Deeptalk.co.id – Tidak semua orang memiliki keberanian untuk berada di tempat tinggi. Bahkan beberapa orang justru memiliki ketakutan berlebih terhadap ketinggian. Kondisi ini biasa disebut dengan acrophobia.
Acrophobia berasal dari bahasa Yunani, yaitu akron yang artinya puncak dan phobos yang artinya takut. Dengan demikian, jika diartikan secara lebih detail, acrophobia merupakan ketakutan berlebih terhadap tempat-tempat tinggi.
Acrophobia (akrofobia) atau juga dikenal dengan istilah fobia ketinggian merupakan salah satu bagian dari gangguan mental, khususnya pada gangguan fobia spesifik. Penderita acrophobia memiliki ketakutan berlebih terhadap ketinggian. Hal tersebut membuat mereka mustahil untuk mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan ketinggian.
Takut akan ketinggian sebenarnya cukup umum dirasakan oleh banyak orang. Pasalnya, ketinggian memang sering kali mengancam jiwa. Insting takut merupakan hal yang normal, terutama terhadap hal-hal yang membahayakan. Rasa takut ini sebenarnya bisa menguntungkan. Kita akan secara otomatis menghindari hal-hal berbahaya akibat adanya rasa takut. Meski demikian, rasa takut terhadap ketinggian yang dialami oleh penderita acrophobia tidak sesederhana rasa takut ketinggian pada orang kebanyakkan.
Penderita acrophobia justru bisa merasa takut terhadap ketinggian walau berada di tempat aman sekalipun. Dalam kasus yang cukup parah, penderita acrophobia bahkan akan merasa ketakutan atau kecemasan berlebih walau sekedar melihat gambar seperti foto tebing atau jurang.
Penderita acrophobia akan menghindari hal-hal mengenai ketinggian. Mereka tidak menyukai kegiatan seperti mendaki gunung, memanjat tebing, bersantai di balkon, bahkan sekedar memasang lampu di langit-langit rumah. Kegiatan-kegiatan semacam itu akan sangat menyiksa bagi penderita gangguan acrophobia.
Gejala Gangguan Acrophobia

Gejala utama dari gangguan acrophobia sudah dapat diketahui dari pengertiannya, yaitu adanya perasaan takut berlebih terhadap ketinggian. Selain itu, acrophobia juga menunjukkan gejala lain seperti gejala fisik dan psikologis. Berikut penjelasannya:
Gejala fisik
Saat berhadapan dengan faktor pemicu ketakutannya, penderita acrophobia akan menunjukkan beberapa gejala fisik, seperti kesulitan bernafas, keringat berlebih, jantung berdebar lebih cepat, merasa mual bahkan muntah, pusing, tubuh gemetar, sakit kepala, dan juga kehilangan keseimbangan. Saat terjadi di tempat tinggi, kehilangan keseimbangan tentu akan mengancam nyawa penderita.
Gejala psikologis
Tidak hanya gejala fisik, penderita acrophobia juga menunjukkan beberapa gejala psikologis, seperti sering mengalami serangan panik akibat tiba-tiba mengingat, melihat, atau berada di tempat yang tinggi. Selain itu, penderita acrophobia juga merasa cemas walau sekedar menaiki tangga yang terbilang aman, dan memiliki pikiran khawatir berlebihan akibat membayangkan dikemudian hari harus berada di ketinggian. Bahkan terkadang pikiran itu masuk tanpa adanya faktor pemicu apapun.
Gejala acrophobia bisa jadi berbeda antara satu penderita dengan penderita lainnya. Hal tersebut tergantung pada seberapa gangguan yang dialami oleh penderita acrophobia.
Baca juga: Kenali Dampak Dari Gangguan Depresi Mayor
Penyebab Gangguan Acrophobia

Sama seperti gangguan fobia spesifik pada umumnya, penyebab utama dari acrophobia juga berasal dari adanya pengalaman buruk terhadap ketinggian. Misalnya, penderita pernah jatuh dari ketinggian atau melihat orang jatuh dari ketinggian.
Selain adanya pengalaman buruk terhadap ketinggian, acrophobia juga bisa dialami akibat mencontoh orang lain. Misalnya, anak yang memiliki gangguan acrophobia akan mencontoh orang tuanya dan akhirnya juga memiliki gangguan yang sama.
Acrophobia juga akan lebih beresiko dialami oleh orang-orang dengan beberapa kondisi tertentu, misalnya pada penderita vertigo yang akan merasa pusing saat berada di ketinggian, bathophobia yang merupakan ketakutan berlebih terhadap lereng dan tangga, aerophobia yang merupakan ketakutan berlebih untuk terbang, dan beberapa kondisi serupa.
Tips Menangani Gangguan Acrophobia

Jika kamu memiliki gejala acrophobia, kamu bisa mengunjungi psikolog untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Psikolog umumnya akan memberikan penanganan berupa psikoterapi. Jika dibutuhkan bantuan obat-obatan, psikolog akan merekomendasikan kamu untuk berkonsultasi dengan psikiater dan mendapatkan resep obat yang cocok untuk mu. Selain penanganan dari para ahli, kamu juga bisa melakukan penanganan secara mandiri.
Penanganan mandiri
Saat kecemasan muncul begitu saja, kamu bisa mengambil langkah awal untuk mengatasi rasa cemas yang kamu alami secara mandiri. Kamu bisa mempelajari cara mengatur nafas untuk membuat mu merasa lebih rileks. Selain itu, kamu bisa mencoba untuk mengalihkan pikiran ke hal-hal yang menyenangkan.
Psikoterapi
Jika penanganan mandiri masih membuat mu tidak terlepas dari acrophobia, kamu bisa mencoba beberapa psikoterapi yang dianjurkan oleh psikolog. Terapi yang sering digunakan untuk penderita fobia adalah terapi paparan dan terapi perilaku kognitif (CBT).
Terapi paparan berfungsi untuk membantu penderita menghadapi faktor pemicu ketakutannya. Dalam hal ini adalah ketinggian. Sedangkan terapi perilaku kognitif berfungsi untuk mengatur kembali pola pikir agar kamu tidak memandang negatif hal-hal yang tidak seharusnya kamu takuti.
Obat-obatan
Sebenarnya tidak ada obat-obatan khusus yang dapat menyembuhkan acrophobia, psikiater biasanya memberikan obat untuk meredakan gejala yang ada. Misalnya anti depresan yang membuat perasaan cemas meredah.
Gangguan acrophobia memang cukup sederhana, namun tidak terlalu sederhana untuk bisa diabaikan begitu saja. Untuk itu, kamu bisa mencoba beberapa saran di atas. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Ekolalia: Kondisi Anak yang Sering Mengulang Kata. Hati-Hati Gejala Autisme!



