Deeptalk.co.id – Apakah kamu pernah mendengar tentang Misophonia atau hipersensitivitas suara? Jika belum, yuk kita mengenal lebih jauh apa itu Misophonia dan hipersensitivitas suara. Kedua kondisi ini berhubungan dengan respons atau reaksi kita terhadap suara. Namun memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Mengenali perbedaan antara keduanya penting untuk memahami cara terbaik untuk menangani gejala dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari.
Misophonia dan hipersensitivitas suara seringkali disalahpahami atau bahkan dikategorikan sebagai kondisi yang sama. Padahal, meskipun keduanya berpusat pada reaksi individu terhadap suara, tapi gejala dan cara penanganannya berbeda. Misophonia lebih ke reaksi emosional negatif yang disebabkan oleh suara spesifik. Sementara hipersensitivitas suara mengacu pada peningkatan kepekaan sensorik terhadap suara.
Namun mengetahui perbedaan antara keduanya tentunya tidak cukup. Mempelajari lebih dalam apa itu Misophonia dan hipersensitivitas suara, gejala, dan dampaknya. Oleh karena itulah, mari kita mulai memahami dan mengenal lebih jauh perbedaan antara Misophonia dan hipersensitivitas suara.
Misophonia

Mari kita mulai dengan memahami tentang Misophonia. Misophonia adalah kondisi di mana kamu merasa terganggu. Bahkan sanggup merasa marah atau stres, ketika mendengar suara-suar tertentu. Suara-suara ini bisa bermacam-macam, mulai dari suara makan, suara ketuk-ketuk pena, hingga suara pernapasan. Dapat dikatakan, Misophonia adalah semacam ‘benci terhadap suara’.
Bukan hanya itu, Misophonia juga mencakup gejala-gejala spesifik lainnya. Pertama, kamu bisa merasa terganggu oleh suara spesifik yang mendadak menjadi ‘menjengkelkan’. Kedua, reaksi emosional yang kamu rasakan terhadap suara tersebut seringkali tidak proporsional. Misalnya, rasa marah atau stres yang berlebihan ketika mendengar suara-suara tertentu. Walaupun tampaknya sepele, namun reaksi ini dapat sangat mempengaruhi emosi dan mood kamu.
Dengan reaksi yang seperti ini, sangat mungkin Misophonia bisa mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Misalnya, mungkin kamu jadi memilih untuk makan sendiri supaya tidak mendengar suara kunyahan orang lain. Bahkan kamu merasa lebih nyaman bekerja sambil menggunakan earplug untuk mengurangi suara-suara yang bisa memicu Misophonia.
Setidaknya dengan mengetahui dan memahami ini, kita jadi lebih siap untuk menghadapi dan mencari cara-cara untuk mengatasi Misophonia. Sama-sama kita belajar dan mengerti bahwa Misophonia adalah kondisi yang benar-benar ada dan bisa dialami oleh siapa saja. Termasuk mungkin juga oleh kita atau orang-orang disekitar kita.
Baca juga: 7 Fakta Menarik tentang Misophonia: Ketika Suara Tertentu Membuat Kita Kesal
Hipersensitivitas Suara

Sekarang, mari kita pindah ke tokoh lainnya, yaitu hipersensitivitas suara. Jika Misophonia lebih ke pada reaksi emosional terhadap suara spesifik. Hipersensitivitas suara lebih berfokus kepada bagaimana kamu menerima suara. Itu adalah kondisi di mana suatu individu mengalami sensitivitas suara yang lebih tinggi dari rata-rata orang.
Soal gejala, hipersensitivitas suara memiliki dua ciri khas yang mudah dikenali. Pertama, kamu mungkin merasa semacam getaran atau bahkan bisa merasa sakit karena suara yang dianggap ‘normal’ oleh kebanyakan orang. Kedua, reaksi fisik atau sensorik yang berlebihan terhadap suara tersebut. Misalnya, dering telepon bisa membuatmu kaget, atau suara mesin blender bisa membuatmu merasa sangat tidak nyaman.
Implikasi dari kondisi ini terhadap kehidupan sehari-hari juga tidak bisa diabaikan. Dengan sensitivitas yang tinggi terhadap suara, mungkin kamu sering merasa stres atau sakit kepala setelah berada di lingkungan yang bising. Mungkin juga kamu cenderung memilih tempat-tempat yang tenang atau secara aktif mencoba meredam suara-suara di sekitar.
Mengetahui dan mengerti tentang hipersensitivitas suara ini penting. Dengan tahu, kita bisa lebih memahami dan merasa dicakup oleh kondisi tersebut.
Perbedaan antara Misophonia dan Hipersensitivitas Suara

Sekarang setelah kita mengenal Misophonia dan hipersensitivitas suara, mari kita pelajari perbedaan kunci antara keduanya.
Perbedaan dalam Gejala dan Pemicu
- Spesifik vs. Umum: Salah satu perbedaan utama antara Misophonia dan hipersensitivitas suara terletak pada pemicu suara. Dalam Misophonia, suara tertentu menjadi sangat mengganggu atau menjengkelkan. Sementara itu, hipersensitivitas suara, kamu mungkin merasa terganggu oleh hampir semua jenis suara, bukan hanya satu atau dua suara spesifik.
- Reaksi Emosional vs. Fisik: Misophonia cenderung memicu reaksi emosional yang kuat, seperti marah atau frustrasi, terhadap suara spesifik. Di sisi lain, hipersensitivitas suara bisa memicu respon fisik yang kuat, seperti sakit kepala atau kelelahan mendengar, terhadap suara umumnya.
Perbedaan dalam Diagnosis dan Pengobatan
- Pendekatan Medis: Dalam mendiagnosis dan mengobati misophonia dan hipersensitivitas suara, pendekatan medis berbeda. Misophonia sering dikaitkan dengan dampak emosional dan psikologis. Sehingga penanganannya mungkin lebih banyak melibatkan terapi perilaku atau psikologis. Sedangkan, hipersensitivitas suara dikaitkan dengan respons fisik atau sensorik terhadap suara. Sehingga pengobatannya mungkin berfokus pada latihan atau teknik relaksasi.
- Terapi dan Dukungan: Meski keduanya berbeda, baik Misophonia dan hipersensitivitas suara memerlukan terapi dan dukungan. Baik itu secara profesional dari terapis atau dukungan dari lingkungan sekitar. Mengingat dampak dari kedua kondisi ini pada kualitas hidup sehari-hari. Maka penting untuk mencari dan memberikan dukungan yang diperlukan.
Dengan pemahaman ini, kita dapat lebih baik menyikapi dan mendukung orang-orang disekitar kita yang mungkin mengalami Misophonia atau hipersensitivitas suara.
Baca juga: Perilaku Kompulsif dan Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD): Apa Perbedaannya?
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



