Semua artikel
Relationship

Bagaimana Ilmu Psikologis Memandang Perasaan Cinta?

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Dalam melibatkan hati dan pikiran, perasaan cinta telah menjadi fenomena manusiawi yang tak terpisahkan dari pengalaman hidup kita. Sebagai suatu emosi yang mendalam dan kompleks, cinta tidak hanya merangkum romantika namun juga melibatkan berbagai elemen psikologis yang memberikan makna yang mendalam pada koneksi antarindividu.

Artikel ini bertujuan untuk membahas definisi cinta dari perspektif psikologis, menggali aspek-aspek kompleks yang membentuknya. Melalui pemahaman mendalam terhadap psikologi cinta, kita dapat meresapi esensi dari perasaan yang menjadi pendorong utama interaksi manusiawi, membuka pintu menuju lapisan-lapisan emosional yang sering kali kompleks dan menarik.

Definisi Cinta Secara Psikologis

American Psychological Association (APA) mendefinisikan cinta sebagai emosi “kompleks” yang melibatkan kasih sayang terhadap individu lain, rasa kelembutan, sensitivitas terhadap tanggapan mereka, mengalami kesenangan karena individu lain, serta kesetiaan. Perpaduan emosi inilah yang membentuk pengalaman berlapis-lapis dan terkadang bisa mengubah hidup, yaitu cinta

Banyak orang menganggap jatuh cinta sebagai pengalaman emosional atau psikologis semata. Meskipun psikologi dan hubungan dianggap berkaitan erat, kenyataannya, jatuh cinta adalah pengalaman fisik dan emosional. Terdapat tanda-tanda fisik bahkan pada tahap awal ketertarikan saat merasakan emosi cinta. Ini meliputi jantung yang berdebar-debar, energi meningkat, telapak tangan berkeringat, fokus menyempit, sakit kepala ringan, dan masih banyak lagi.

Perubahan fisik ini menyertai perubahan emosional yang akan dialami saat individu merasa tertarik pada seseorang atau mulai jatuh cinta padanya. Namun, tubuh bukanlah satu-satunya yang mengalami perubahan ini saat jatuh cinta karena otak juga mengalaminya.

Tanda-tanda ketertarikan fisik ini sebenarnya disebabkan oleh perubahan pada otak. Dalam hal ini, otak dibanjiri dengan beberapa zat kimia saraf yang membuat merasa nyaman ketika jatuh cinta. Ini termasuk bahan kimia seperti dopamin, oksitosin, norepinefrin, dan feniletilamina, yang semuanya memainkan peran berbeda dalam proses tubuh, tidak hanya saat mengalami jatuh cinta.

Misalnya, dopamin, yang dikaitkan dengan perasaan pusing yang kita alami selama tahap pertama ketertarikan, juga memengaruhi berbagai fungsi otak. Ini termasuk aspek-aspek seperti motivasi, pembelajaran, perhatian, dan suasana hati. Namun, dopamin juga berhubungan langsung dengan sistem penghargaan otak dan pengalaman dengan kesenangan. Dalam hal ini, ketika individu merasakan imbalan yang lebih besar dari suatu tugas, biasanya terjadi peningkatan kadar dopamin di otaknya.

Hal ini, bersama dengan efek phenylethylamine dan norepinefrin yang mirip amfetamin, mungkin menjadi alasan utama seseorang mengalami reaksi fisiologis yang intens ketika merasa tertarik pada seseorang.

Dalam hal cinta romantis, psikologi juga memainkan peran penting pada siapa yang seseorang anggap menarik atau membuatnya jatuh cinta. Dalam hal ini, berbagai aspek kehidupan individu memengaruhi tipe orang yang cenderung membuatnya tertarik atau jatuh cinta. Pengalaman hidup, kesehatan emosional dan mental, serta latar belakang dan hubungan keluarga, semuanya dapat memengaruhi preferensi individu dalam memilih tipe orang yang dipilih sebagai pasangan romantis.

Itu karena orang biasanya tertarik pada calon pasangan romantis yang serupa dengan mereka, meskipun secara tidak sadar mereka tertarik pada pasangan tersebut. Oleh karena itu, meskipun seseorang secara konvensional menarik, individu mungkin tidak akan terhubung sekuat dengan orang lain jika keduanya tidak memiliki banyak kesamaan.

Ketertarikan halus terhadap kesamaan atau keakraban ini juga dianggap sebagai alasan utama kebanyakan orang memilih berkencan dengan orang yang memiliki status sosial ekonomi, ras, atau bahkan tingkat pendidikan yang sama.

Baca juga: Kecanduan Gadget yang Berbahaya Bagi Anak dan Cara Mengatasinya

Teori-Teori Psikologi Terkait Cinta

Psikologi mendefinisikan cinta sebagai emosi kompleks yang melibatkan banyak faktor. Faktor-faktor ini meliputi kasih sayang, kelembutan, sensitivitas, kesenangan, pengabdian, tindakan, pikiran, komunikasi, dan kontak fisik.

APA lebih lanjut menyebutkan teori “segitiga cinta” yang dikemukakan oleh psikolog Robert Sterberg. Menurut Sternberg, semua bentuk cinta terdiri dari berbagai tingkat elemen penting berikut:

1) Keintiman: Aspek cinta ini menyebabkan individu merasa dekat satu sama lain, dan melibatkan perasaan hangat, dan keterhubungan.

2) Gairah: Baik mentah maupun lembut, gairah melibatkan romansa, ketertarikan seksual, dan hubungan seksual.

3) Komitmen: Menggambarkan keinginan untuk tetap bersama, komitmen melibatkan perasaan ketekunan, menjaga hubungan, dan melewati badai.

Ketiga elemen penting tersebut pun yang kemudian mampu menciptakan tujuh bentuk cinta yang berbeda, yakni menyukai, cinta kososng, cinta romantis, cinta sahabat, cinta yang fatuous, serta cinta yang sempurna. Sternberg menekankan bahwa meskipun semua elemen ini berperan, penting bagi pasangan untuk berupaya mempertahankan cinta mereka, dengan secara teratur mengekspresikan berbagai aspeknya.

Berfokus secara khusus pada cinta romantis melalui definisi psikologis, psikolog Zick Rubin ingin menunjukkan dengan tepat “fakta” cinta tertentu yang berbasis psikologi. Oleh karena itu, ia mengemukakan teorinya sendiri yang berdasarkan empiris, yang menyatakan bahwa cinta romantis terdiri dari tiga elemen berikut:

1) Kemelekatan: Menjelaskan kebutuhan individu untuk bergantung pada pasangannya, dan diperhatikan olehnya.

2) Peduli: Menganggap kebahagiaan pasangannya sama pentingnya dengan kebahagiaan dirinya sendiri, dan juga siap berupaya meningkatkan kesejahteraan pasangannya.

3) Keintiman: Kebutuhan untuk berbagi pemikiran, perasaan, dan rahasia pribadi dengan pasangannya, bersamaan dengan kebutuhan akan eksklusivitas, melalui keyakinan bahwa mereka adalah satu-satunya individu yang memiliki hubungan terbuka dan rentan dengan pasangannya.

Rubin membuat dua kuesioner untuk mengukur kadar komponen tersebut. Penelitiannya menemukan perbedaan antara menyukai dan mencintai: menyukai seseorang biasanya dikaitkan dengan perasaan yang lebih tenang, seperti kesenangan, rasa hormat, dan kehangatan. Sebaliknya, mencintai seseorang secara romantis cenderung memunculkan perasaan yang lebih kuat, bahkan agresif, serta kemauan untuk memperjuangkan pasangan dan hubungannya.

Penelitian Rubin menemukan korelasi antara cinta romantis dan gairah, hasrat, posesif, dan pengabdian. Lebih khusus lagi, mereka yang mendapat nilai lebih tinggi pada skala cinta ternyata lebih sering menatap mata satu sama lain, dan pasangannya lebih cenderung menikah jika mereka mendapat nilai lebih tinggi pada skala “mencintai” yang lebih bergairah, kemudian pada skala “suka” yang lebih tenang.

Dengan kata lain, mereka yang merasakan ketertarikan pada pasangannya lebih besar kemungkinannya untuk memutuskan untuk menikah, dibandingkan dengan pasangan yang ciri khasnya adalah apresiasi terhadap nilai atau pendapat satu sama lain.

Baca juga: Simak Beberapa Strategi Untuk Mengatasi Social Overload Berikut Ini

 

Sumber:

https://www.brainsway.com/knowledge-center/the-psychology-of-love/

https://www.marriage.com/advice/love/psychology-behind-love-and-romance/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Bagaimana Ilmu Psikologis Memandang Perasaan Cinta? — DeepTalk