Semua artikel
Gangguan Psikologi

Apa yang Menjadi Penyebab Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi?

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Gangguan depersonalisasi-derealisasi terjadi ketika Anda secara terus menerus atau berulang kali merasa bahwa Anda sedang mengamati diri sendiri dari luar tubuh. Atau juga bisa Anda merasa bahwa hal-hal di sekitar Anda tidak nyata. Perasaan tersebut bisa sangat mengganggu dan mungkin terasa seperti hidup dalam mimpi. Ada beragam faktor penyebab mengapa seseorang bisa mengalami gangguan depersonalisasi-derealisasi.

Banyak orang yang memiliki pengalaman depersonalisasi atau derealisasi melalui beberapa titik tertentu. Akan tetapi, ketika kondisi ini terus muncul atau sulit untuk hilang sama sekali serta mengganggu kemampuan Anda berfungsi dengan baik, bisa dipastikan kalau Anda mengidap gangguan depersonalisasi-derealisasi.

Seseorang yang mengalami pengalaman traumatis kemungkinan besar dapat mengalami gangguan ini. Gangguan depersonalisasi-derealisasi bisa sangat parah dan dapat mengganggu hubungan, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari lainnya. Anda yang mengalami gangguan ini akan menyadari bahwa rasa keterpisahan Anda hanyalah perasaan semata dan bukan kenyataan.

Pengalaman dan perasaan ketika gangguan ini kambuh bisa sulit untuk dijelaskan. Anda bahwa khawatir tentang “menjadi gila” sehingga Anda sibuk memeriksa apakah Anda benar-benar ada dan menentukan apa yang benar-benar nyata.

Gejala biasanya dimulai pada pertengahan hingga akhir remaja atau awal masa dewasa dan jarang terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua. Perawatan utama untuk gangguan ini ialah terapi bicara (psikoterapi) meskipun terkadang obat juga diperlukan.

Penyebab Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi

Hingga saat ini, penyebab pasti dari gangguan depersonalisasi-derealisasi masih belum diketahui, meskipun korelasi dan pemicu biopsikososial telah diidentifikasi. Diperkirakan bahwa gangguan ini dapat disebabkan oleh respons biologis terhadap situasi berbahaya atau mengancam jiwa yang menyebabkan peningkatan indra dan mati rasa emosional.

Psikososial

Aspek psikososial mencakup relasi yang dinamis antara psikologi dengan lingkungan sosial seseorang. Pada diagnosis penyebab gangguan depersonalisasi-derealisasi ini, trauma interpersonal masa kanak-kanak, khususnya pelecehan emosional menjadi prediktor yang signifikan. Fakta ini dibuktikan dengan adanya banyak bukti yang menghubungkan pelecehan fisik dan seksual di masa kanak-kanak dengan perkembangan gangguan disosiatif.

Beberapa penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa pelecehan emosioal yang lebih besar dan pelecehan fisik yang lebih rendah mempresiksi depersonalisasi pada wanita dewasa dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Pasien dengan riwayat pelecehan interpersonal (HIA) yang tinggi pun menunjukkan skor yang jauh lebih tinggi pada Skala Depersonalisasi Cambridge. Termasuk pelecehan dari orang tua yang cenderung berkorelasi dengan keparahan gejala disosiatif.

Selain pengalaman traumatis, pemicu gangguan umum lainnya termasuk stres berat, gangguan depresi mayor, serangan panik, dan zat psikoaktif. Orang-orang yang hidup dalam budaya yang sangat individualistis mungkin lebih rentan terhadap depersonalisasi, karena hipersensitivitas terhadap ancaman dan lokus kendali eksternal.

Baca juga: Ini Dia Alasan atau Penyebab Mengapa Kamu Terjebak Abandonment Issue

Neurobiologi

Pada aspek neurobiologi untuk penyebab gangguan depersonalisasi-derealisasi, ada hubungan yang menunjukkan korteks prefrontal yang dianggap berperan dalam gangguan ini. Ada bukti konvergen bahwa korteks prefrontal dapat menghambat sirkuit saraf yang biasanya membentuk dasar pengalaman emosional.

Dalam studi fMRI terhadap pasien gangguan depersonalisasi-derealisasi, adegan permusuhan emosional mengaktifkan korteks prefrontal ventral kanan. Peserta menunjukkan berkurangnya respons saraf di daerah yang sensitif terhadap emosi, serta peningkatan respons di daerah yang terkait dengan regulasi emosi.

Sedangkan dalam tes memori emosional yang serupa, pasien gangguan depersonalisasi tidak memproses materi yang menonjol secara emosional dengan cara yang sama seperti kontrol yang sehat. Dalam tes konduktansi kulit terhadap rangsangan yang tidak menyenangkan, subjek menunjukkan mekanisme penghambatan selektif pada pemrosesan emosional.

Selain itu, studi lain juga mulai menunjukkan bahwa persimpangan temporoparietal memiliki peran dalam intergrasi multisensor, perwujudan, dan perbedaan nilai-nilai. Beberapa penelitian yang menganalisis temuan MRI otak dari pasien DPDR menemukan penurunan ketebalan kortikal di gyrus temporal tengah kanan, pengurangan volume materi abu-abu di caudate kanan, talamus, dan girus oksipital, serta integritas materi putih yang lebih rendah di temporal kiri dan temporoparietal daerah kanan. Namun, tidak ada perubahan struktural di amigdala yang teramati.

Pemindaian PET pun menemukan kelainan fungsional di korteks visual, pendengaran, dan somatosensori, serta di area yang bertanggung jawab untuk skema tubuh yang terintegrasi. Sedangkan satu studi lainnya yang meneliti pembacaan EEG menemukan overaktivasi gelombang alfa frontal dan peningkatan gelombang aktivitas theta di wilayah temporal belahan otak kiri.

Masih belum jelas apakah genetika berperan sebagai penyebab gangguan depersonalisasi-derealisasi. Namun, ada banyak perubahan neurokimia dan hormonal pada individu dengan gangguan depersonalisasi. Gangguan ini mungkin terkait dengan disregulasi aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal, yang merupakan area otak yang terlibat dalam respons “fight-or-flight”.

Pasien gangguan depersonalisasi-derealisasi menunjukkan tingkat kortisol abnormal dan aktivitas basal. Studi juga menemukan bahwa pasien dengan gangguan depersonalisasi-derealisasi dapat dibedakan dari pasien dengan depresi klinis dan gangguan stres pasca trauma.

Sistem vestibular juga dapat berperan dalam gangguan depersonalisasi-derealisasi. Sistem vestibular membantu mengontrol keseimbangan, orientasi spasial, koordinasi motorik, tetapi juga berperan dalam kesadaran diri. Gangguan pada sistem ini berpotensi menyebabkan perasaan terlepas dari lingkungan sekitar. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa pasien dengan penyakit vestibular perifer juga lebih cenderung memiliki gejala disosiatif bila dibandingkan dengan individu yang sehat.

Baca juga: Apa Itu Silent Treatment? Sengaja Mendiamkan Orang Yang Dikesalkannya

 

Sumber:

Depersonalization-derealization disorder – Symptoms and causes. (2017, May 16). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/depersonalization-derealization-disorder/symptoms-causes/syc-20352911

Depersonalization-derealization disorder – Wikipedia. (2020, September 15). Depersonalization-derealization Disorder – Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Depersonalization-derealization_disorder

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Apa yang Menjadi Penyebab Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi? — DeepTalk