Deeptalk.co.id – Penelitian terbaru dalam ilmu saraf kognitif telah membuat kemajuan besar dalam memetakan fungsi otak manusia dan dalam menentukan pengetahuan, elemen representasi, dan proses yang dicakup oleh peta kognitif. Otak tampaknya terdiri dari jaringan saraf modular di mana unit representasi tertentu terwakili secara homogen. Unit tersebut dapat berkisar dari detektor tepi yang digunakan dalam pemrosesan visual dan disimpan di korteks oksipital hingga representasi rencana tingkat tinggi yang digunakan untuk memandu perilaku dan disimpan di korteks prefrontal.
Untuk menjalankan fungsi manusia pada umumnya, serangkaian modul diaktifkan secara kooperatif. Dengan demikian, otak manusia dapat dibagi lagi menjadi modul-modul fungsional (subkomponen) penyusunnya, yang rangkaian modulnya harus digabungkan untuk melakukan suatu tugas.
Sedangkan pemikiran terkini tentang neuroplastisitas menunjukkan bahwa setidaknya ada empat tipe perubahan neuroplastik potensial yang terjadi secara representasional pada tingkat modul. Ini adalah adaptasi wilayah homolog, penugasan kembali lintas modal, perluasan peta, dan penyamaran kompensasi.
1. Homologus Area Adaptation (Adaptasi Wilayah Homologus)

Salah satu tipe neuroplastisitas yaitu adaptasi area homolog yang muncul paling aktif selama tahap kritis awal perkembangan manusia. Inilah yang juga mendasari gagasan bahwa kerusakan pada wilayah otak tertentu dan operasi kognitifnya dapat dikompensasi dengan menggeser individu (atau serangkaian fungsi kognitif) dengan operasi ke area otak lain yang tidak termasuk modul yang terpengaruh.
Otak manusia memiliki kemampuan yang menakjubkan untuk beradaptasi setelah mengalami cedera. Salah satu bentuk adaptasi ini disebut neuroplastisitas, yaitu proses di mana otak dapat menggeser fungsi dari area yang terkena cedera ke area lain yang masih berfungsi dengan baik. Proses ini paling aktif terjadi pada tahap awal perkembangan manusia.
Akibat dari perubahan neuroplastik ini memunculkan gagasan bahwa area otak baru yang menerima operasi kognitif baru kini lebih “penuh” dengan representasi kognitif yang berbeda. Kerumitan ini menyebabkan representasi pengetahuan yang lebih jarang dalam modul yang bergeser dan meningkatkan kemungkinan interferensi tugas ganda ketika dua tugas yang harus dilakukan secara bersamaan melibatkan “modul” yang berdekatan di korteks— salah satunya telah bergeser dari lokasi semula dan “alami” di otak. Bentuk perubahan neuroplastik ini lebih jarang dilaporkan pada orang dewasa.
Baca juga: Intrusive Thought yang Datang Tiba-Tiba dan Mengganggu, Ini Dia Penjelasannya
2. Cross-Modal Reassignment (Penugasan Kembali Lintas Modal)

Tipe kedua dari neuroplastisitas yakni penugasan ulang lintas modal. Tipe neuroplastisitas ini melibatkan pengenalan masukan baru ke dalam wilayah otak yang kehilangan masukan utamanya. Sebuah studi menarik menunjukkan bahwa orang yang menjadi buta sejak masa kanak-kanak dapat mengaktifkan area otak yang biasanya terlibat dalam penglihatan saat mereka diuji pada tugas diskriminasi sentuhan.
Contohnya, orang buta dapat menggunakan area V1 di korteks oksipital untuk merespons masukan somatosensori (sentuhan). Meskipun mereka tidak memiliki penglihatan, otak mereka dapat dengan sukses mengaktifkan area V1 untuk tugas-tugas yang membutuhkan pemahaman bentuk geometris, seperti membaca huruf Braille.
Studi menunjukkan bahwa otak buta dapat “mengalihkan” fungsi V1 untuk memproses informasi sentuhan. Pada orang sehat yang tidak buta, tidak hanya tidak ada aktivasi V1, tetapi juga terjadi penurunan aktivasi di area tersebut karena perhatian dialihkan ke wilayah otak lain yang memproses fitur sentuhan.
Penelitian lain menunjukkan bahwa stimulasi magnetik transkranial pada korteks oksipital pada orang buta juga dapat mempengaruhi kemampuan membaca Braille. Namun, ada batasan pada kemampuan neuroplastisitas, seperti ketidakmungkinan sel pemroses warna di korteks oksipital untuk menerima masukan yang tidak bersifat visual.
3. Map Expansion (Ekspansi Peta)

Tipe ketiga dari neuroplastisitas yakni perluasan peta yang menunjukkan fleksibilitas wilayah otak yang dikhususkan untuk jenis pengetahuan atau operasi kognitif khusus. Tipe neuroplastisitas ini menunjukkan bahwa area otak yang khusus untuk suatu fungsi dapat berkembang atau membesar dengan seringnya terpapar stimulus atau latihan.
Penelitian terbaru menyoroti bahwa dengan praktik yang terampil, ukuran area otak yang dikhususkan untuk suatu fungsi tertentu dapat memperluas. Contohnya, saat seseorang belajar keterampilan visuomotor secara implisit, area otak yang terlibat bisa membesar. Namun, ketika pembelajaran menjadi eksplisit, ukuran area otak tersebut kembali ke ukuran awal.
Perluasan peta ini dapat terjadi dalam waktu singkat, bahkan dalam beberapa menit pertama latihan atau paparan. Ada juga bukti bahwa perluasan peta dapat terus menerus terjadi pada individu yang terus mengembangkan atau melatih keterampilan tertentu secara rutin.
Arti dari perluasan peta masih menjadi misteri, namun beberapa implikasi telah diusulkan. Salah satu kemungkinan adalah bahwa area otak yang awalnya didedikasikan untuk suatu fungsi tertentu dapat memperluas cakupannya ke area lain, merekrut neuron baru ke dalam jaringan. Namun, perluasan peta juga bisa berarti peningkatan atau penurunan aktivasi pada area otak tertentu, tergantung pada jenis praktik atau paparan stimulus yang terjadi.
Ini menunjukkan bahwa otak selalu aktif dan berusaha menyesuaikan diri dengan tugas atau informasi yang diberikan. Konsep neuroplastisitas membuka jalan untuk pemahaman lebih dalam tentang kemampuan otak manusia yang selalu belajar dan berkembang sepanjang hidup.
4. Compensatory Masquerade (Penyimpanan Kompensatorium)

Neuroplastisitas tipe penyamaran kompensasi merupakan tipe neuroplastisitas keempat yang menarik. Ini berarti otak menggunakan proses kognitif yang sudah dikuasai untuk melakukan tugas yang sebelumnya bergantung pada proses kognitif yang terganggu. Konsep ini bisa menjadi penting karena terkadang penemuan otak tentang cara baru bergantung pada penggunaan tugas-tugas kognitif yang sangat terperinci.
Contoh sederhananya adalah bagaimana kita menavigasi dari rumah ke kantor. Ada cara yang lebih bergantung pada koordinat spasial yang dilakukan secara cepat dan lebih bersifat implisit. Ada juga cara lain yang lebih bergantung pada pelabelan verbal suatu tempat yang dilakukan lebih lambat dan bersifat eksplisit. Jika otak mengalami cedera, salah satu dari dua proses ini mungkin terpengaruh, tetapi seringkali tidak keduanya.
Dalam beberapa kasus, pasien dapat mengembangkan strategi baru untuk menavigasi, menggunakan cara yang masih berfungsi. Pentingnya memahami kedua proses tersebut secara rinci terlihat dalam penelitian neuropsikologis. Tanpa evaluasi yang cermat, peneliti dapat keliru berpikir bahwa bentuk neuroplastisitas yang lebih mendasar terjadi, padahal sebenarnya otak hanya menggunakan kembali strategi yang sudah dikuasai.
Hal ini menunjukkan bahwa otak memiliki kemampuan untuk menemukan cara baru dalam menghadapi tantangan, dan penelitian lebih lanjut akan membantu kita memahami lebih dalam tentang keajaiban neuroplastisitas ini.
Baca juga: Perspektif Psikologis Terjadinya Rasa Cemburu dalam Hubungan Cinta
Sumber:
Grafman, J. (2000). Conceptualizing functional neuroplasticity. Journal of Communication Disorders, 33(4), 345–356. doi:10.1016/s0021-9924(00)00030-7
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



