggung jawab. Difusi tanggung jawab dalam hal ini maksudnya adalah kondisi dimana seseorang beranggapan bahwa dirinya tidak memiliki tanggung jawab atau keharusan untuk membantu orang yang sedang dalam kesusahan tersebut. Pada penyebab pertama ini, orang-orang beranggapan bahwa banyaknya orang disekitarnya akan memungkinkan orang yang kesusahan itu mendapatkan bantuan, walau tidak dari dirinya. Sayangnya semua orang disekitarnya justru memiliki pikiran yang sama. Semakin banyak orang disekitarnya, maka ia akan semakin memperbesar difusi tanggung jawab tersebut.
Terlalu melihat situasi
Penyebab kedua dari bystander effect adalah terlalu melihat situasi. Dalam beberapa kasus, tentu membutuhkan langkah yang tepat untuk bisa menolong seseorang. Misalnya dalam kasus kecelakaan, tentunya kita tidak bisa asal menolong. Hal ini perlu diperhatikan karena bisa berdampak buruk bagi korban. Hal semacam inilah yang sering membuat orang melakukan observasi lebih dalam terhadap situasi dan mengurungkan niat untuk membantu.
Pada penyebab kedua ini, seseorang cenderung akan memperhatikan situasi sekitar terlebih dahulu. Mereka akan melihat reaksi korban dan aksi orang-orang disekitar korban. Dengan demikian, mereka tidak jadi membantu korban. Namun tidak sedikit juga orang yang memiliki rasa takut untuk menolong karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai bystander effect dan bagaiamana fenomena ini bisa terjadi. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Kenali Cara Agar Terhindar Dari Kebiasaan Menunda Pekerjaan
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



