Semua artikel
Gangguan Psikologi

Anxiety Disorder : Seberapa Serius Gangguan Agoraphobia?

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Fobia atau phobia sudah merupakan salah satu gangguan mental yang cukup familiar. Fobia sendiri merupakan bagian dari gangguan kecemasan yang ditandai dengan adanya perasaan cemas atau ketakutan berlebih terhadap suatu hal.

Kamu pasti pernah menemukan setidaknya satu orang dalam hidup mu yang mengalami gangguan fobia. Contohnya saja fobia pada kucing, dimana penderitanya akan merasa takut berlebih saat berhadapan dengan kucing. Bahkan dalam beberapa kasus, penderita fobia kucing tidak bisa mendengar kata “kucing” atau sekedar melihat gambar kucing.

Jika kamu sudah cukup familiar dengan gangguan fobia, apakah kamu mengenal gangguan agoraphobia? Jika belum, silahkan baca artikel ini sampai habis. Karena kami akan membahas secara detail mengenai gangguan tersebut dalam artikel ini.

Apa Itu Gangguan Agoraphobia?

Sebelum membahas lebih detail mengenai gangguan agoraphobia, kamu perlu mengetahui arti dari agoraphobia itu sendiri. Agoraphobia merupakan bagian dari gangguan fobia, tepatnya masuk kategori fobia kompleks.

Agoraphobia sendiri ditandai dengan perasaan takut berlebih saat berada di sebuah tempat yang membuatnya kesulitan untuk pergi dari tempat itu, atau kesulitan untuk meminta pertolongan dari siapapun.

Penderita agoraphobia umumnya akan merasa cemas atau panik berlebih saat berada di tempat tertutup seperti mall, bioskop, dan tempat tertutup semacam itu. Selain itu, mereka juga merasakan hal yang sama di tempat terbuka seperti lapangan, jembatan, area parkir, dan tempat sejenisnya. Tempat-tempat lain seperti transportasi umum, tempat-tempat ramai, atau bahkan sekedar meninggalkan rumah sendirian juga akan membuat mereka merasa cemas berlebih.

Karena alasan-alasan di atas, penderita agoraphobia akan lebih merasa aman saat berada di rumah. Jika hendak bepergian, mereka akan lebih merasa tenang jika ada orang lain yang dipercaya bisa menemaninya.

Agoraphobia umumnya dialami oleh remaja dan orang dewasa, khususnya wanita usia 35 tahun. Meski demikian, tidak menuntut kemungkinan anak-anak juga bisa mengalami gangguan tersebut.

Walaupun penderita agoraphobia dan fobia sosial sama-sama memiliki kecenderungan untuk menghindari tempat-tempat umum, namun keduanya memiliki perbedaan dari segi alasannya. Pada penderita fobia sosial perilaku menghindarnya didasari oleh rasa takut akan interaksi sosial. Sedangkan penderita agoraphobia, perilaku menghindarnya didasari oleh rasa takut berada di tempat yang membuat mereka kesulitan untuk melarikan diri atau mencari pertolongan.

Penyebab Gangguan Agoraphobia

Sama dengan kebanyakkan gangguan psikologis lainnya, hingga saat ini belum bisa dipastikan apa yang menyebabkan seseorang memiliki gangguan agoraphobia. Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dipercaya dapat meningkatkan resiko agoraphobia, yaitu:

Riwayat kondisi psikologis

Seseorang yang memiliki riwayat serangan panik atau gangguan fobia jenis lain, memiliki resiko mengalami gangguan agoraphobia.

Kejadian traumatis

Seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis seperti korban kekerasan seksual, penyerangan fisik, ditinggalkan orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya, beresiko mengalami gangguan agoraphobia.

Genetik

Seseorang yang memiliki riwayat keluarga penderita agoraphobia akan beresiko memiliki gangguan yang sama.

Baca juga: Seberapa Bahaya FOMO Bagi Kesehatan Mental?

Gejala Gangguan Agoraphobia

Rasanya kurang tepat jika kita belum membahas gejala dari agoraphobia itu sendiri. Saat berada di kondisi yang memicu gangguan agoraphobia, penderita agoraphobia akan menunjukkan gejala fisik dan gejala psikologis. Berikut bentuk gejalanya:

Gejala fisik

Adapun gejala fisik yang ditunjukkan berupa jantung berdebar lebih kencang, tubuh berkeringat dan gemetar, kesusahan untuk bernafas, merasa panas dingin, mual diare, pusing, hingga terasa nyeri pada dada.

Gejala psikologis

Sedangkan gejala psikologis yang rasakan berupa adanya perasaan takut akan kehilangan nyawa akibat serangan panik, merasa tidak mampu lari dari situasi tersebut, ketakutan akan pandangan buruk orang lain terhadapnya, hingga selalu merasa takut jika sendiri dan selalu merasa butuh untuk didampingi oleh orang lain.

Penanganan pada Penderita Gangguan Agoraphobia

Seperti yang telah kamu baca, gejala yang ditunjukkan oleh penderita agoraphobia memang memiliki kesamaan yang cukup signifikan dengan gangguan fobia lainnya. Untuk itu, jika kamu atau orang disekitar mu memiliki gejala tersebut, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Diagnosis yang tepat dibutuhkan untuk menganalisis penanganan apa yang cocok untuk meringankan gejala tersebut. Psikiater umumnya akan memberikan penanganan berupa peresepan obat-obatan, sedangkan psikolog akan menyarankan beberapa psikoterapi atau terapi psikologis.

Obat-obatan yang umum diresepkan berupa fluoxetine atau sertaline yang berfungsi untuk meminimalisir gejala depresi. Bisa juga benzodiazepine untuk meringankan gejala gangguan cemas. Obat-obatan tersebut tentu hanya bisa dibeli menggunakan resep dokter.

Untuk psikoterapi biasanya akan berupa terapi perilaku kognitif, yang bertujuan untuk merubah pola pikir terhadap hal-hal yang membuat mereka merasa takut. Selain itu, bisa jadi psikolog akan memberikan terapi lain yang memang dianggap perlu.

Baik obat-obatan maupun psikoterapi, keduanya akan disesuaikan dengan gejala yang ditunjukkan dan seberapa tinggi tingkat keparahan gangguan tersebut. Untuk itu juga, diagnosa harus dilakukan oleh para ahli. Jangan sampai melakukan self diagnosis! Hal tersebut hanya akan membuat kamu merasa down dan tidak mendapatkan penanganan yang sesuai dengan apa yang kamu butuhkan.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Anxiety Disorder: Kenali Macam-Macam Gangguan Fobia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Anxiety Disorder : Seberapa Serius Gangguan Agoraphobia? — DeepTalk