Deeptalk.co.id – Toxic relationship adalah bentuk hubungan yang tidak sehat yang merugikan salah satu atau kedua belah pihak. Walaupun toxic relationship umumnya terjadi dalam hubungan asmara. Namun tidak jarang kondisi serupa juga dialami dalam hubungan keluarga, pertemanan, maupun hubungan profesional.
Toxic relationship pada dasarnya bisa dialami oleh semua orang. Kabar buruknya, banyak gen z yang terjebak dalam kondisi tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini gen z sudah berusia 28-13 tahun. Artinya, banyak dari mereka yang sudah mulai menjalin hubungan asmara maupun pertemanan yang lebih luas.
Toxic relationship bisa memicu masalah kesehatan fisik maupun mental. Meski demikian, banyak orang yang justru tidak bisa lebih lepas dari hubungan tersebut. Selain karena mempengaruhi kondisi psikologis, beberapa orang justru tidak sadar bahwa dirinya sedang terjebak dalam toxic relationship. Maka dari itu, artikel kali ini akan membahas 10 macam bentuk toxic relationship. Bisa jadi seseorang merasa tidak terjebak dalam toxic relationship hanya karena ia berada dalam bentuk toxic relationship yang berbeda dengan yang ia ketahui.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utama. Perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang terdekat mengalami toxic relationship dan berdampak pada kondisi mentalnya. Jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut 10 macam bentuk toxic relationship:
1. Kekerasan Fisik

Bentuk toxic relationship pertama berupa kekerasan secara fisik, yaitu bentuk kekerasan yang melukai atau menyakiti fisik seseorang. Kekerasan fisik sendiri cukup beragam, mulai dari pukulan, pertangkaran, tamparan, lemparan, dan segala bentuk kekerasan yang menyakiti tubuh. Dampak dari kekerasan fisik ini bisa berupa luka, lebam, goresan pada kulit, cedera, hingga trauma bagi penderitanya.
2. Kekerasan Emosional

Bentuk toxic relationship kedua berupa kekerasan secara emosional, yaitu bentuk kekerasan yang menyakiti atau melukai perasaan seseorang. Kekerasan emosional memang tidak secara langsung menyerang fisik. Melainkan dengan menggunakan kata-kata yang menyakitkan. Misalnya melakukan penghinaan, merendahkan, manipulasi emosi, dan lain sebagainya. Dampak dari kekerasan emosional tidak akan tampak jelas oleh mata, melainkan menyerang kondisi emosi dan psikologis penderitanya.
3. Kekerasan Psikologis

Bentuk toxic relationship ketiga berupa kekerasan secara psikologis, yaitu bentuk kekerasan yang mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Hampir sama dengan kekerasan emosional yang tidak menyerang secara fisik. Namun, kekerasan psikologis lebih menekankan pada rasa takut. Misalnya dengan mengancam, intimidasi, atau melakukan kontrol berlebihan. Dampak dari kekerasan psikologis ini bisa mengganggu kondisi kesehatan mental, dan tentunya memicu trauma mendalam.
Baca juga: Seberapa Banyak Gen Z Mengalami Toxic Relationship?
4. Kekerasan Seksual

Bentuk toxic relationship keempat berupa kekerasan secara seksual, yaitu bentuk kekerasan yang meliputi aktivitas seksual yang dipaksakan. Kekerasan seksual bisa berupa pemerkosaan dan pelecehan seksual. Dampak dari kekerasan seksual cukup beragam, mulai dari masalah pada organ intim, resiko terserang penyakit seksual, dan tentunya masalah psikologis seperti trauma.
5. Kontrol dan Manipulasi

Bentuk toxic relationship kelima berupa kontrol dan manipulasi, yaitu upaya untuk memastikan pasangan, teman, atau keluarga untuk mengikuti apa yang diinginkan, terlepas dari itu baik atau buruk. Kontrol dan manipulasi ini bisa berupa mengontrol segala kegiatan sehari-hari, penggunaan teknologi untuk mengintai, dan masih banyak lagi.
6. Ketergantungan

Bentuk toxic relationship keenam berupa ketergantungan, yaitu berlebihan dalam membiarkan orang lain mengatur atau menentukan segala hal dalam hidupnya. Ketergantungan dalam hal ini termasuk ketergantungan secara finansial, ekonomi, dan fisik.
7. Gaslighting

Bentuk toxic relationship ketujuh berupa gaslighting, yaitu bentuk manipulasi untuk membuat korban meragukan kemampuan dan menyalahkan diri sendiri. Gaslighting dalam hal ini bisa berupa memanipulasi kenyataan yang ada, dan membuat korban tidak percaya akan diri sendiri. Gaslighting bisa berdampak pada hilangnya rasa percaya diri, ketergantungan terhadap pelaku, dan berbagai masalah kesehatan mental.
8. Narcissistic Abuse

Bentuk toxic relationship kedelapan adalah narcissistic abuse, yaitu salah satu bentuk pelecehan emosional dengan pelaku seorang narsisme. Narcissistic abuse bisa berupa memanipulasi korban untuk bisa memuaskan ego pelakunya.
9. Emotional Blackmail

Bentuk toxic relationship kesembilan adalah emotional blackmail, yaitu bentuk manipulasi psikologi dengan mengancam atau menghukum korbannya karena tidak melakukan hal yang diinginkan atau diperintahkan oleh pelaku.
10. Stalking

Bentuk toxic relationship kesepuluh adalah stalking, yaitu upaya untuk mengikuti, memantau, atau mengawasi korban, secara sengaja dan diam-diam dengan maksud tertentu. Stalking bisa dilakukan dengan banyak cara, mulai dari mengikuti secara langsung, memasang alat penyadap, memasang gps, dan lain sebagainya secara diam-diam.
Itu dia 10 macam bentuk toxic relationship. Jika kamu memiliki salah satu atau beberapa dari 10 bentuk toxic relationship dalam hubungan mu, maka cobalah untuk membenahi hal tersebut. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Benarkah Meditasi Bisa Mengatasi Burnout?
Sumber:
American Psychological Association. (2020). Toxic Relationships.
National Domestic Violence Hotline. (2022). Signs of Abuse.
World Health Organization. (2019). Violence Against Women.
Journal of Adolescent Health. (2020). Toxic Relationships and Adolescent Health.
Centers for Disease Control and Prevention. (2022). Intimate Partner Violence.
Komnas Perempuan. (2022). Laporan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan.
Walker, L. E. (2017). The Battered Woman Syndrome.
Bancroft, L. (2002). Why Does He Do That?.
Herman, J. L. (2015). Trauma and Recovery.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



