Semua artikel
Relationship

Apa Itu Man-Child dan Tanda-Tandanya Dalam Hubungan

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia6 menit baca

Deeptalk.co.id – Seiring berjalannya waktu, kita telah sering mendengar istilah “man-child” atau “pria seperti anak-anak” yang digunakan untuk menggambarkan seorang pria dewasa yang masih menunjukkan tanda-tanda ketidakmatangan dan perilaku yang lebih sering dikaitkan dengan anak-anak atau remaja. Ini adalah fenomena yang semakin mendapat perhatian dalam diskusi tentang hubungan dan perkembangan pribadi.

Artikel ini akan membahas apa yang dimaksud dengan perilaku “man-child,” serta ciri-ciri yang mengidentifikasikannya. Kita akan mengeksplorasi dampak dari perilaku ini pada individu dan hubungan mereka, serta bagaimana menghadapinya dengan bijak.

Apa Itu Man-Child?

Istilah man-child merujuk pada sikap yang terjadi pada laki-laki dengan menunjukkan pola respons dan perilaku yang tidak dewasa secara emosional. Perilaku man-child ini muncul pertama kali dengan julukan Peter-Pan Syndrome pada tahun 1980-an yang dipopulerkan oleh seorang psikolog bernama Dan Kiley dalam bukunya yang berjudul “The Peter Pan Syndrome: Men Who Have Never Grown Up.”

Seperti namanya, orang dengan Peter-Pan Syndrome menolak untuk tumbuh dewasa. Demikian pula dengan orang yang memiliki pasangan dengan perilaku man-child mungkin kerap mengeluhkan sikap pasangan lelakinya yang tidak bisa bersikap dewasa dalam hubungan mereka.

Meskipun demikian, baik Peter-Pan Syndrome dan juga perilaku man-child bukanlah termasuk diagnosis psikiatris resmi. Perilaku atau sindrom tersebut tidak tercantum dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5) dan tidak diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Akan tetapi, tentunya label man-child ini tidak bisa sembarang digunakan untuk mendeskripsikan sikap seseorang. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa Anda gunakan untuk mempertanyakan mengenai sikap seseorang yang terkait dengan perilaku man-child ini, yakni:

  • Apakah Anda frustrasi dengan apa yang Anda anggap sebagai kurangnya perkembangan emosional, sosial, dan mental?
  • Apakah Anda merasa bahwa sifat-sifat tertentu yang awalnya membuat Anda tertarik pada pasangan dan dulu Anda sukai (seperti kepribadian yang santai dan suka bersenang-senang) kini menyebabkan kesulitan dalam hubungan Anda?
  • Apakah Anda terkadang merasa seperti sedang berbicara dengan seorang remaja dibandingkan dengan orang dewasa ketika Anda mencoba mengajak mereka berdiskusi?
  • Apakah perilaku mereka tidak dewasa, tidak bertanggung jawab, dan tidak dapat diandalkan?
  • Menanggapi perilaku mereka, apakah Anda merasa harus bekerja ekstra keras untuk memberikan kompensasi atau bahkan menutupinya?

Baca juga: Memahami Tantrum yang Sering Dialami Oleh Anak

Tanda-Tanda Perilaku Man-Child

Ada beragam tanda yang diasosiasikan dengan seseorang yang digambarkan sebagai man-child atau lelaki yang belum dewasa. Beberapa perilaku tidak dewasa pada seseorang mungkin bisa berlaku secara umum terjadi pada siapapun, namun ada beberapa tanda lainnya yang bisa menunjukkan indikasi perilaku man-child pada seseorang. Tanda-tanda berikut ini bisa muncul pada orang dewasa mana pun yang belum mencapai tingkat kematangan emosi tertentu.

1) Tidak Memiliki Batasan Dengan Orang Tuanya

Para man-child yang belum dewasa secara emosional terkadang memiliki hubungan yang intens dan tidak berfungsi dengan orang tuanya. Bagi seorang laki-laki, ini sering terjadi ketika mereka berhubungan dengan ibu mereka.

Dinamika yang tidak sehat ini biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan kadang-kadang disebut sebagai keterjeratan. Ketika seorang laki-laki terikat dengan ibunya, dia mungkin akan terus bergantung pada ibunya untuk memenuhi kebutuhan emosional, sosial, praktis, dan finansialnya (bahkan ketika dia sedang dalam masa pertumbuhan atau ketika menjalani hubungan dewasa berpasangan).

2) Cenderung Mengatasi Stres dengan Cara yang Tidak Sehat

Orang yang belum dewasa seringkali tidak memiliki cara yang sehat untuk mengatasi stres. Mereka mungkin menggunakan aktivitas tertentu untuk menghindari perasaan, tanggung jawab, atau hal lain yang menyebabkan mereka stres.

Orang dewasa yang matang secara emosional mungkin melakukan hobi menghilangkan stres, curhat kepada teman sambil minum kopi, bekerja dengan terapis, atau menggunakan olahraga untuk menghilangkan stres. Sedangkan seorang man-child mungkin mengembangkan kecanduan terhadap aktivitas yang mendorong penghindaran dan pelarian, seperti video game.

3) Mereka Tidak (atau Tidak Mau) Membantu di Rumah

Seseorang yang belum dewasa mungkin kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap beberapa aspek kehidupan sehari-hari orang dewasa, seperti membayar tagihan atau melakukan tugas-tugas rumah tangga. Mereka mungkin menolak membantu memasak, membersihkan, atau mencuci pakaian.

Jika diminta membantu pekerjaan rumah, man-child ini mungkin akan merespons dengan marah. Mereka mungkin perlu disuap atau menuntut kompensasi untuk melakukan tugas-tugas yang hanya merupakan bagian rutin dari menjaga rumah dan berfungsi sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab.

Selain itu, perilaku man-child ini membawa pada kurangnya kesadaran mereka akan perlunya perawatan diri. Sehingga pasangannya mungkin perlu mengingatkannya untuk menyikat gigi, bercukur atau mandi. Man-chilc ini juga perlu disadarkan tentang pakaian apa yang pantas untuk acara atau acara sosial. Pasangannya mungkin perlu memberi tahu mereka apa yang harus dikenakan atau bahkan menyiapkan pakaian untuknya.

4) Selalu Menghindari Percakapan Serius

Ketika seorang man-child dilibatkan dalam sebuah percakapan serius, atau ketika pasangannya mengomel dengan mengemukakan masalah atau keluhannya yang lebih dalam, ia justru akan mengalihkan topik, fokus dengan ponselnya dan berusaha untuk menghindarinya. Atau mereka justru membalikkan keadaan dengan memberi tahu kesalahan apa yang pasangannya lakukan dalam hubungan tersebut.

Hal terakhir yang diinginkan oleh man-child adalah konfrontasi, dan dia akan melakukan apa saja untuk menghentikan hal tersebut. Saat Anda mencoba menyampaikan sesuatu yang serius kepada dia, lihat apakah Anda adalah orang yang mundur dari percakapan dengan meminta maaf atas kesalahan yang Anda lakukan. Apakah Anda merasa maksud awal Anda tidak pernah terjawab dan Anda akhirnya membicarakan kesalahan yang Anda lakukan yang memicu perilaku buruknya?

5) Tidak Bisa Mengekspresikan Emosi dengan Tepat

Orang yang kurang memiliki kematangan emosi seringkali tidak memiliki wawasan yang baik tentang diri sendiri atau perilakunya. Mereka mungkin tidak percaya atau menolak untuk melihat bahwa perilaku mereka tidak berfungsi atau tidak sehat.

Seseorang yang kurang dewasa mungkin kesulitan menjelaskan perasaannya. Mereka mungkin kesulitan memecahkan masalah ketika menghadapi tantangan. Orang yang belum dewasa secara emosional mungkin sering mengeluh, merengek, dan bersikeras bahwa dirinya diperlakukan tidak adil. Mereka bisa jadi picik dan mungkin “mencatat skor” ketika berdebat.

Kadang-kadang, seseorang yang belum dewasa bisa saja mengamuk—terutama saat dia merasa diremehkan, disalahkan, atau “dipanggil” dengan cara tertentu. Pria yang berharap atau merasa berhak diperlakukan dengan cara tertentu oleh pasangannya mungkin akan “bertindak” jika merasa kebutuhannya tidak terpenuhi atau diabaikan.

Pria yang tidak dewasa secara emosional yang menjadi orang tua bahkan mungkin merasa terancam oleh anak-anaknya sendiri. Misalnya, seorang pria mungkin akan kesal jika pasangannya memprioritaskan kebutuhan anak di atas kepentingannya sendiri (perilaku yang juga umum terjadi pada orang tua yang narsistik).

6) Lingkup Pertemanan yang Belum Dewasa

Para man-child mungkin lebih suka menghabiskan waktu bersama orang lain yang juga kurang memiliki kematangan emosi. Orang-orang ini cenderung tidak mempertanyakan, mengkritik atau menantang perilaku man-childnya.

Anda mungkin menyadari bahwa Anda tidak menyukai banyak teman pasangan Anda karena perilaku mereka. Anda bahkan mungkin menganggap teman-teman ini sebagai “pengaruh buruk” atau khawatir bahwa mereka memicu perilaku tidak dewasa pasangan Anda.

Faktanya, semakin kekanak-kanakan pasangan pria Anda, Anda mungkin akan semakin “keibuan” di hadapannya. Sulit untuk melepaskannya jika Anda merasa hanya Anda yang mengawasi kontrolnya. Dan lebih sulit lagi untuk memiliki hubungan romantis orang dewasa yang berkembang dengan seseorang yang mengagungkan masa kuliahnya atau terus-menerus ingin bergaul dengan teman laki-lakinya. Anda mungkin merasa lebih sering sendirian dan, saat bersama, Anda tidak benar-benar bersenang-senang dan menikmati satu sama lain.

Baca juga: Apakah Kecanduan Berasal Dari Faktor Genetik?

 

Sumber:

https://www.verywellmind.com/is-your-husband-a-man-child-2302510

https://www.psychologytoday.com/us/blog/having-sex-wanting-intimacy/201510/5-signs-you-might-be-dating-man-child

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Apa Itu Man-Child dan Tanda-Tandanya Dalam Hubungan — DeepTalk