Deeptalk.co.id – Setiap manusia mengalami krisis identitas mereka pada tahap-tahap tertentu. Termasuk akhir-akhir ini yang terkenal di kalangan generasi muda ialah istilah quarter life crisis karena mereka merasa relate atau terhubung dengan kondisi tersebut. Tak memungkiri jika quarter life crisis memang sering dialami oleh banyak generasi muda.
Quarter life crisis adalah periode ketidakpastian dan pertanyaan yang biasanya terjadi ketika orang merasa terjebak, tidak terinspirasi dan kecewa. Ini terjadi selama usia pertengahan 20-an hingga awal 30-an. Mereka mungkin merasa bahwa telah terjebak dalam pekerjaan buntu sementara semua teman mereka telah mengalami kemajuan dalam karier dan hidupnya.
Pada artikel kali ini, kami akan membahas lebih lanjut akan adanya alasan mengapa usia generasi muda bisa mengalami quarter life crisis. Juga untuk mengungkapkan perbedaan dari pengalaman quarter life crisis bagi kehidupan generasi muda dengan generasi lainnya.
Alasan Generasi Muda Mengalami Quarter Life Crisis

Meski krisis paruh baya (midlife crisis)juga banyak dikenal masyarakat, bukan berarti krisis tersebut lebih sering terjadi. Menurut sebuah studi tahun 2011, psikolog Inggris melaporkan di The Guardian bahwa orang berusia 20-an cenderung mengalami krisis seperti yang mereka (usia paruh baya) juga alami.
Dinamakan quarter life crisis karena kondisi ini sering dialami pada usia manusia yang berada di seperempat usia rata-rata saat ini. Yaitu saat manusia berada pada usia 25-an tahun, yang mana hal ini wajar terjadi untuk dialami.
Pada usia ini, seseorang bisa mengalami quarter life crisis karena adanya stresor umum yang dapat menyebabkan krisis. Stresor ini biasanya dialami saat usia mereka berada pada usia awal kedewasaan. Yakni meliputi pencarian kerja atau perencanaan karir, pengalaman hidup tanpa orang tua untuk pertama kali, tanggung jawab untuk manajemen keuangan pribadi, hingga membuat keputusan pribadi atau profesional jangka panjang.
Namun sebagai sebuah budaya, kita semua berpikir bahwa usia 25 adalah tahap terbaik dalam hidup. Orang-orang pada usia ini merasa bahagia karena mereka bisa melakukan semua yang mereka inginkan. Ini adalah waktu yang tepat dalam hidup.
Hal tersebut justru menjadi masalah lain dengan quarter life crisis pada kehidupan generasi muda. Mereka sering merasa bahwa mereka tidak punya alasan untuk berjuang karena tahun-tahun ini seharusnya menyenangkan dan relatif mudah. Akibatnya, baik mereka sendiri atau orang lain dalam hidup mereka, mungkin mencoba mengabaikan masalah yang mereka alami.
Harvard Business Review melaporkan bahwa quarter life crisis biasanya muncul dalam empat fase. Pertama, klien merasa terjebak dalam suatu bentuk komitmen, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional mereka. Lalu, ada semacam perpisahan atau kesepian, entah itu pindah ke kota baru atau meninggalkan hubungan asmara. Selama periode isolasi ini, mereka akan merenungkan di mana mereka berada dalam hidup dan mungkin mengubah rencana mereka, sebelum menjelajahi aktivitas baru, kelompok sosial atau peluang karier, dan keluar dari sisi lain krisis.
Baca juga: Apa Itu Regulasi Emosi dan Mengapa Penting Untuk Kesejahteraan Emosi?
Beda Quarter Life Crisis Dengan Krisis Generasi Lainnya

Penelitian yang sama dari Harvard Bussines Review juga menjelaskan bahwa usia 20-an saat ini lebih menderita daripada generasi sebelumnya. Tidak hanya usia 20-an yang melaporkan tingkat kenegatifan perasaan di antaranya yang lebih tinggi daripada usia lainnya, usia rata-rata seseorang pun menurun. Dari yang semula banyak dialami usia 40-50-an, kini justru lebih banyak dialami kelompok usia 20-an.
Krisis yang dialami generasi muda usia 25-an ini lebih lama dari sebelumnya. Dimana pada tahun 1950-an, psikolog perkembangan Erik Erikson melihat remaja usia 12 hingga 18 tahun sebagai tahap untuk bertanya identitas diri mereka. Namun saat ini, remaja terlalu sibuk mempersiapkan kuliah untuk bertanya apa yang akan mereka lakukan sesudahnya dan mengapa.
Kemudian pertanyaan akan krisis identitas ini tertunda, hingga sampai pada kahirnya pada usia 25-an, lalu bertanya dengan lebih mendesak akan pertanyaan siapa dirinya dan apa arti mereka bagi dunia. Dalam “masa awal kedewasaan” ini, rasa tujuan seseorang menjadi membara namun dengan suasana menyedihkan.
Sementara krisis paruh baya dan akhir kehidupan sering dipicu oleh peristiwa penting dalam hidup , seperti masalah kesehatan, menjanda, pensiun , perceraian , atau kehilangan pekerjaan, quarter life crisis seringkali tidak memiliki provokasi. Karier mereka terus berjalan seperti biasa, hingga sebuah pertanyaan akan krisis identitas muncul bagai menghancurkan segala kehidupan.
Jika krisis kehidupan selanjutnya dapat dibedakan dengan kesadaran bahwa kita telah gagal mencapai tujuan kita, quarter life crisis berakar pada pencerahan bahwa kita tidak memiliki tujuan apa pun , atau bahwa tujuan kita sangat tidak realistis. Selain itu, quarter life crisis berkisar pada frustrasi karena kurangnya kehidupan yang dirasakan dan mereka tidak mengharapkan penyesalan. Sebuah survei terhadap 1.000 anak muda, misalnya, menemukan bahwa 86 persen dari mereka merasakan tekanan untuk bisa berhasil dalam hubungan, keuangan, dan pekerjaan mereka sebelum mencapai usia 30 tahun.
Baca juga: Tes Kepribadian Online: Keuntungan dan Risikonya
Sumber:
Bradley University. (2018, June 15). Understanding The Quarter-life Crisis. Bradley University Online. https://onlinedegrees.bradley.edu/blog/understanding-the-quarter-life-crisis/
Beaton, C. (2017, September 12). Why Millennials Need Quarter-Life Crises. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-gen-y-guide/201709/why-millennials-need-quarter-life-crises
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



