Semua artikel
Emosi

5 Tahap Berduka yang Dialami Ketika Kehilangan Orang Tersayang

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Sedih saat berduka adalah respons alami terhadap kehilangan. Ini merupakan penderitaan emosional yang dirasakan ketika sesuatu atau seseorang yang Anda cintai telah tiada. Seringkali, rasa sakit saat kehilangan bisa terasa luar biasa. Anda mungkin akan mengalami lima tahap berduka ketika sedang kehilangan orang yang tersayang.

lima tahap berduka bisa membawa Anda pada pengalaman semua jenis emosi yang sulit dan tak terduga. Mulai dari keterkejutan atau kemarahan, hingga ketidakpercayaan, rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. Bahkan lima tahap berduka ini bisa mengganggu kesehatan fisik Anda, hingga sulit tidur, makan atau bahkan berpikir jernih. Ini merupakan reaksi normal terhadap kehilanga, dan semakin signifikan kehilangan itu, semakin kuat kesedihan Anda. 

Mengatasi rasa kehilangan seseorang atau sesuatu yang Anda cintai adalah salah satu tantangan yang terbesar dalam hidup. Apa pun bentuk kehilangan yang Anda alami, itu adalah masalah pribadi Anda dan tidak perlu merasa malu akan apa yang Anda rasakan. Percaya bahwa bersedih untuk hal-hal tertentu adalah pantas untuk dilakukan.

Baik itu teman dekat, pasangan, orang tua, anak, atau kerabat lainnya, tidak banyak hal yang sama menyakitkannya dengan kehilangan seseorang yang Anda cintai. Setelah kehilangan yang begitu signifikan, hidup mungkin tidak akan pernah terlihat sama lagi. Namun seiring berjalannya waktu, Anda dapat meredakan kesedihan Anda, mulai melihat ke masa depan, dan akhirnya menerima kehilangan Anda.

5 Stages of Grieving 

Berduka adalah pengalaman yang sangat personal dan tidak ada cara yang benar atau salah untuk mengalaminya. Bagaimana seseorang berduka bergantung pada banyak faktor, termasuk kepribadian dan gaya mereka dalam mengatasi, pengalaman hidup, keyakinan dan seberapa besar kehilangan itu bagi Anda.

Tak heran jika proses berduka membutuhkan waktu. Penyembuhan pun terjadi secara bertahap dan tidak bisa dipaksakan atau diburu-buru mengingat tidak ada jadwal normal untuk berduka. Beberapa orang mulai merasa lebih baik dalam beberapa minggu atau bulan. Sedangkan bagi yang lain, proses berduka diukur dalam beberapa tahun. Apa pun pengalaman duka yang Anda alami, penting untuk bersabar dengan diri sendiri dan biarkan prosesnya terungkap secara alami. Yakni dengan melewati lima tahap ketika berduka berikut ini.

Tahap 1 : Penyangkalan

Penyangkalan merupakan tahap pertama dari lima tahap berduka, dimana Anda akan merasa dunia menjadi tidak berarti dan luar biasa tidak masuk akal. Anda berada pada keadaan shock hingga mati rasa dan terus bertanya-tanya bagaimana Anda bisa melanjutkan hidup. Anda pun mencoba menemukan cara untuk melewati hari demi hari.

Walaupun demikian, penyangkalan dengan keterkejutan ini membantu Anda mengatasi dan membuat Anda untuk mempertahankan hidup menjadi mungkin. Ini juga membantu Anda mengatur perasaan sedih Anda. Saat Anda menerima kenyataan kehilangan dan mulai bertanya pada diri sendiri, Anda tanpa sadar memulai proses penyembuhan. Anda menjadi lebih kuat, dan penyangkalan mulai memudar. Namun saat Anda terus melanjutkan penyangkalan tersebut, semua perasaan yang Anda sangkal mulai muncul ke permukaan.

Baca juga: Apa Star Syndrome Termasuk Gangguan Psikologis?

Tahap 2 : Amarah

Amarah menjadi tahap yang diperlukan dari proses penyembuhan perasaan berduka. Nikmati perasaan tersebut karena semakin Anda benar-benar merasakannya, semakin hal itu akan mulai menghilang dan semakin Anda sembuh.

Kemarahan bisa menjadi kekuatan dan itu bisa menjadi jangkar sebagai struktur sementara pada ketiadaan. Kesedihan yang awalnya Anda rasakan seperti tersesat di lautan luas, tidak ada hubungannya dengan apa pun. Hingga kemudian Anda meluapkannya dengan marah pada seseorang, entah siapapun itu yang mungkin tidak ada kesalahan apapun sebelumnya.

Tahap 3 : Tawar Menawar

Sebelum kehilangan seseorang, kemungkinan Anda akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang telah hilang tersebut. Saat inilah tawar-menawar terjadi. “Saya tidak akan pernah marah pada istri saya lagi jika Anda membiarkan dia hidup,” misal. Lalu setelah kalah tawar-menawar, terjadi gencatan senjata sementara, dan mengajukan tawaran lainnya. Begitu seterusnya hingga Anda menyadari bahwa hal tersebut sia-sia dilakukan karena tidak akan mengembalikan situasi seperti semula.

Rasa bersalah sering menjadi pendamping tawar-menawar. Kata “seandainya” menyebabkan Anda menemukan kesalahan pada diri Anda sendiri. Dan apa yang Anda “pikir” dapat Anda lakukan secara berbeda. Sehingga Anda mungkin melakukan tawar-menawar didampingi dengan rasa sakit.

Tahap 4 : Depresi

Setelah lelah dengan tawar menawar, perhatian Anda langsung beralih ke masa kini. Perasaan hampa pun muncul dengan sendirinya, dan kesedihan memasuki hidup Anda pada tingkat yang sangat mendalam. Saat depresi, Anda akan menarik diri dari kehidupan, tertinggal dalam kabut kesedihan yang mendalam, hingga mungkin bertanya-tanya, apakah ada gunanya pergi sendirian?

Tahap depresi ini terasa seolah-olah akan berlangsung selamanya. Sehingga penting untuk dipahami bahwa depresi pada tahap ini bukanlah sebagai tanda penyakit mental. Depresi ini sebagai respons yang tepat atas kerugian besar yang Anda lalui.

Depresi setelah kehilangan terlalu sering dianggap tidak wajar, karena ini merupakan keadaan yang harus diperbaiki atau sesuatu yang harus disingkirkan. Kehilangan orang yang dicintai adalah situasi yang sangat menyedihkan, dan depresi adalah respons yang normal dan tepat. Tidak mengalami depresi setelah orang yang dicintai meninggal adalah hal yang tidak biasa. Jika kesedihan adalah proses penyembuhan, maka depresi adalah salah satu dari banyak langkah yang diperlukan di sepanjang jalan.

Tahap 5 : Penerimaan 

Seringkali seseorang menganggap mereka yang bilang “baik-baik saja” menandakan bahwa mereka sudah mendapatkan penerimaan dalam dirinya. Padahal kebanyakan orang tidak pernah merasa baik-baik saja tentang kehilangan orang yang dicintai. Dan pada tahap ini, menerima kenyataan bahwa orang yang dicintai telah tiada secara fisik dan menyadari bahwa kenyataan baru ini adalah kenyataan permanen.

Mungkin Anda tidak akan pernah menyukai kenyataan ini atau membuatnya baik-baik saja, tetapi pada akhirnya Anda menerimanya. Anda pun belajar untuk hidup dengannya dan ini adalah norma baru yang harus dipelajari untuk hidup.

Baca juga: Apakah Kamu Mengalami Star Syndrome? Yuk Refleksikan Diri

 

Sumber:

Smith, M., MA. (2023). Coping with Grief and Loss. HelpGuide.org. https://www.helpguide.org/articles/grief/coping-with-grief-and-loss.htm

Grief.com. (2023, February 14). Five Stages of Grief by Elisabeth Kubler Ross & David Kessler. https://grief.com/the-five-stages-of-grief/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

5 Tahap Berduka yang Dialami Ketika Kehilangan Orang Tersayang — DeepTalk