Deeptalk.co.id – Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita merasa lebih nyaman untuk mengungkapkan perasaan kita kepada orang asing daripada orang yang lebih dekat dengan kita. Fenomena ini menarik perhatian banyak psikolog, yang tertarik untuk memahami alasan di balik preferensi ini. Ada beberapa alasan psikologis yang mungkin menjelaskan fenomena ini.
Dalam artikel ini, kami akan membahas secara mendalam tentang alasan-alasan psikologis mengapa kita cenderung lebih nyaman curhat dengan orang asing.
Nyaman Curhat Dengan Orang Asing

Ketika ingin menceritakan suatu pengalaman tertentu, banyak yang akan mengira bahwa seseorang pasti akan menemui orang terdekatnya. Entah itu orang yang paling mereka percayai untuk membagikan informasi paling pribadi, seperti masalah di tempat kerja, masalah dengan pasangan atau kesehatan dan lain-lain.
Seperti yang dituliskan Adam Smith tahun 1970 dengan mengatakan bahwa orang hanya dapat mendapatkan simpati sejati dari sahabat terpercayanya, dan bukan dari sekedar kenalan. Atau yang dikatakan juga oleh seorang sosiolog, Standford Mark Granovetter di tahun 1973 dengan menetapkan sebagai landasan analisis jaringan sosial. Yakni gagasannya mengatakan bahwa manusia mengandalkan ikatan yang kuat atau circle yang dimiliki untuk dukungan, sedangkan ikatan yang lemah atau kenalan hanya untuk informasi.
Namun kondisi saat ini justru berbeda dimana Mario Luis Small menemukan fakta baru dalam penelitiannya pada tahun 2017. Orang-orang secara konsisten mengatakan bahwa mereka akan memercayai orang-orang di tempat suci mereka. Namun ketika ditanya siapa orang yang terakhir kali dibagikan keprihatinannya, mereka akan menjawab bahwa sering kali itu adalah orang random yang mereka temui di public place.
Sebenarnya ini sudah lama terjadi dimana kita beralih dari yang semula saling berbagi ke orang-orang terdekat, namun kini justru ke kenalan sepanjang waktu. Sehingga Small pun membalikkan semua itu dimana kumpulan orang kepercayaan sebenarnya adalah setiap orang yang mereka temui.
Ini bisa terjadi dari adanya peningkatan rasa kesepian yang sering dikaitkan dengan terlalu banyak media sosial dan tingkat individualitas yang lebih tinggi. Mungkin juga akibat saat ini perilaku manusia yang lebih banyak menghabiskan waktu di ponselnya, pun bahkan ketika mengantre, atau di kereta, mereka hanya sibuk melihat ponsel.
Baca juga: Tips Untuk Mengelola Perasaan Setelah Menerima Penolakan
Mengapa Bisa Demikian?

Setidaknya ada tiga alasan yang memungkinkan seseorang menghindari orang-orang terdekatnya saat bergulat dengan masalah penuh tekanan.
Yang pertama, mereka menganggap bahwa hubungan dengan orang terdekat adalah hubungan yang paling kompleks. Saat membutuhkan kenyamanan, Anda tidak yakin peran mereka yang mana yang mungkin dimainkan oleh orang-orang terdekat Anda —seperti Ibu, pasangan, sahabat dll. Oleh karenanya Anda waspada bahwa itu mungkin peran yang memberi Anda sesuatu selain dukungan tanpa syarat yang Anda cari saat ini.
Sedangkan alasan yang kedua adalah bahwa ketika Anda menghadapi sesuatu yang sulit, Anda biasanya lebih suka curhat pada orang yang memiliki pengalaman yang sama dengan Anda. Sehingga Anda ragu untuk membagikannya dengan mereka yang mengenal Anda.
Selanjutnya alasan terakhir ialah pada saat Anda merasa rentan, kebutuhan Anda untuk berbicara lebih besar daripada kebutuhan Anda untuk melindungi diri. Anda hanya mengambil apa atau siapa yang dekat dengan Anda dan tidak terlalu memikirkannya. Model perilaku manusia yang rasional adalah model di mana Anda berhenti sejenak dan berpikir sebelum bertindak, tetapi kenyataannya, seringkali Anda tidak melakukannya. Dengan kata lain, gagasan bahwa manusia dibangun untuk kehati-hatian, dan dengan keinginan baja yang konstan untuk melindungi diri, adalah salah.
Selain itu, ada juga era media sosial yang jenuh dan penuh polarisasi. Dimana ini adalah pengingat yang berguna bahwa berhubungan dengan orang-orang yang beragam jenisnya adalah sesuatu yang perlu dilakukan manusia.
Sehingga kebiasaan untuk lebih memilih berbincang dengan orang asing didukung juga dengan adanya temuan bahwa berinteraksi dengan orang asing, baik secara langsung maupun online bisa membuat perasaan lebih bahagia. Berbicara dengan orang asing secara online bahkan bisa menjadi bentuk pelarian bagi orang-orang, studi mengatakan. Juga penelitian lain oleh psikolog menunjukkan bahwa bahkan percakapan singkat dengan barista di Starbucks meningkatkan suasana hati orang dan meningkatkan rasa memiliki.
Kehadiran orang asing menawarkan rasa anonimitas yang dapat membantu mengurangi rasa takut atau malu yang mungkin muncul saat curhat kepada orang yang kita kenal. Juga orang asing cenderung tidak memiliki penilaian atau prasangka terhadap kita, sehingga kita merasa lebih bebas untuk berbagi tanpa khawatir akan penilaian negatif. Selain itu, orang asing mungkin lebih objektif dan tidak terlibat secara emosional dalam masalah kita, sehingga mereka dapat memberikan sudut pandang yang lebih obyektif.
Baca juga: Anticipatory Anxiety : Memahami Pengertian Beserta Gejala dan Bahayanya
Sumber:
Anderson, J. (2022, July 21). A Harvard sociologist explains why we confide in strangers. Quartz. https://qz.com/1808638/a-harvard-sociologist-explains-why-we-confide-in-strangers
Smith, S. (2022, January 20). Healthy venting or oversharing? The problems with being sad online. Dazed. https://www.dazeddigital.com/life-culture/article/55268/1/social-media-bella-hadid-mental-illness-sad-oversharing-instagram
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



