Semua artikel
Perilaku

4 Jenis Gangguan Kesehatan Mental Dengan Perilaku Kompulsif

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia6 menit baca

Deeptalk.co.id – Gangguan mental dengan perilaku kompulsif adalah kategori gangguan psikologis yang seringkali menciptakan tantangan signifikan dalam kehidupan individu yang terkena dampaknya. Perilaku kompulsif mengacu pada tindakan atau ritual yang dilakukan berulang kali tanpa bisa dikendalikan, seringkali sebagai respons terhadap ketegangan, kecemasan, atau obsesi yang mengganggu.

Artikel ini akan menjelajahi berbagai jenis gangguan mental yang sering menyertai perilaku kompulsif, dan memberikan wawasan tentang bagaimana setiap gangguan ini dapat memengaruhi individu, serta bagaimana penanganan yang efektif dapat membantu dalam mengelola gejala-gejalanya. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan antara perilaku kompulsif dan gangguan mental, kita dapat meraih pandangan yang lebih holistik dan empati terhadap tantangan yang dihadapi oleh individu yang terkena dampaknya.

Obsesive-compulsive disorder

Gangguan obsesif-kompulsif (OCD) memiliki pola pikiran dan ketakutan yang tidak diinginkan (obsesi) sehingga membuat penderitanya melakukan perilaku dengan pikiran yang berulang (kompulsif). Obsesif-kompulsif ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan tekanan yang signifikan.

Penderita OCD mungkin telah mencoba untuk mengabaikan atau menghentikan obsesinya, namun hal tersebut hanya akan meningkatkan tekanan dan kecemasan. Pada akhirnya, mereka merasa terdorong untuk melakukan perilaku kompulsif untuk meredakan stres nya. Meskipun telah berusaha untuk mengabaikan atau menyingkirkan pikiran atau dorongan yang mengganggu, pikiran atau dorongan tersebut terus muncul kembali. Hal inilah yang mengarah pada perilaku yang lebih ritualistik, lingkaran setan OCD.

Gangguan OCD dengan perilaku kompulsif nya terlihat ketika penderita yang kerap membuat aturan atau ritual untuk diikuti yang dapat membantu mengendalikan kecemasannya ketika memiliki pikiran obsesif. Dorongan-dorongan tersebut berlebihan dan sering kali tidak terkait secara realistis dengan masalah yang ingin diperbaiki.

Contoh tanda dan gejala paksaan meliputi mencuci tangan hingga kulit menjadi kasar, memeriksa pintu berulang kali untuk memastikannya terkunci, memeriksa kompor berulang kali untuk memastikannya mati, enghitung dengan pola tertentu, mengulang-ulang doa, kata, atau frasa dalam hati hingga mengatur barang-barang kaleng agar menghadap ke arah yang sama.

Baca juga: Fokus dalam Kreativitas: Bagaimana Konsentrasi yang Mendalam Mendorong Inovasi

Autisme

Gangguan spektrum autisme (ASD) merupakan gangguan perkembangan yang disebabkan oleh perbedaan pada otak. Penderita autisme sering kali memiliki masalah dengan komunikasi dan interaksi sosial, serta perilaku atau minat yang terbatas atau berulang. Orang dengan ASD juga kemungkinan memiliki cara belajar, bergerak atau memperhatikan yang berbeda.

Gangguan autisme ini juga memiliki keterkaitan dengan perilaku kompulsif, dan ini adalah hal yang umum terjadi pada penyandangnya meskipun dengan alasan yang berbeda-beda. Perilaku kompulsif bisa dikaitkan dengan bagaimana penderita gangguan autisme menangani stres dalam kehidupannya. Atau bisa juga beberapa orang dengan gangguan autisme terlibat dalam tindakan ini karena kondisi yang bersamaan dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD).

Perilaku kompulsif pada autisme ialah tindakan yang dilakukan atau diulangi oleh mereka sebagai respons terhadap sesuatu yang terjadi di lingkungannya. Ini adalah gerakan reaktif, tetapi tidak mengubah situasi dengan cara apa pun. Ini mungkin nampak seperti misalnya dengan mereka melambaikan tangan, menjentikkan jari, bergoyang, berputar, atau melompat, menarik rambut, menjerit, mendengus atau berteriak, atau bahkan membenturkan kepala ke dinding.

Para peneliti mengatakan bahwa penyandang autisme menggunakan berbagai perilaku sebagai respons terhadap satu pemicu. Misalnya, ketika mereka berada di ruangan yang penuh dengan suara keras, mereka mungkin mendorong jari-jari mereka ke telinga mereka atau berteriak keras atau membenturkan kepala mereka ke dinding. Pajankan anak pada pemicu yang sama keesokan harinya, dan anak mungkin akan merespons dengan tindakan yang berbeda.

Para ahli mengatakan bahwa beberapa orang dengan autisme tidak melihat perilaku mereka sebagai hal yang tidak biasa atau aneh. Mereka bahkan mungkin menganggapnya sebagai respons yang membantu terhadap dunia di sekitar mereka. Dorongan untuk bergerak ini disebut dengan berbagai macam nama, termasuk perilaku berulang, perilaku menenangkan diri, atau stimming. Banyak penyandang autisme yang melakukan tindakan-tindakan ini. Bahkan, ketika dokter berusaha menemukan autisme pada pasien yang masih muda, mereka mencari bukti dari dorongan-dorongan ini.

Anxiety disorder

Anxiety disorder atau gangguan kecemasan umum melibatkan kehawatiran yang terus menerus dan berlebihan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Kekhawatiran dan ketegangan yang berkelanjutan ini dapat disertai dengan gejala fisik, seperti kegelisahan, perasaan gelisah atau mudah lelah, kesulitan untuk berkonsentrasi, ketegangan otot atau masalah tidur.

Gangguan kecemasan secara umum ini memiliki keterlibatan dengan gangguan OCD, meskipun gangguan OCD bukan termasuk jenis gangguan kecemasan. Penderita OCD dengan gangguan kecemasan mengalami pikiran-pikiran mengganggu yang sangat teratur yang dapat menyebabkan kekhawatiran berlebihan dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

Para ahli menggambarkan kecemasan ini sebagai keadaan suasana hati yang “berorientasi pada masa depan”, yang berarti mereka yang mengalami gangguan kecemasan sering kali secara psikologis dan perilaku mempersiapkan diri untuk kejadian di masa depan yang mereka perkirakan akan menjadi ancaman.

Sementara orang dengan OCD dan kecemasan dapat merasakan ketakutan yang intens tentang situasi atau objek tertentu, mereka yang memiliki OCD lebih terpengaruh oleh pikiran, gambaran, atau dorongan perilaku yang berulang yang menyebabkan mereka cemas. Mereka akan merespons pikiran atau dorongan yang berulang ini dengan melakukan ritual berulang-ulang seperti mencuci tangan atau memeriksa objek.

Seseorang dengan OCD mungkin tidak dapat mengendalikan dorongan untuk melakukan kompulsi, dan mereka mungkin tidak menikmati melakukannya. Orang dengan gangguan kecemasan biasanya tidak akan merasa perlu untuk melakukan dorongan-dorongan ini.

Meskipun keduanya merupakan kondisi kesehatan mental yang berbeda, OCD dan kecemasan dapat tumpang tindih dalam hal penyebab dan pengobatannya. Para penulis tinjauan kecemasan tahun 2022 baru-baru ini menyatakan bahwa kecemasan kurang terdiagnosis, meskipun merupakan salah satu kondisi kesehatan mental yang paling umum pada populasi umum.

Tourette syndrome

Sindrom Tourette, atau lebih dikenal sebagai Tourette Syndrome (TS), adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan tics, yaitu gerakan atau suara yang dilakukan berulang kali dan sulit untuk dikendalikan. Tics yang muncul pada TS dapat berupa tics motorik, seperti mengedipkan mata atau menggeleng-gelengkan kepala, serta tics vokal, seperti bersiul atau mengeluarkan kata-kata tertentu. Gangguan ini sering dimulai pada masa kanak-kanak dan dapat terus berlanjut hingga dewasa.

Perilaku kompulsif juga bisa menjadi bagian dari gejala TS atau muncul bersamaan. Beberapa individu dengan TS dapat mengalami perilaku kompulsif seperti menghitung, mengulangi kata-kata, atau menyentuh sesuatu berulang kali. Ini terkait dengan konsep “Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD) yang seringkali berkaitan dengan TS. Namun, tidak semua orang dengan TS mengalami perilaku kompulsif, dan tidak semua orang dengan OCD mengalami tics.

Kedua gangguan ini, TS dan perilaku kompulsif, dapat bersifat komorbid, yang berarti mereka dapat muncul secara bersamaan dalam satu individu. Namun, kaitan antara keduanya masih menjadi area penelitian yang kompleks dan memerlukan pemahaman yang lebih mendalam. Meskipun gejala TS dan perilaku kompulsif dapat menimbulkan stres dan hambatan dalam kehidupan sehari-hari, terapi perilaku kognitif, obat-obatan, dan dukungan sosial dapat membantu individu yang terpengaruh untuk mengelola gejala-gejala ini dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Baca juga: Perilaku Impulsif Secara Digital : Bagaimana Media Sosial Mempengaruhinya

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

4 Jenis Gangguan Kesehatan Mental Dengan Perilaku Kompulsif — DeepTalk