Deeptalk.co.id – Perasaan senang dan bahagia pada dasarnya merupakan perasaan yang paling mudah untuk dikenali. Pasalnya, hampir setiap orang memang menantikan hadirnya perasaan tersebut. Selain dapat meningkatkan suasana hati, tidak jarang perasaan tersebut juga mendorong kita menjadi lebih produktif. Perasaan senang ini seringkali berkaitan dengan hal-hal positif. Maka tidak heran jika banyak orang yang mendambakan hadirnya perasaan tersebut.
Walaupun perasaan senang cukup mudah untuk dikenali bagi sebagian besar orang, sayangnya beberapa orang bahkan kesulitan untuk merasakan perasaan tersebut. Kondisi semacam ini biasanya dikaitkan dengan masalah psikologis yang dikenal dengan istilah anhedonia.
Lantas, seperti apa anhedonia itu? Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai anhedonia. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang-orang terdekatmu mengalami beberapa kondisi yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater. Dengan begitu, kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasan mengenai kondisi anhedonia.
Apa Itu Anhedonia?

Anhedonia adalah kondisi psikologis dimana seseorang kesulitan untuk menikmati atau merasakan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-harinya. Orang dengan kondisi anhedonia sering kali merasa bosan dengan hidupnya karena disebabkan oleh perasaan yang jauh dari kata bahagia.
Mungkin sekilas kondisi anhedonia ini mirip dengan rasa bosan pada umumnya. Namun kenyataannya, anhedonia dan rasa bosan merupakan dua hal yang berbeda. Perasaan bisa bisa hilang dengan sendirinya, terutama saat kita sudah mulai menemukan kegiatan yang kita senangi. Hal ini berbeda dengan anhedonia yang cenderung menetap, dan bahkan tidak bisa merasa senang walau sedang melakukan aktivitas yang disukai.
Pada dasarnya, kondisi anhedonia ini terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:
Anhedonia sosial
Jenis pertama adalah anhedonia sosial. Orang dengan anhedonia memiliki ciri khas yaitu kesulitan untuk menikmati aktivitas-aktivitas sosial, termasuk berinteraksi, bergabung dengan orang-orang di lingkungan sosial, hingga beradaptasi dengan lingkungan baru. Anhedonia sosial membuat penderitanya justru merasa tidak nyaman dalam melakukan aktivitas semacam itu.
Anhedonia fisik
Jenis kedua adalah anhedonia fisik. Seperti namanya, anhedonia fisik adalah kondisi dimana seseorang tidak bisa merasakan atau menikmati kebahagiaan dengan segala hal yang berhubungan dengan aktivitas fisik. Misalnya tidak bisa menikmati rasa makanan, sentuhan fisik, atau aroma yang wangi.
Baca juga : Mengenal Ciri-Ciri dan Cara Menjadi Optimis
Penyebab Anhedonia

Sayangnya hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab seseorang mengalami kondisi anhedonia. Meski demikian, banyak ahli yang beranggapan bahwa kondisi ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
Ketidakstabilan senyawa kimia dalam otak
Di dalam otak kita terdapat senyawa kimia yang memiliki fungsinya masing-masing dalam kehidupan. Salah satu senyawa kimia yang cukup sering menjadi pembahasan adalah hormon dopamin dan serotonin. Hormon dopamin dan serotonin merupakan senyawa kimia yang mampu mengontrol atau mengendalikan suasana hati. Dalam kasus anhedonia, penderita diperkirakan mengalami penurunan produksi kedua hormon tersebut.
Gangguan mental
Kondisi anhedonia juga diperkirakan disebabkan oleh beberapa gangguan mental seperti depresi, gangguan kecemasan (anxiety disorder), skizofrenia, gangguan kepribadian (personality disorder), dan gangguan stress pasca trauma (post traumatic stress disorder / PTSD). Meski demikian, kondisi anhedonia juga bisa dialami oleh orang-orang tanpa masalah kesehatan mental.
Kejadian traumatis
Tidak bisa dipungkiri bahwa orang-orang yang pernah melalui kejadian traumatis akan sedikit banyak mempengaruhi kondisi mental mereka. Hal tersebut juga berlaku pada penderita anhedonia. Dalam hal ini, seseorang yang pernah mengalami kejadian traumatis seperti menjadi korban bullying atau pelecehan seksual diperkirakan beresiko mengalami anhedonia. Terutama jika mereka tidak mendapatkan penanganan setelah melalui kejadian traumatis tersebut.
Pengidap penyakit kronis
Orang-orang dengan kondisi penyakit kronis tertentu juga beresiko mengalami anhedonia. Penyakit kronis yang dimaksud bisa berupa diabetes, penyakit parkinson, demensia, dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi penyakit semacam itu biasa membuat penderitanya mengalami kehilangan semangat hingga berujung pada kondisi anhedonia, bahkan depresi.
Komplikasi Anhedonia

Kondisi anhedonia merupakan kondisi yang perlu diwaspadai. Pasalnya, tidak hanya membuat kita sulit merasa bahagia, kondisi ini juga bisa berkomplikasi dengan beberapa kondisi berikut:
· Anxiety disorder, yaitu gangguan mental yang ditandai dengan kecemasan berlebih sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan orang sekitar.
· Gangguan depresi mayor, yaitu kondisi dimana seseorang mengalami depresi dengan gejala timbulnya kesedihan mendalam dan berlangsung lebih dari dua minggu.
· Gangguan suasana hati, yaitu gangguan mental yang mempengaruhi kestabilan emosi seseorang.
· Malnutrisi, yaitu kondisi dimana seseorang mengalami ketidakseimbangan nutrisi di dalam tubuh.
· Self harm, yaitu kondisi dimana seseorang menyakiti diri sendiri, bahkan tidak jarang melakukan percobaan bunuh diri.
Itu dia sedikit penjelasan mengenai kondisi anhedonia. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Dampak Positif dan Negatif Dari Sikap Optimis
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



