Deeptalk.co.id – Teori proses ironis, atau ironic process theory, adalah salah satu konsep menarik dalam psikologi yang membahas cara otak manusia dapat bekerja secara paradoksal, terutama saat mencoba untuk menghentikan atau mengendalikan pikiran atau perasaan tertentu. Artikel ini akan menguraikan lebih dalam mekanisme pada ironic process theory ini, membuka jendela untuk memahami bagaimana otak kita seringkali melakukan kebalikan dari yang kita inginkan ketika berurusan dengan perasaan atau pemikiran yang tidak diinginkan.
Pemahaman yang lebih dalam tentang teori ini membantu kita memahami mengapa, dalam upaya untuk menghindari atau mengendalikan sesuatu, kita seringkali justru semakin terjerat dalam pemikiran atau perasaan tersebut. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang teori proses ironis, kita dapat mengenali dan mengelola gejala ini dengan lebih baik dalam kehidupan sehari-hari, serta memahami mengapa kadang-kadang kita merasa lebih sulit untuk mengendalikan pikiran dan perasaan kita daripada sebaliknya.
Mekanisme Ironic Process Theory

Para ahli psikolog sosial merujuk istilah ironic process sebagai proses yang didasarkan pada cara kerja pikiran. Sehingga ironic process merupakan proses mental, di mana yang ironisnya ialah sifat proses mental seseorang seperti perubahan pikiran, gambaran internal, perasaan, sikap, dan lain sebagainya yang tidak terduga.
Ironic process theory pertama kali dilakukan penelitian oleh Daniel M. Wegner dengan kesimpulan dan penjelasan mengenai mekanisme ironic process theory selama penekanan pikiran. Penelitian yang Wegner lakukan mengungkapkan bahwa pikiran seseorang secara bersamaan terlibat dalam dua proses berbeda. Setiap prosesnya pun terlibat dengan tugas mental tertentu.
Dalam penelitiannya, Wegner menyatakan bahwa penekanan pikiran yang berhasil dalam mekanisme ironic process theory memerlukan dua proses mental yang berbeda, dan ini harus dilakukan secara bersamaan. Proses pertama adalah proses operasi, dan yang kedua ialah proses monitoring.
Pada proses operasi, pikiran menggunakan sumber daya mental untuk membuang pikiran, objek atau emosi yang tidak diinginkan yang terus-menerus ada dalam pikiran. Ia bekerja terus menerus sampai pikiran tersebut bisa jernih sepenuhnya.
Sedangkan pada proses monitoring, bertindak sebagai pendeteksi pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Proses ini kemudian menggantikannya dengan mengalihkan perhatian ke objek lain. Pada proses ini secara teori, selama penekanan pikiran, seseorang membuat catatan mental untuk menunggu dan kemudian melihat apakah pikiran yang tidak diinginkan muncul kembali. Proses pemantauan memeriksa contoh-contoh pemikiran yang akan ditekan. Lalu, ketika proses pemantauan mendeteksi pikiran yang tidak diinginkan, proses operasi akan mencoba mengganti pikiran yang tidak diinginkan tersebut dengan hal lain.
Ketika perhatian individu tertuju pada tugas lain, sumber daya mentalnya menjadi terbatas sehingga menyulitkan dalam melakukan proses pengoperasiannya. Namun proses pemantauan tetap berjalan, menyadarkan individu terhadap pemikiran-pemikiran yang tidak diinginkan tersebut. Penghentian proses operasi dan kelanjutan pemantauan mengurangi kemampuan mereka untuk menekan pikiran-pikiran tersebut, dan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan akhirnya menjadi lebih menonjol.
Teori ini menjelaskan efek peningkatan beban kognitif dengan menekankan bahwa jika terdapat upaya kognitif, proses pemantauan dapat menggantikan proses sadar, dan juga menyarankan bahwa agar penekanan pikiran menjadi efektif, keseimbangan antara kedua proses tersebut harus ada, dengan tuntutan kognitif tidak terlalu besar sehingga membiarkan proses pemantauan mengganggu proses sadar. Sebuah studi tahun 2006 menemukan bahwa perbedaan individu mungkin dapat menjelaskan perbedaan tersebut.
Baca juga: Mengetahui Ekstrovert Beserta 4 Jenis Tipe Nya
Penelitian Terkait Mekanisme Ironic Process Theory

Dalam penelitian di laboratorium, ketika seseorang menjadi cukup sibuk dengan tugas-tugas lain selain berusaha menekan pikiran yang tidak diinginkan, lebih sedikit sumber daya mental yang tersedia bagi orang tersebut untuk menjalankan proses operasinya. Dalam studi ini, peserta mengetahui bahwa tujuan mereka adalah menekan suatu pikiran. Namun, ketika perhatian dan fokus mental mereka beralih dari penekanan pikiran ke aktivitas mental baru lainnya, upaya sadar untuk menekan suatu pikiran berkurang atau berhenti, namun proses pemantauan terus berlanjut.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang mudah untuk terus memantau terjadinya pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Namun, ketika tugas dan aktivitas baru menyibukkan tubuh dan pikiran, proses pengoperasiannya melambat atau berhenti, yang merupakan proses lain yang diperlukan untuk menekan pemikiran yang tidak diinginkan. Sederhananya, sebagian pikiran terus memperhatikan pikiran yang tidak diinginkan, namun bagian pikiran yang lain tidak melakukan apa pun untuk menghilangkan pikiran yang tidak diinginkan tersebut, karena orang tersebut sibuk memproses informasi baru. Konsekuensi dari interaksi antara setiap proses ini adalah proses yang ironis.
Temuan penelitian penting terjadi ketika partisipan diminta melakukan pekerjaan mental lain selain sekadar menekan pikiran. Objek yang ingin mereka tekan menjadi semakin tidak terduga (ironisnya) dapat diakses dari ingatan. Yaitu pikiran untuk ditekan lebih sering muncul dalam benak mereka, karena mereka dibebani dengan lebih dari satu tugas mental yang harus dilakukan.
Tampaknya jika aktivitas cukup memenuhi pikiran, tujuan sederhana untuk menekan suatu pikiran justru menjadi tujuan yang sulit. Ironisnya, saat memproses, orang-orang menjadi sibuk dengan pikiran-pikiran yang mereka coba tekan, meskipun kontrol sukarela dilakukan dalam upaya untuk menekan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Psikolog belum memahami secara pasti mengapa dan bagaimana hal ini terjadi.
Baca juga: Euforia dan Penyebab Seseorang Bisa Mengalami Gembira yang Berlebihan
Sumber:
Admin. (2016, January 7). Ironic Processes (SOCIAL PSYCHOLOGY) – iResearchNet. Psychology. https://psychology.iresearchnet.com/social-psychology/control/ironic-processes/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



