Semua artikel
Masalah Mental

Trauma Dumping : Saat Terlalu Berlebihan Berbagi Perasaan

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Trauma dumping, juga dikenal sebagai oversharing trauma, adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku berlebihan dalam berbagi pengalaman traumatis dengan orang lain tanpa mempertimbangkan batasan dan kesiapan pendengar. Fenomena ini sering terjadi ketika seseorang yang telah mengalami trauma berusaha untuk melepaskan beban emosional mereka dengan mencurahkan semua cerita dan pengalaman yang menakutkan kepada orang lain.

Namun, trauma dumping dapat memiliki dampak yang signifikan, baik bagi pelaku maupun pendengar. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang fenomena ini melalui beberapa bentuk atau contohnya, mengapa hal itu bisa terjadi, serta mengapa hal ini bisa berbahaya. Dengan demikian diharapkan Anda dapat menemukan cara-cara yang efektif untuk mengelola dan berbagi pengalaman traumatis dengan lebih bijaksana.

Apa Itu Trauma Dumping?

Trauma dumping termasuk perilaku yang tidak sehat yang cenderung melibatkan sesi curhat yang panjang dan tanpa gangguan mengenai satu atau lebih pengalaman stres, yang menyakitkan atau traumatis yang dialami seseorang. Mereka yang mengalami trauma dumping ini dapat melakukakannya kepada teman, keluarga, atau bahkan kolega dan kenalan yang biasanya tanpa izin atau persetujuan pihak pendengar.

Jika dibandingkan dengan curhat, tentu ini berbeda jauh. Cyhat lebih pada melampiaskan dengan melibatkan seseorang yang terbuka tentang sesuatu yang mengganggu mereka, tetapi melakukannya dengan cara yang lebih menghormati orang yang mendengarkan. Sedangkan trauma dumping tidak melibatkan batasan untuk melindungi waktu, perasaan atau kebutuhan orang yang menerimanya.

Trauma dumping terlihat sangat berbeda dari percakapan yang sehat. Ini terjadi pada percakapan satu arah di mana orang yang berbagi (isi perasaannya) yang paling banyak bicara. Ada beragam alasan yang mendasari seseorang bisa mengalami hal ini.

Ketika seseorang mengalami trauma, otak mereka secara konsisten mencari potensi ancaman, yakni membiarkan respon fight, flight, freeze atau fawn diaktifkan bahkan ketika ancaman sebenarnya tidak ada. Selain itu, ingatan traumatis tidak disimpang dengan cara yang sama seperti ingatan non traumatis, yang membuat ingatan lebih sulit untuk tidak merasa tertekan.

Karena ingatan traumatis menempati lebih banyak ruang di pikiran mereka, membagikannya dengan orang terdekat dapat meredakan ketidaknyamanan dan stres yang dirasakan. Namun, jika hal tersebut dilakukan tanpa persetujuan pihak lawan, ini tentu dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan stres bagi pendengarnya.

Baca juga: Rejection Sensitivity Dysphoria : Sakit Hati Intens Saat Terjadi Penolakan

Contoh Trauma Dumping

Ada banyak bentuk trauma dumping yang mungkin biasa Anda temui sehari-hari. Beberapa bentuknya berikut ini dapat mempersulit orang untuk mengetahui kapan hal itu terjadi pada mereka. Di bawa ini adalah beberapa contoh yang menggambarkan seperti apa trauma dumping dalam situasi yang berbeda.

Teman yang memperlakukan Anda seperti terapisnya

Ini terjadi ketika mereka mungkin menelepon Anda saat mengalami hari yang buruk atau bertengkar dengan pacarnya. Hingga mereka bisa berteriak-teriak, membentak, dan menangis kepada Anda selama berjam-jam. Saat Anda mencoba menyela, mereka mungkin mengabaikan atau membicarakan Anda. Jika Anda tidak menjawab atau tidak dapat berbicara lama, mereka mungkin akan marah atau menuduh Anda tidak mendukung. Jika ini hanya terjadi sesekali, mungkin tidak masalah. Namun, jika sering terjadi, bisa jadi Anda menjadi korban trauma dumping.

Rekan kerja yang terlalu membawa urusan pribadi di tempat kerja

Contoh lain dari trauma dumping adalah ketika rekan kerja berbagi hal-hal yang tidak nyaman dengan Anda saat Anda sedang bekerja. Misalnya, mereka mungkin membicarakan masalah keuangan, anggota keluarga yang sakit atau sekarat, atau masalah pernikahan. Anda mungkin telah mencoba mengubah topik atau memberikan isyarat lain yang tidak terlalu halus bahwa Anda merasa tidak nyaman, tetapi mereka tampaknya tidak menyadarinya. Pola dumping ini mungkin menjadi sangat ekstrim sehingga mengganggu kemampuan Anda untuk melakukan pekerjaan Anda.

Ketika seseorang terlalu berlebihan mencurahkan keluh kesah di media sosial

Berbagi secara berlebihan secara online adalah situasi umum lainnya di mana trauma dumping terjadi. Misalnya, Anda mungkin mengikuti seseorang di media sosial yang selalu memposting hal-hal yang mengkhawatirkan. Ini mungkin termasuk pernyataan samar atau lirik lagu samar tentang kematian atau bunuh diri. Beberapa mungkin memposting tentang keinginan untuk menyakiti atau bunuh diri, yang bisa jadi merupakan perilaku mencari perhatian yang didorong oleh emosi negatif yang ekstrem.

Mengapa Ini Berbahaya?

Tidak ada salahnya untuk saling berbagi dukungan emosional satu sama lain, bahkan ini bagus untuk mengembangkan hubungan agar menjadi lebih erat. Akan tetapi, trauma dumping biasanya bukanlah bentuk dari timbal balik. Itu adalah jenis komunikasi yang toxic yang melibatkan satu orang untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka dengan mengorbankan orang lain.

Seiring waktu, hal ini pun dapat menciptakan hubungan sepihak yang menjadi tegang diantaranya. Bahkan terkadang trauma dumping menjadi salah satu tanda dari toxic relationship.

Trauma dumping sering kali melibatkan tekanan bicara dengan banyak muatan emosional, yang dapat memicu respons ‘fight or flight’ pada orang yang mendengarkan. Ini mengacu pada bagaimana otak merespons ancaman, menyebabkan reaksi berantai di otak, sistem saraf, dan tubuh. Ketika ini terlalu sering terjadi, hormon stres yang dipancarkan dapat menyebabkan stres kronis atau beracun, yang diketahui berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental seseorang.

Trauma dumping sudah nyata berbahaya, namun biasanya tidak dilakukan dengan niat jahat. Seringkali ini menjadi coping mechanism atau cara mencari dukungan emosional yang tidak sehat dan tidak efektif.

Mereka yang terlibat pun terkadang tidak mampu atau tidak mau menangani masalah dan perasaan mereka sendiri. Mereka mungkin mengalami kecemasan, depresi atau rendah diri. Atau bahkan mereka mungkin menjadi tidak cukup stabil secara emosional untuk mengatasi masalah mereka sendiri.

Baca juga: Mengatasi Tantangan Pada Midlife Crisis

 

Sumber:

Dubin, A. (2022, November 16). Signs that you might be trauma-dumping instead of just venting, according to psychologists. Insider. https://www.insider.com/guides/health/mental-health/trauma-dumping

How to Recognize Trauma Dumping & What to Do About It. (2023, June 2). Choosing Therapy. https://www.choosingtherapy.com/trauma-dumping/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Trauma Dumping : Saat Terlalu Berlebihan Berbagi Perasaan — DeepTalk