Semua artikel
Gangguan Psikologi

Bisakah Psikopat Merasakan Empati?

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia4 menit baca

Deeptalk.co.id – Apa yang kamu bayangkan jika berbicara soal psikopat? Pasti pertama kali yang muncul di benak kamu adalah seseorang yang kejam, tidak memiliki perasaan, dan selalu melakukan tindak kekerasan. Tapi, tahukah kamu bahwa psikopati sesungguhnya adalah sebuah kondisi yang bersifat kontinum. Artinya mereka tidak selalu menjadi monster yang kejam seperti yang kita bayangkan. Namun, salah satu hal yang paling sering menjadi perdebatan juga pertanyaan penting adalah: bisakah psikopat itu merasakan empati?

Mungkin sebagian besar dari kita akan spontan menjawab “Tidak, mereka tidak bisa merasakan empati.” Tapi sebenarnya, ada cukup banyak penelitian yang mencoba menjawab pertanyaan ini—dan hasilnya bisa jadi cukup mengejutkan. Sebelum mengupas lebih jauh, mari kita bantu kamu untuk lebih memahami istilah psikopat itu sendiri. Psikopat atau psikopati adalah istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki karakteristik kepribadian antisosial, manipulatif, dan egosentris. Tetapi, tidak semua psikopat menjadi penjahat, dan mereka yang menjadi penjahat tidak selalu psikopat.

Maka dari itu, artikel ini ingin mengajak kamu untuk membuka pikiran kita tentang pandangan psikopat dan empati. Lebih jauh, kita akan membahas serangkaian penelitian dan temuan yang mencoba menjawab pertanyaan “bisakah psikopat merasakan empati?” ini. Selamat menemani kita dalam menjawab pertanyaan ini. Dengan menjawab pertanyaan ini, kita dapat melihat perspektif yang lebih luas tentang psikopat dan kemampuan mereka untuk merasakan empati.

Psikopati dan Dua Jenis Empati

Sebagai langkah awal, mari kita mengenal lebih jauh tentang empati. Ternyata, empati itu ada beberapa jenis, lho! Ada dua jenis empati yang paling sering dibahas dalam konteks psikopati, yaitu empati kognitif dan empati afektif. Apa bedanya?

  1. Empati Kognitif adalah kemampuan untuk memahami perasaan, pikiran, dan sudut pandang orang lain. Jadi, empati kognitif ini seperti kita bisa membaca isi pikiran atau hati seseorang. Kita bisa mengerti apa yang orang tersebut rasakan, tapi belum tentu merasakan apa yang mereka rasakan.
  2. Empati Afektif adalah kemampuan untuk merasakan dan berbagi perasaan orang lain secara emosional. Jadi, empati afektif ini adalah ketika kita bisa merasakan kesedihan, marah, atau bahagia yang sama seperti yang orang lain alami. Kita merasa seolah-olah perasaan itu juga menjadi bagian dari diri kita.

Nah, sekarang kita sudah tahu apa itu empati kognitif dan empati afektif. Lalu, bagaimana hubungannya dengan psikopati? Ternyata, penelitian menunjukkan bahwa psikopat mungkin memiliki kemampuan empati kognitif, tetapi kekurangan empati afektif. Jadi, mereka bisa memahami apa yang orang lain rasakan, tapi tidak ‘ikut merasakan’ perasaan tersebut.

Misalnya, seorang psikopat mungkin mengerti bahwa kamu sedang sedih karena kehilangan sesuatu yang berharga. Tapi mereka tidak merasakan kesedihan yang kamu rasakan. Bahkan bisa jadi, mereka mencoba memanfaatkan situasi tersebut untuk keuntungan mereka sendiri. Ini yang membuat psikopat terkesan jauh dari kata empati.

Jadi, sebenarnya psikopat itu punya sedikit empati, yaitu empati kognitif. Namun, mereka tetap kekurangan empati afektif, yang menjadi elemen penting dalam relasi antarmanusia. Setidaknya, dengan mengetahui perbedaan ini, kita bisa memahami lebih jauh mengapa psikopat kerap kali dianggap tidak berempati.

Baca juga: Memahami Emotional Eating : Hubungan Antara Emosi dan Makanan

Psikopat dan Emosi Spesifik

Ketika berbicara tentang psikopat, tidak lengkap jika kita tidak membahas tentang emosi-emosi yang bisa mereka rasakan. Apakah benar bahwa mereka tidak bisa merasakan emosi-emosi seperti cinta, simpati, atau penyesalan? Mari kita coba telaah lebih dalam.

Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa psikopat merasakan emosi, tapi tidak dengan intensitas dan kedalaman seperti orang biasa. Ada sejumlah emosi yang mereka sering kali kesulitan untuk tafsir, diantaranya adalah cinta, simpati, dan penyesalan. Bagaimana bisa?

Cinta bagi mereka sering kali lebih tentang pemuasan nafsu atau kebutuhan diri, bukan soal kedekatan emosional dan kerelaan untuk berkorban. Dalam hubungan, mereka cenderung manipulatif dan fokus pada apa yang bisa mereka dapatkan.

Simpati bagi kita bisa jadi berarti merasa sedih melihat orang lain menderita dan ingin membantu mereka. Tapi, untuk psikopat, perasaan itu kurang hadir. Mereka bisa memahami fakta bahwa seseorang sedang menderita, (ingat, empati kognitif) tapi mereka tidak ‘merasakan’ penderitaan tersebut (kekurangan empati afektif).

Lalu, bagaimana dengan penyesalan? Kebanyakan dari kita merasakan penyesalan jika kita melakukan sesuatu yang salah. Tapi, psikopat? Nah, yang satu ini cukup sulit. Psikopat sering kali tidak menyadari atau memahami konsekuensi dari perbuatan mereka. Bahkan jika mereka menyadari, mereka cenderung tidak peduli. Jadi, rasa penyesalan seperti yang kita kenal, mungkin hampir tidak ada pada mereka.

Jadi, kesimpulannya psikopat punya emosi, tapi mereka merasakannya dengan cara yang berbeda dengan kita. Emosi-emosi seperti cinta, simpati, dan penyesalan mungkin kurang ‘nyata’ bagi mereka. Tentu saja, temuan ini dibuat berdasarkan penelitian dan statistik, jadi mungkin tidak berlaku untuk setiap individu. Namun, ini bisa membantu kita memahami apa yang terjadi di dalam mindset seorang psikopat.

Baca juga: Kondisi Otak Dalam Respons Terhadap Kecanduan atau Ketergantungan

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Bisakah Psikopat Merasakan Empati? — DeepTalk