Deeptalk.co.id – Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan kita sangat erat kaitannya dengan kegiatan jual beli. Sesederhana untuk bisa mendapatkan makanan, beberapa orang memang mengolahnya dari hasil kebun dan hewan ternak, namun sebagian besar orang membeli olahan masakan atau membeli makanan yang sudah diolah. Belum lagi dengan tempat tinggal, pakaian, hingga aksesoris yang kita gunakan. Semua itu tidak lepas dari yang namanya berbelanja. Untuk itu, pada dasarnya manusia di era modern ini tentu sudah tidak asing lagi dengan aktivitas yang satu ini.
Bagi beberapa orang, aktivitas berbelanja memang mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Terlebih lagi perkembangan teknologi sudah sangat mempermudah kita dalam aktivitas tersebut. Kita bahkan tidak perlu keluar rumah untuk bisa mendapatkan barang yang kita inginkan. Walaupun pada dasarnya aktivitas ini merupakan sesuatu yang wajar, namun berbelanja bisa menjadi sebuah gangguan jika diiringi dengan sifat kompulsif atau yang kita kenal dengan istilah compulsive buying disorder.
Compulsive buying disorder (CDB) merupakan bagian dari gangguan kompulsif yang ditandai dengan dorongan untuk berbelanja tanpa memikirkan fungsi dan manfaat dari barang yang dibelinya. Compulsive buying disorder ditandai dengan aktivitas berbelanja berlebihan atau kontrol impuls yang buruk dalam berbelanja.
Compulsive buying disorder juga dikenal dengan istilah kecanduan berbelanja. Sama halnya dengan kecanduan terhadap handphone atau yang lainnya, orang yang mengalami compulsive buying disorder juga mengalami kesulitan untuk mengontrol aktivitas berbelanjanya. Walaupun setelah berbelanja, penderita akan merasakan penyesalan. Selain itu, penderita compulsive buying disorder juga cenderung merasa lebih sakit saat berbelanja menggunakan uang tunai dibandingkan dengan kartu atau pembayaran digital.
Kondisi compulsive buying disorder ini mulai berkembang di usia 30 tahunan atau disaat seseorang sudah memiliki kemandirian dalam bidang financial. Walaupun compulsive buying disorder cukup sering dijumpai pada wanita, namun tidak menuntut kemungkinan pria juga mengalami kondisi yang sama.
Dampak Compulsive Buying Disorder

Perlu diketahui bahwa compulsive buying disorder merupakan salah satu kondisi kesehatan mental yang termasuk dalam gangguan kontrol impuls yang dapat mengakibatkan kecanduan, atau masuk dalam kategori gangguan obsesif kompulsif (OCD). Untuk itu penting bagi kita memberikan perhatian pada kondisi yang satu ini.
Kondisi compulsive buying disorder juga bisa memberikan beberapa dampak untuk diri sendiri dan orang-orang disekitar. Berikut beberapa dampak dari compulsive buying disorder:
Menimbulkan rasa bersalah
Saat berbelanja, seseorang dengan compulsive buying disorder memang merasa bahagia dan menikmati aktivitas tersebut. Sayangnya perasaan bahagia itu hanya dirasakan saat proses belanja. Setelah itu mereka cenderung merasa bersalah karena telah menghamburkan banyak uang untuk barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
Pemborosan
Seperti yang diketahui, mengeluarkan uang untuk barang-barang yang tidak dibutuhkan merupakan suatu pemborosan. Terlebih lagi jika aktivitas tersebut dilakukan dengan intensitas yang cukup tinggi. Akibatnya, penderita compulsive buying disorder bisa jadi kehilangan sebagian besar asetnya untuk memenuhi hasrat berbelanjanya.
Baca juga : Suka Berbelanja? Waspada Compulsive Buying Disorder
Kebiasaan berhutang
Penderita compulsive buying disorder akan melakukan berbagai macam cara untuk bisa memuaskan hasrat belanjanya. Untuk beberapa orang dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, mereka tidak ragu untuk berhutang demi bisa berbelanja. Karena pendapatan yang pas-pasan, hutang yang tadinya hanya dengan nominal kecil, bisa menjadi lebih besar seiring dengan berjalannya waktu.
Timbulnya perilaku menyimpang
Penderita compulsive buying disorder membutuhkan banyak uang untuk dapat memuaskan hasrat berbelanjanya. Dalam kondisi-kondisi tertentu, penderita bisa saja kesulitan untuk tetap berada pada jalan yang benar. Kondisi semacam ini tidak jarang membuat penderita melakukan beberapa perilaku menyimpang seperti tindakan pemerasan atau pencurian untuk bisa mendapatkan uang lebih.
Tips Mengatasi Compulsive Buying Disorder

Mengingat dampak yang bisa saja dialami akibat kondisi compulsive buying disorder, tentu timbul keinginan untuk memerangi kondisi tersebut. Berikut beberapa tips untuk mengatasi kondisi compulsive buying disorder:
Mengembangkan hobi
Beberapa orang berbelanja untuk sekedar meredakan kondisi emosional yang sedang tidak terkendali. Alih-alih berbelanja, kamu mungkin bisa mencari hobi baru yang lebih menguntungkan. Misalnya dengan melukis, bermain musik, membaca buku, dan lain sebagainya.
Membuat daftar belanjaan
Sebelum kamu berbelanja, ada baiknya tuliskan daftar belanjaan. Selain itu pastikan kamu berbelanja sesuai dengan apa yang kamu tulis. Dengan begitu kamu memiliki panduan dalam berbelanja.
Gunakan uang tunai
Walaupun zaman semakin modern dengan banyaknya tempat berbelanja yang menyediakan pembayaran non-cash, namun ada baiknya kamu tetap menggunakan uang tunai dalam pembayaran. Dalam beberapa penelitian, pembayaran dengan uang tunai cenderung membuat kita lebih terkontrol dalam mengeluarkan uang.
Itu dia beberapa cara yang bisa kamu coba. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam beberapa kondisi, compulsive buying disorder membutuhkan bantuan secara profesional. Untuk itu jangan ragu berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater seputar hal tersebut.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga : Berlebihan Dalam Mengidolakan Seseorang? Waspada Celebrity Worship Syndrome
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

