Semua artikel
Gangguan Psikologi

Anxiety Disorder: Mengenal Gangguan Obsesi Kompulsif (OCD)

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Kebiasaan mencuci tangan memang meruapakan kebiasaan yang baik. Selain dapat menjaga kebersihan, mencuci tangan juga akan membantu seseorang untuk terhindar dari berbagai jenis bakteri yang menyebabkan penyakit. Namun, apakah selalu mencuci tangan merupakan hal yang baik?

Dalam kasus berbeda, mencuci tangan bisa menjadi pertanda seseorang mengalami gangguan mental. Mencuci tangan dalam hal ini yaitu kegiatan mencuci tangan berulang-ulang, walau sebenarnya tangan sudah dalam kondisi bersih. Gangguan yang dimaksud ada gangguan obsesif kompulsif.

Gangguan obsesif komulsif tidak selalu tentang mencuci tangan, namun juga bisa mengecek pintu secara berulang, atau merapikan suatu tempat berulang kali walaupun sebenarnya tempat tersebut sudah cukup rapi.

Untuk mengenal lebih detail mengenai gangguan obsesif kompulsif, kamu bisa lebih lanjut dalam artikel ini!

Pengertian Gangguan Obsesif Kompulsif

Gangguan obsesif kompulsif atau obsessive compulsive disorder (OCD) merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan adanya perilaku tertentu yang dilakukan secara berulang-ulang. Tindakan berulang ini dilakukan untuk mengurangi kecemasan yang mereka rasakan.

Gangguan obsesif kompulsif

Seperti yang dilansir pada artikel terbitan RSJ Grhasia, gangguan obsesif kompulsif menempati 2-3% populasi umum, dimana penderitanya berusia  sekitar 20 tahun. Meski demikian, gangguan ini juga bisa dirasakan oleh semua kelompok usia. Selain itu, remaja laki-laki juga berpotensi lebih besar mengalami gangguan obsesif kompulsif dibandingkan dengan remaja perempuan.

Penderita gangguan obsesif kompulsif sebenarnya menyadari hal tindakan berlebihan ini, hanya saja mereka tidak bisa jika tidak melakukan tindakan tersebut. Karena tidak bisa mengontrol apa yang mereka rasakan, gangguan obsesif kompulsif ini tentu menjadi pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan penderitanya.

Penyebab Gangguan Obsesif Kompulsif

Gangguan obsesif kompulsif merupakan bagian dari gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Sama dengan gangguan kecemasan pada umumnya, penyebab pasti dari gangguan obsesif kompulsif juga belum diketahui hingga saat ini.

Meski demikian, terdapat beberapa faktor yang dipercaya dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan obsesif kompulsif, yaitu:

Genetik

Banyak penelitian yang menyatakan bahwa disregulasi serotonin akan mempengaruhi terbentuknya perilaku obsesif kompulsif. Meski demikian, serotonin belum bisa dipastikan sebagai penyebab dari gangguan obsesif kompulsif.

Selain itu, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan obsesif kompulsif akan berpotensi memiliki gangguan yang sama.

Kejadian traumatis

Kejadian traumatis seperti menjadi korban bullying, diintimidasi, korban pelecehan, atau mengalami pengabaian saat kecil, dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami gangguan obsesif kompulsif.

Kepribadian

Seseorang yang memiliki kepribadian yang rapi, teratur, teliti, dan memiliki standar tinggi dalam kehidupannya dapat meningkatkan resiko gangguan obsesif kompulsif. Selain itu, memiliki rasa tanggung jawab yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain juga dapat meningkatkan resiko gangguan obsesif kompulsif.

Baca juga: Rasa Takut Terhadap Wanita Cantik. Ini Dia Gangguan Venustraphobia

Gejala Gangguan Obsesif Kompulsif

Penderita obsesif kompulsif umumnya mengalami beberapa gejala yang bisa jadi berbeda antara satu dan lainnya. Beberapa penderita hanya mengalami gejala pikiran obsesif, atau hanya gejala perilaku kompulsif, beberapa lainnya justru mengalami kedua gejala tersebut.

Selain itu, gejala gangguan obsesif kompulsif juga umumnya ditunjukkan pada masa remaja atau dewasa. Meski demikian, tidak menuntut kemungkinan gejala gangguan ini bisa ditunjukkan pada usia anak. Walaupun pada anak memang menunjukkan gejala yang sedikit berbeda dibandingkan dengan remaja dan dewasa.

Pikiran obsesif

Obsesif sendiri merupakan gangguan pada pikiran yang terjadi berulang-ulang yang menimbulkan perasaan cemas berlebih. Pikiran inilah yang sering kali mendorong seseorang untuk melakukan perilaku kompulsif. Pikiran ini cukup mengganggu karena bisa muncul secara tiba-tiba saat penderita sedang melakukan sesuatu.

Adapun gejala yang ditunjukkan bisa berupa:

Perasaan takut berlebih akan tertular penyakit jika bersentuhan dengan orang lain atau benda-benda tertentu;

Sangat tidak menyukai bahkan sampai mengganggu pikiran jika melihat sesuatu yang berantakan atau sekedar susunan yang tidak simetris;

Perasaan takut akan membahayakan orang lain atau diri sendiri;

Selalu menjaga lisan karena takut akan menyinggung perasaan orang lain, dan

Khawatir membuang barang yang telah dikumpulkan.

Perilaku kompulsif

Kompulsif sendiri merupakan perilaku  yang dilakukan secara berulang-ulang untuk mengurangi perasaan cemas akibat pikiran obsesif. Berikut gejala dari perilaku kompulsif:

·   Mencuci tangan berulang kali walaupun tangan sudah sangat bersih;

·   Selalu merapikan barang-barang yang menurut dia kurang rapih, atau menyusun kembali susunan yang dianggap tidak simetris;

·   Selalu mengecek pintu berulang kali, atau mengecek apakah kompor sudah dimatikan atau tidak. Tindakan tersebut dilakukan walaupun sudah dilakukan beberapa kali sebelumnya;

·   Mengulangi kalimat yang akan diungkapkan kepada orang lain di dalam hati berulang kali, untuk memastikan kalimat mereka tidak menyinggung perasaan orang lain.

·   Mengumpulkan barang-barang yang tidak berguna seperti koran bekas, surat, struk belanja dan lain sebagainya.

Gejala gangguan obsesif kompulsif pada anak

Gejala obsesif pada anak umumnya sama dengan yang dialami oleh orang dewasa dan remaja, namun beberapa gejala mungkin akan berbeda. Berikut gejala yang bisa orang tua perhatikan:

·   Berulang kali mengganti pakaian karena dirasa kotor. Padahal pakaian tersebut masih tampak bersih;

·   Memiliki tempat penyimpanan untuk benda-benda tertentu dan marah jika dipindahkan;

·   Hanya menggunakan toilet tertentu jika berada di tempat umum;

·   Menggunakan sabun secara berlebihan, dan

·   Tidak senang berbagi barang dengan orang lain.

Jika kamu atau orang sekitar memiliki gejala di atas, sebaiknya segera konsultasikan dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga: Kenali Jenis-Jenis Gangguan Stress Pasca Trauma

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Anxiety Disorder: Mengenal Gangguan Obsesi Kompulsif (OCD) — DeepTalk