Deeptalk.co.id – Secara umum kita mengenal dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Dimana laki-laki umumnya menunjukkan sifat dan sikap maskulinitas dan perempuan menunjukkan sifat dan sikap feminim. Sayangnya, pembagian sifat dan sikap di antara keduannya ini sering kali disalah artikan oleh beberapa orang. Misalnya anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat karena sifat maskulin yang mereka miliki. Kondisi semacam itu biasanya dikenal dengan istilah toxic masculinity.
Untuk mengenal lebih jauh mengenai toxic masculinity, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai hal tersebut. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami masalah dalam kesehatan mental, maka segera lakukan konsultasi lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai toxic masculinity.
Pengertian Toxic Masculinity

Toxic masculinity atau maskulinitas toksik adalah sebuah tekanan yang ditujukan kepada kaum laki-laki, dimana mereka dituntut untuk selalu menerapkan konsep ideal sebagai seorang laki-laki. Konsep ideal yang dimaksud adalah penerapan sifat dan sikap maskulinitas. Dengan demikian, laki-laki dituntut untuk selalu terlihat kuat, tidak boleh bersedih, memiliki kekuasaan, tidak boleh mengeluh, dan lain sebagainya.
Pada dasarnya, konsep maskulinitas itu sendiri merupakan sesuatu yang positif dan akan berguna untuk menggambarkan karakter seorang laki-laki. Namun seperti yang diketahui bahwa saat sesuatu sudah sangat berlebihan tentu akan berdampak buruk, salah satunya dalam konsep maskulinitas itu sendiri. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat dari seorang Psikolog bernama Dr Ike Herdiana, M.Psi, Psikolog. Dimana beliau mengatakan bahwa di Indonesia sendiri frasa-frasa seperti laki-laki tidak boleh menangis, atau laki-laki tidak boleh terlihat lemah, cukup sering kita temukan.
Pada kenyataannya, baik laki-laki maupun perempuan tentu memiliki titik lemahnya masing-masing. Setiap orang tidak perlu selalu tampak kuat dan tidak masalah jika perlu mengekspresikan kesedihan mereka. Justru setiap emosi memang harus disalurkan, termasuk kesedihan.
Orang-orang yang terjebak dalam toxic masculinity juga seringkali menganggap bahwa sifat dan sikap lembut hanya untuk perempuan. Namun pada kenyataannya, beberapa laki-laki juga boleh saja untuk bersifat lembut, gentle, peka, ramah, dan perasa.
Fenomena toxic masculinity ini sebenarnya merupakan pandangan tradisional mengenai maskulinitas. Dimana pada jaman dahulu laki-laki memiliki sifat dan sikap yang agresif, kuat, dan petarung, untuk bisa berburu demi mempertahankan hidupnya dan keluarganya. Namun saat ini zaman sudah berubah. Laki-laki tidak harus bersikap kasar lagi untuk bisa mempertahankan hidup.
Baca juga : Sindrom Peter Pan : Perilaku Kekanak-Kanakan yang Dialami Orang Dewasa
Ciri-Ciri Toxic Masculinity

Fenomena toxic masculinity ini pada dasarnya tidak terbentuk begitu saja, melainkan adanya campur tangan dari lingkungan dan orang-orang disekitar. Dalam beberapa kasus, orang-orang bahkan tidak sadar jika dirinya sudah terjebak dalam fenomena toxic masculinity. Baru akan disadari saat fenomena tersebut sudah berdampak pada kesehatan fisik dan juga mentalnya.
Untuk itu penting bagi kita memahami seperti apa ciri-ciri saat seseorang sudah terpapar oleh toxic masculinity. Berikut ciri-ciri yang dimaksud:
Tidak menunjukkan kesedihan
Orang-orang yang sudah terjebak dalam fenomena toxic masculinity menganggap kesedihan terlalu feminim untuk bisa mereka ekspresikan. Hal ini akhirnya membuat mereka merasa tidak pantas untuk terlihat sedih, apa lagi untuk menangis. Bahkan mengeluh tidak ada dalam kamus mereka.
Hanya laki-laki yang boleh marah
Seorang toxic masculinity tidak hanya membatasi dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang dianggap feminim saja. Namun, mereka juga cenderung memberikan batasan apa yang boleh dan tidak boleh untuk perempuan. Dalam hal ini, mereka menganggap laki-laki memiliki power yang besar, maka tidak pantas untuk perempuan mengekspresikan amarah dan keberanian mereka.
Bergantung kepada orang lain adalah hal yang tabu
Bagi orang-orang yang terjebak dalam fenomena toxic masculinity, bergantung kepada orang lain merupakan hal yang tidak lazim, khususnya laki-laki. Mereka menganggap bahwa laki-laki adalah makhluk yang paling mandiri sehingga tidak membutuhkan bantuan dari orang lain. Padahal pada kenyataannya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama makhluk sosial yang membutuhkan bantuan dari orang lain.
Harus memiliki kekuasaan
Laki-laki dengan toxic masculinity memiliki kecenderungan untuk selalu meninggikan nama mereka. Hal ini disebabkan oleh pandangan bahwa laki-laki harus memiliki kekuasaan, dan status sosial yang tinggi agar bisa dihormati oleh semua orang.
Kecenderungan bersikap misoginis
Laki-laki dengan toxic masculinity juga memiliki kecenderungan bersikap misoginis. Misoginis sendiri adalah istilah untuk menggambarkan rasa benci yang cukup ekstrim terhadap perempuan. Hal ini juga berdampak kepada kekerasan kepada perempuan, hingga pelecehan seksual.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai fenomena toxic masculinity. Pada intinya, walaupun maskulinitas merupakan pandangan yang positif, namun jika berlebihan tentu akan mendatangkan dampak negatif. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Self Gaslighting : Kebiasaan Memanipulasi Diri Sendiri
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



