Deeptalk.co.id – Merasakan suatu emosi untuk kemudian bisa diekspresikan merupakan hal yang penting untuk dilakukan setiap manusia. Mengingat emosi perlu a disalurkan sebagai bentuk komunikasi akan kebutuhan yang diinginkan oleh tubuh Anda. Namun, ada beberapa orang yang kesulitan mengalami, mengidentifikasi dan mengekspresikan emosinya. Fenomena tersebut dinamakan alexithymia dan ada beberapa alasan penyebab dari kondisi tersebut.
Alexithymia bukan termasuk gangguan kesehatan mental, tetapi kondisi ini memiliki kaitan dengan gangguan kesehatan mental lainnya. Termasuk diantaranya gangguan pascatrauma, gangguan makan hingga ada kaitannya juga dengan autisme. Orang dengan alexithymia mungkin mengalami masalah dalam menjaga hubungan dan mengambil bagian dalam situasi sosial.
Pada artikel ini, kami akan membahas mengenai gangguan alexithymia dengan alasan penyebab beserta diagnosis dan beberapa gangguan kesehatan lainnya yang terkait dengan kondisi ini.
Tentang Alexithymia

Seseorang dengan alexithymia mungkin merasa sulit untuk mengomunikasikan emosinya kepada orang lain. Para ahli peneliti pun mendiskripsikan kondisi ini sebagai konstruksi yang berkaitan dengan kesulitan mengalami, mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi.
Mereka yang hidup dengan alexithymia memiliki masalah dengan intropeksi atau mengamati proses mental dan emosional mereka sendiri. Mereka juga akan mengalami kebingungan seputar sensasi tubuh yang berhubungan dengan emosi. Kondisi ini juga memaksa mereka untuk berjuang dalam mengkomunikasikan emosi mereka terhadap orang lain.
Alexithymia juga mempersulit seseorang untuk mengidentifikasi dan menganggapi emosi orang lain. Sehingga masalah-masalah tersebut dapat menyebabkan kesulitan dalam pengaturan sosial dan hubungan interpersonal.
Meskipun dapat terjadi bersamaan dengan beberapa kondisi kesehatan mental lainnya, alexithymia bukan termasuk diagnosis klinis. Profesional kesehatan mental pun tidak menganggapnya sebagai kelainan.
Baca juga: Isu Fatherless : Dampak Psikologis yang Berbahaya Pada Anak
Penyebab Alexithymia

Hingga kini, para ahli masih belum memastikan penyebab pasti terjadinya alexithymia. Ada yang menyebutkan beragam kemungkinan. Seperti adanya kemungkinan bahwa penyebab alexithymia dari kondisi otaknya.
Beberapa faktor penyebab yang mungkin menimbulkan alexithymia, diantaranya seperti :
– Genetika. Hipotesis ini didasarkan pada penelitian pada anak kembar yang menunjukkan bahwa ada komponen genetik pada alexithymia. Orang lebih cenderung memiliki alexithymia jika kerabat dekatnya juga memilikinya.
– Faktor lingkungan. Studi anak kembar juga menunjukkan bahwa faktor lingkungan berperan dalam alexithymia. Contohnya seperti riwayat trauma masa kecil, adanya kondisi kekuatan fisik atau mental atau faktor sosial ekonomi.
– Kerusakan otak. Penelitian melaporkan bahwa orang dengan cedera pada bagian otak yang dikenal sebagai insula anterior mengalami peningkatan alexithymia. Bagian otak tersebut dikenal karena perannya dalam keterampilan sosial, empati dan emosi, dengan beberapa penelitian yang menghubungkan lesi insula dengan sikap apatis dan kecemasan.
– Gender. Disebutkan pada suatu penelitian yang melaporkan bahwa pria mengalami alexithymia hampir dua kali lebih sering daripada wanita. Setidaknya hingga 13% populasi mengalami alexithymia. Ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita dengan satu penelitian di antara populasi penjara di China yang menunjukkan bahwa lebih dari 30% narapidana mengalaminya.
– Kaitan dengan autisme. Pengidap autisme sering dianggap memiliki empati yang kurang. Ini pun sejalan dengan beberapa penelitian yang menunjukkan hingga setengah orang dengan autisme juga mengalami alexithymia. Pun penelitian lain juga mengusulkan bahwa kesulitan sosial dan emosional yang dialami autisme mungkin bukan ciri autisme. Melainkan kurangnya empati tersebut menjadikan alexithymia sebagai penyebab nya, bukan dari autisme nya.
Selain dari beberapa kondisi sebagai penyebab seseorang mengalami alexithymia tersebut, kondisi ini juga memiliki kaitan dengan gangguan kesehatan mental lainnya. Ada kemungkinan bahwa orang dengan alexithymia juga mengalami depresi. Ini berdasarkan pada catatan dalam depresi berat, juga gangguan postpartum serta skizofrenia. Yang mana pada penelitian ditunjukkan bahwa antara 32 dan 51 persen orang dengan gangguan depresi juga memiliki alexithymia.
Selain itu kondisi ini juga dicatatkan pada orang yang pernah mengalami trauma, terutama pada masa kanak-kanak. Trauma dan pengabaian pada tahap ini dapat menyebabkan perubahan pada otak yang dapat membuat sulit merasakan dan mengidentifikasi emosi di kemudian hari.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi ini mungkin ada pada penyakit dan cedera saraf tertentu. Ini termasuk alzheimer, distonia, epilepsi, penyakit Huntington, sklerosis ganda, parkinson, stroke, serta cedera otak traumatis.
Diagnosa

Alexithymia bukanlah gangguan kesehatan mental, sehingga dokter dan profesional kesehatan mental tidak dapat mendiagnosis fenomena tersebut secara formal. Namun, ada kuesioner dan skala yang dapat digunakan oleh para profesional untuk memeriksa tanda-tanda alexithymia.
Ini termasuk Skala Alexithymia Toronto Dua Puluh Item (TAS-20), Kuesioner Bermond–Vorst Alexithymia (BVAQ) dan Skala Pengamat Alexithymia (OAS)
Pada Skala Alexithymia Toronto Dua Puluh Item (TAS-20), menilai:
– kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi perasaan dan memisahkannya dari sensasi fisik
– kemampuan mereka untuk mengkomunikasikan perasaan kepada orang lain
– kecenderungan mereka untuk menunjukkan pemikiran yang berorientasi eksternal (daripada gaya berpikir introspektif)
Sedangkan Kuesioner Bermond–Vorst Alexithymia (BVAQ) yang terdiri dari 40 item dalam lima subskala yakni emosional, fantasi, mengidentifikasikan emosi, menganalisa emosi, verbalisasi. Untuk Skala Pengamat Alexithymia (OAS) terdiri dari 33 item dalam struktur lima faktor kejauhan, tidak berwawasan, somatisasi, tanpa humor, dan kekakuan.
Baca juga: Mengenali Gangguan Depersonalisasi-Derealisasi dan Gejalanya
Sumber:
Alexithymia: Symptoms, diagnosis, and links with mental health. (2023). Alexithymia: Symptoms, Diagnosis, and Links With Mental Health. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326451
Alexithymia: Causes, Symptoms, and Treatments. (2023). Alexithymia: Causes, Symptoms, and Treatments. https://www.healthline.com/health/autism/alexithymia
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



