Semua artikel
Emosi

Alexithymia : Kesulitan Mengekspresikan Emosi

Ditulis oleh Dita Fatma Rini Syafa Abdullah4 menit baca

Deeptalk.co.id – Saat merasa senang, maka kita akan tersenyum dan mengekspresikan perasaan senang tersebut. Begitu juga sebaliknya, saat merasa sedih kita akan menangis atau menunjukkan ekspresi kesedihan. Ekspresi terhadap sebuah kondisi yang kita alami itu merupakan respon alamiah yang wajar dialami oleh siapa saja. Pada dasarnya, semua orang memiliki emosinya masing-masing, dan berhak untuk mengekspresikan emosi tersebut.

Kemampuan mengenal dan mengekspresikan emosi ini seharusnya menjadi salah satu hal yang dikembangkan saat seseorang berada pada masa kanak-kanak. Namun sayangnya, beberapa orang justru kesulitan untuk mengekspresikan emosi yang dirasakan, bahkan cenderung tidak bisa memahami emosinya sendiri. Kondisi semacam ini bisa saja salah satu gejala dan masalah kesehatan mental yang dikenal dengan istilah alexithymia.

Lantas seperti apa alexithymia itu sebenarnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai alexithymia. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan Psikolog atau Psikiater. Hasil pemeriksaan tersebutlah yang nantinya akan menjadi patokan diagnosa dan penanganan yang tepat.

Berikut penjelasan mengenai alexithymia.

Pengertian Alexithymia

Alexithymia merupakan masalah kesehatan mental yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam mengekspresikan atau bahkan merasakan emosi yang menjadi respon terhadap sebuah kondisi yang sedang dihadapi. Kondisi ini memang bukan masalah kesehatan yang mebahayakan, namun penderita alexithymia seringkali mengalami masalah sosial karena tidak memberikan respon emosi yang sesuai.

Penderita alexithymia tidak mampu merasakan atau mengekspresikan emosi-emosi negatif. Sebagai contoh, saat mereka kehilangan orang terkasihnya, maka mereka tidak terlihat menangis atau sekedar menunjukan rasa sedihnya. Mereka cenderung datar dan terkesan tidak memiliki empati.

Begitu juga dengan emosi-emosi positif yang tidak bisa dirasakan maupun diekspresikan oleh penderita alexithymia. Misalnya saat salah satu temannya mendapatkan promosi jabatan, maka mereka akan datar saja seakan tidak peduli. Jika orang lain salah mengira, maka bisa jadi penderita alexithymia ini justru mendapatkan image yang buruk dari lingkungan sekitarnya.

Pada kenyataannya, penderita alexithymia bukan tidak ingin berekspresi sesuai dengan kondisi yang ada. Mereka hanya tidak memahami emosi yang dirasakan, dan berdampak pada ekspresi yang tidak terpancarkan dari mereka.

Baca juga : Barnum Effect : Mempercayai Pernyataan Umum Mampu Menggambarkan Kepribadian Secara Subjektif

Penyebab Alexithymia

Sayangnya hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti dari kondisi alexithymia. Meski demikian, beberapa faktor diperkirakan dapat membuat seseorang rentan mengalami alexithymia. Berikut faktor-faktor yang dimaksud:

Autisme

Gangguan spektrum autis merupakan salah satu gangguan mental yang cukup populer. Pembahasan mengenai gangguan ini juga cukup luas, misalnya mengenai gejala-gejala yang cukup beragam. Salah satu gejala yang dialami oleh penderita autisme adalah ketidakmampuan dalam mengenali dan mengekspresikan emosi sesuai dengan kondisi yang dialami. Dengan demikian, alexithymia bisa saja disebabkan oleh kondisi autisme.

Perkembangan yang tidak maksimal

Seperti yang sudah dipaparkan di atas bahwa emosi merupakan salah satu faktor yang berkembang pada masa perkembangan manusia. Dengan demikian diperkirakan, anak-anak yang tidak mendapatkan perkembangan yang maksimal bisa saja mengalami alexithymia. Misalnya dengan tidak mendapatkan stimulus yang cukup dari lingkungannya saat masa-masa perkembangan.

Depresi

Kondisi lain yang bisa memicu kondisi alexithymia adalah emosi depresi. Depresi sendiri merupakan gangguan mental yang ditandai dengan rasa sedih mendalam dan kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari. Depresi yang sudah terlalu parah bisa membuat seseorang seakan mati rasa. Bahkan sebuah penelitian menunjukkan 32% - 51% orang dengan gangguan depresi juga mengalami kondisi alexithymia.

Trauma masa kecil

Orang-orang yang pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan atau trauma, khususnya pada masa kanak-kanak, juga beresiko mengalami alexithymia. Misalnya trauma akibat bencana alam, kehilangan orang tercinta, dan lain sebagainya. Trauma ini membuat seseorang mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi emosi yang sedang dialami.

Kerusakan pada bagian otak

Banyak ahli yang mengatakan bahwa kondisi alexithymia bisa saja disebabkan oleh adanya kerusakan pada bagian otak, yaitu insula. Insula sendiri merupakan bagian otak yang berfungsi untuk mengelola empati, emosi, dan keterampilan sosial.

Genetik

Kondisi alexithymia juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Artinya, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi alexithymia, maka memiliki resiko lebih besar mengalami kondisi yang sama.

Kondisi kesehatan tertentu

Selain beberapa kondisi yang sudah dipaparkan di atas, alexithymia juga bisa disebabkan oleh berbagai masalah kesehatan, yaitu penyakit alzheimer, distonia, epilepsi, penyakit huntington, sklerosis ganda, penyakit parkinson, pukulan, cedera otak traumatis, dan lain sebagainya.

Itu dia sedikit penjelasan mengenai alexithymia. Intinya, alexithymia merupakan salah satu kondisi psikologis yang ditandai dengan kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan emosi. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.

Baca juga : Terapi Psikoanalisis : Penanganan Gangguan Mental Berdasarkan Alam Bawah Sadar

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Alexithymia : Kesulitan Mengekspresikan Emosi — DeepTalk