Deeptalk.co.id – Pernahkah Anda menghadapi seseorang yang selalu diam dan enggan berbicara ketika ada masalah? Atau ketika Anda berdebat dengan hebat dengan pasangan Anda, lalu tiba-tiba pasangan Anda menghilang tanpa enggan menyelesaikan masalah sebelumnya? Mungkin Anda sedang mengalami silent treatment dari seseorang.
Pengalaman silent treatment seringkali digambarkan oleh seseorang yang memberikan penolakan untuk berbicara dengan orang lain. Perilaku silent treatment ini mungkin terjadi hingga melakukan penolakan secara total yang bahkan mereka enggan mengakui keberadaan orang lain. Ini termasuk menghindari kontak mata dengan lawan bicaranya. Tentunya sikap ini dapat sangat merusak dalam setiap hubungan, termasuk hubungan romantis sekalipun.
Sebagai manusia, tentunya memiliki koneksi dengan orang lain yang dapat memberikan dukungan, perhatian serta pengakuan. Terutama dalam hubungan yang intim, dimana Anda pasti mengharapkan pasangan selalu ada untuk Anda.
Namun, adanya silent treatment ini membuat gagalnya seseorang untuk memuaskan kerinduan tersebut sekaligus mencerminkan penahanan dan pengabaian emosional. Bisa dipastikan ini merupakan bentuk pemotongan hubungan agresi pasif.
Selain itu, terlibat dalam silent treatment sebagai orang dewasa telah ditemukan terkait dengan silent treatment yang mereka dapatkan dari orang tua mereka. Hal tersebut juga memiliki keterkaitan dengan harga diri yang lebih rendah.

Bahaya Silent Treatment
Silent treatment jelas-jelas telah menciptakan suasana emosi yang negatif. Perilaku ini menyebabkan ketidakbahagiaan dan kerusakan prikologis yang seringkali dapat mempertinggi konflik dalam suatu hubungan. Selain itu, silent treatment membuat seseornag merasakan kemarahan, pengabaian, penolakan, dan kesusahan secara keseluruhan.
Hal tersebut didasarkan pada satu penelitian oleh Guerro dan kawan-kawan pada tahun 2009 terhadap 581 pasangan. Dimana pasangan sebagai peserta penelitian tersebut melaporkan kepuasan yang jauh lebih sedikit ketika pasangan mereka menggunakan komunikasi emosional yang terpisah. Keengganan seperti itu juga ditemukan sebagai pemicu kuat untuk merasa dikucilkan, mengurangi harga diri, menurunkan nilai relasional, dan meningkatkan godaan untuk bertindak agresif terhadap pasangan.
Hal ini juga dapat membuat target perlakuan semacam itu merasa ragu-ragu dan menyalahkan diri sendiri, yang memicu kritik diri yang negatif. Selain itu, mereka yang menjadi sasaran silent treatment mungkin menjadi terobsesi dengan pemikiran mereka tentang apa yang perlu mereka lakukan untuk mengakhiri kesunyian.
Menjadi target silent treatment merupakan tantangan bagi siapa saja, tetapi sangat sulit bagi individu yang sudah memiliki harga diri rendah serta individu yang memiliki keterikatan kecemasan. Sebagian dari pola ini mencakup ketakutan akan stabilitas dan keterandalan hubungan kecemasan yang hanya dipicu oleh silent treatment. Selanjutnya, lebih dari yang lain, mereka mungkin cepat merasakan penolakan yang intens dan takut kehilangan.
Keheningan seperti itu dialami sebagai pengkhianatan dan pengabaian. Sebagaimana tercermin dalam satu penelitian oleh Sommer pada tahun 2010, target yang tidak dapat mengaitkan pengucilan dengan penyebab tertentu lebih mungkin mengalami ancaman terhadap rasa memiliki dan harga diri mereka daripada mereka yang dapat mengidentifikasi penyebab tertentu.
Baca juga: Pentingnya Merasakan Emosi Negatif Demi Kesejahteraan Diri
Silent Treatment Termasuk Mental Abusement?
Bagi pelaku silent treatment akan menganggap perilaku ini sebagai cara yang lumrah ketika menghadapi masalah. Karena menurut mereka, dengan cara ini mereka bisa berpikir lebih tenang sebelum menyelesaikan suatu masalah dan tidak ingin membesar-besarkannya.
Namun, nyatanya perilaku ini bisa menjadi salah satu bentuk mental abuse bagi orang lain yang terlibat atau yang menjadi korban. Hal ini karena perilaku silent treatment bisa menyebabkan trauma secara emosional.
Seseorang yang diabaikan merasakan berbagai macam emosi yang membingungkan. Mereka mungkin merasa marah, sedih, frustrasi, bersalah, putus asa, dan kesepian dalam satu waktu bersamaan. Secara alami, kebingungan emosional seperti itu dapat berdampak buruk pada jiwa korban silent treatment.
Berikut beberapa dampak yang diakibatkan terhadap emosi dan mental korban dari silent treatment :
– Menurunkan rasa harga diri. Saat Anda mendiamkan seseorang, Anda menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak penting, tidak berharga, dan tidak dapat dicintai. Itu bisa sangat menguras harga diri mereka juga meninggalkan konsekuensi yang serius.
– Menyebabkan masalah fisik. Saat Anda diabaikan, bagian otak Anda yang bertanggung jawab untuk mendeteksi rasa sakit akan aktif, memberi tahu bahwa sebenarnya Anda sedang terluka secara fisik. Ini juga dapat menyebabkan masalah pencernaan, sakit kepala, insomnia, dan penyakit fisik lainnya.
– Memiliki konsekuensi serius. Silent treatment, bila digunakan cukup lama, dapat memiliki efek negatif yang parah pada kesehatan mental dan fisik seseorang, bahkan setelah masa abusive berakhir dan selesai.
– Memanipulasi untuk melakukan hal-hal yang tidak akan dilakukan. Karena itu memiliki efek yang sangat kuat pada keadaan emosi Anda, silent treatment dapat menyebabkan Anda melakukan hampir semua hal dengan kekuatan Anda demi mendapatkan perhatian si manipulator.
Karena kekuatan yang cukup besar yang dapat diberikan oleh silent treatment kepada satu orang atas orang lain, ini menjadi taktik favorit individu yang narsistik dan manipulatif. Tentu saja, orang yang mengabaikan Anda mungkin sebenarnya tidak mencoba memanipulasi Anda. Namun, jika itu digunakan sebagai bentuk hukuman, berlangsung lebih lama, dan berakhir hanya jika Anda menyerah atau meminta maaf, kemungkinan besar pasangan Anda menggunakan silent treatment untuk mengendalikan Anda.
Baca juga: Cara Mengurangi Kebiasaan Negative Self-Talk
Sumber:
Golden, B. (2022, September 25). Why the Silent Treatment Is Such a Destructive Form of Passive-Aggression. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/overcoming-destructive-anger/202209/why-the-silent-treatment-is-such-destructive-form-passive
A. (2023, February 11). The Silent Treatment: Is It Abuse? PIVOT. https://www.lovetopivot.com/being-ignored-silent-treatment-relationship-control/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



