Deeptalk.co.id – Perkembangan teknologi tidak hanya membuat kita mudah untuk mendapatkan berbagai informasi yang kita inginkan, melainkan juga membuat kita mudah dalam melakukan transaksi jual beli. Kemudahan yang satu ini tentu sangat menguntungkan, mengingat kita tidak perlu lagi keluar rumah untuk bisa mendapatkan barang yang kita ingin dan butuhkan. Sayangnya kemudahan yang satu ini justru dapat mendorong kita ke dalam salah satu kondisi mental yang dikenal dengan istilah compulsive buying disorder.
Untuk mengenal lebih jauh mengenai kondisi compulsive buying disorder, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai kondisi tersebut. Namun sebelum kita masuk ke pembahasannya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi dan tidak untuk dijadikan patokkan self diagnosis.
Jika kamu atau orang disekitar merasakan beberapa gejala yang sama dengan apa yang dipaparkan dalam artikel ini, maka segera lakukan konsultasi dengan Psikolog atau Psikiater untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Berikut pembahasannya.
Pengertian Compulsive Buying Disorder

Compulsive buying disorder merupakan salah satu masalah dalam kontrol impulsif, dimana impulsif sendiri adalah kondisi dimana seseorang melakukan suatu tindakan tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya tindakan tersebut. Dalam kondisi compulsive buying disorder, penderita melakukan pembelian suatu barang dengan didorong oleh keinginan yang begitu besar dan tidak mempertimbangkan fungsi dan manfaat dari barang yang dibelinya.
Penderita compulsive buying disorder ini justru sering kali tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan adalah sebuah penyimpangan. Mereka merasa bahwa berbelanja merupakan suatu keharusan dan semua orang memang seperti itu, walau sebenarnya tidak seperti itu.
Walaupun berbelanja bisa menjadi salah satu terapi psikologis yang dikenal dengan istilah shopping therapy atau retail therapy, namun hal ini justru bisa berdampak negatif untuk beberapa orang.
Penderita compulsive buying disorder bahkan bisa merasa tidak nyaman atau tertekan jika tidak bisa membeli sesuatu dalam kurung waktu tertentu. Mereka bahkan bisa mengalami gangguan emosional, mulai dari stress hingga merasa depresi akibat hal tersebut.
Walaupun kondisi compulsive buying disorder ini pada umumnya dialami oleh wanita, namun tidak menuntut kemungkinan pria juga memiliki kondisi yang sama. Selain itu, kondisi compulsive buying disorder juga berlaku untuk mereka yang berbelanja secara online maupun offline. Justru kemudahan bertransaksi secara online dapat meningkatkan tingkat keparahan dari kondisi compulsive buying disorder.
Penyebab Compulsive Buying Disorder

Sayangnya penyebab pasti dari kondisi compulsive buying disorder ini belum diketahui hingga saat ini. Meski demikian, beberapa faktor dipercaya dapat meningkatkan resiko compulsive buying disorder. Berikut beberapa faktor yang dimaksud:
Gangguan mental
Beberapa masalah kesehatan mental juga dapat meningkatkan resiko compulsive buying disorder. Adapun gangguan yang dimaksud adalah gangguan kecemasan, gangguan makan, gangguan kontrol impuls, gangguan mood, gangguan kepribadian, dan penyalahgunaan zat-azt adiktif.
Baca juga : Berlebihan Dalam Mengidolakan Seseorang? Waspada Celebrity Worship Syndrome
Pola asuh pada masa kanak-kanak
Pola asuh orang tua memang sedikit banyak akan mempengaruhi kondisi mental anak di masa depan. Karena hal tersebut, beberapa jenis pola asuh juga dapat meningkatkan kemungkinan compulsive buying disorder. Contohnya seseorang yang masa kanak-kanaknya tumbuh dengan rasa cinta dan kasih sayang yang kurang, atau mengalami beberapa penderitaan seiring dengan perkembangannya. Selain itu, anak yang kurang dalam mendapatkan perhatian, dapat mengambangkan kemungkinan kondisi compulsive buying disorder saat dewasa.
Usia dan jenis kelamin
Sudah dijelaskan di awal bahwa kondisi compulsive buying disorder ini biasanya dialami oleh wanita, dimana 90% pengidap compulsive buying disorder adalah wanita. Selain itu, beberapa penelitian mengungkapkan bahwa penderita compulsive buying disorder berusia sekitar 30 tahun. Penelitian lainnya mengatakan bahwa penderita compulsive buying disorder berusia sekitar 18 hingga 20 tahun.
Gejala Compulsive Buying Disorder

Berikut beberapa gejala yang dialami oleh penderita compulsive buying disorder:
Pembelian impulsif
Seperti pada namanya, compulsive buying disorder beresiko membuat penderitanya melakukan pembelian secara impulsif. Dalam hal ini, penderita membeli sesuatu berdasarkan dorongan hati tanpa mempertimbangkan fungsi dan manfaat dari benda tersebut.
Bahagia saat belanja
Penderita compulsive buying disorder juga cenderung merasakan kebahagiaan tersendiri saat berbelanja. Walaupun pada umumnya orang merasa senang saat berbelanja, namun pada penderita compulsive buying disorder, kebahagiaan yang mereka rasakan bisa memicu kecanduan.
Belanja karena dorongan emosi
Penderita compulsive buying disorder sering kali mengalami peningkatan intensitas berbelanja saat mereka mengalami emosi berlebih. Contohnya saat merasa terlalu sedih, atau terlalu bahagia sekalipun.
Bersalah dan menyesal
Walaupun penderita compulsive buying disorder berbelanja mengikuti kata hati mereka, namun tindakan tersebut seringkali memicu rasa bersalah dan menyesal. Saat selesai belanja mereka mulai merenungi betapa tidak pentingnya perilaku mereka.
Merasa sakit saat membayar
Ada kalanya penderita compulsive buying disorder berbelanja dalam jumlah besar dan mulai merasa sakit saat melakukan proses transaksi. Hal ini bisa lebih dirasakan saat pembayaran dilakukan secara tunai.
Itu dia beberapa penjelasan mengenai compulsive buying disorder. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Ini Dia Dampak dan Cara Mengatasi Gangguan Erotomania
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

