Deeptalk.co.id – Ada kalanya kamu merasa perlu untuk selalu menjaga kegembiraan orang lain, seakan-akan kebahagiaan itu lebih penting daripada kebahagiaanmu sendiri. Mungkin saja selama ini kamu adalah jenis orang yang dikenal sebagai ‘people pleaser’. Kami mengajakmu melihat lebih dalam dampak psikologis dari perilaku ini.
People pleaser secara umum diartikan sebagai seseorang dengan kecenderungan untuk memprioritaskan kepentingan orang lain daripada kepentingan mereka sendiri. Motivasi di balik perilaku ini dapat bervariasi, mulai dari rasa takut ditolak, keinginan untuk mendapatkan pengakuan, atau perasaan rendah diri saat tidak dapat menolong orang lain. Meskipun tampak positif dan disebut sebagai sifat mulia. Tapi, perilaku ini dapat berdampak buruk jika diterapkan secara ekstrem dan tanpa memperhitungkan kesejahteraan diri sendiri. Berikut adalah dampak psikologis yang bisa timbul dari perilaku ‘people pleaser’:
Stres dan Kecemasan

Pertama, mari kita pahami dulu apa yang dimaksud dengan stres dan cemas. Kita sebut saja stres itu seperti alarm dalam tubuh kita yang berbunyi saat kita berhadapan dengan tekanan atau ancaman. Sementara cemas, cenderung muncul ketika kita merasa khawatir atau takut akan sesuatu, baik itu nyata atau hanya berupa pikiran.
Nah, sekarang bayangkan kamu sebagai ‘people pleaser’. Kamu selalu merasa perlu untuk selalu menyenangkan orang lain, berusaha memenuhi apa yang mereka harapkan dan minta dari kamu. Tebak apa yang terjadi? Alarm stres dalam tubuh kamu mungkin berbunyi terus-terusan! Kamu merasa terus menerus di bawah tekanan untuk memenuhi harapan orang lain. Hal ini yang pada kenyataannya, hampir mustahil untuk dilakukan.
Sementara itu, ketakutan tidak dapat memenuhi ekspektasi orang lain atau ditolak bisa memicu perasaan cemas. Cemas juga bisa timbul dari rasa tidak memiliki kendali atas kehidupan kamu. Karena kamu merasa selalu harus menyesuaikan dengan keinginan orang lain.
Jadi, coba bayangkan lagi. Alarm stres terus berbunyi, sementara rasa cemas juga menghantui pikiran kamu. Mungkin ini adalah perasaan yang kamu alami sehari-hari sebagai ‘people pleaser’.
Baca juga: Demensia Bisa Dialami Anak Muda, Mengapa Demikian?
Kehilangan Identitas

Berdasarkan definisi, ‘people pleaser’ adalah seseorang yang cenderung berusaha keras untuk membuat orang lain senang. Bahkan kadangkala mereka mengabaikan keinginan dan kebutuhan mereka sendiri. Ini lah yang bisa menyebabkan seseorang merasa kehilangan identitas pribadi.
Sebagai orang yang berusaha keras untuk menyenangkan orang lain, ‘people pleaser’. Mereka sering kali memilih apa yang diinginkan orang lain daripada apa yang mereka inginkan. Ini bisa berarti mengorbankan minat, hobi, ataupun tujuan mereka sendiri. Selama waktu, inilah yang dapat menyebabkan ‘people pleaser’ merasa tidak tahu siapa mereka sebenarnya, atau kehilangan identitas mereka.
Selain itu, ‘people pleaser’ juga mungkin merasa harus mempertahankan imej atau peran tertentu. Yang dimana, mereka percayai akan membuat orang lain senang atau menerima mereka. Hal ini bisa meliputi perilaku, penampilan, atau bahkan pandangan politis dan agama. Seringkali, peran ini tidak mencerminkan siapa mereka sebenarnya, dan karenanya dapat membuat mereka merasa kehilangan identitas.
Dalam jangka panjang, kehilangan identitas bisa membuat ‘people pleaser’ merasa tidak bahagia. Akibat dari merasa frustrasi dan cemas. Karena mereka merasa terjebak dalam hidup yang tidak mereka inginkan dan tidak mencerminkan siapa mereka sebenarnya.
Kesulitan Mengambil Keputusan

Dampak yang paling utama adalah kesulitan mengambil keputusan. Sebagai ‘people pleaser’, kamu sering kali khawatir terhadap tanggapan orang lain. Kamu merasa bahwa setiap keputusan yang diambil harus mendapatkan persetujuan dari orang lain. Akibatnya, proses pengambilan keputusan menjadi lebih lambat dan tidak efisien. Pada jangka panjang, ini bisa membuat kamu lebih bergantung pada orang lain. Sehingga mengurangi kemampuan membentuk pendapat serta mempertahankan prinsip pribadi
Konflik dalam Hubungan

Menjadi ‘people pleaser’ juga berdampak pada hubunganmu dengan orang lain. Ketika kamu terus berusaha untuk memuaskan keinginan atau harapan orang lain. Maka kamu menjadi rentan menghadapi konflik dalam hubungan. Ini bisa terjadi karena kamu mungkin terpaksa mengejar kebahagiaan orang lain dan lupa pada keinginan serta kebutuhanmu sendiri. Di sisi lain, orang disekitarmu mungkin menganggap kamu tidak tulus atau hanya mencari muka. Hal ini dapat menurunkan kualitas hubungan dan memperburuk keadaan
Kurangnya Kepuasan Diri

Menjadi ‘people pleaser’ berdampak pada rasa kepuasan diri. Ketika kamu selalu berusaha memenuhi keinginan orang lain. Maka kamu bisa melupakan apa yang membuat kamu bahagia atau merasa puas. Ini bisa membuat kamu merasa kosong, tidak bahagia, dan kurang memahami apa yang sesungguhnya kamu inginkan dalam hidup
Memahami bahwa kamu adalah seorang people pleaser adalah langkah pertama untuk mengatasi dampak psikologisnya. Cobalah untuk mengevaluasi kenapa kamu perlu selalu menyenangkan orang lain dan mengorbankan diri sendiri.
Ingatlah bahwa tidak ada yang salah dengan ingin membuat orang lain senang dan bahagia. Namun, penting bagi kamu untuk juga mempertimbangkan kebutuhan dan keinginan sendiri. Hal ini penting agar kamu bisa merawat diri sendiri dan menjaga Kesehatan mentalmu.
Baca juga: Akathisia Atau Agitasi Psikomotor, Berikut Pengertian dan Penjelasannya
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



