Semua artikel
Masalah Mental

Perbedaan Antara Delusi dan Halusinasi

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Mungkin Anda mengira bahwa halusinasi dan delusi adalah dua hal yang sama. Keduanya sama-sama palsu namun tampak sangat nyata bagi orang yang mengalaminya. Namun tentu halusinasi dan delusi adalah dua kondisi psikologis yang memiliki perbedaan.

Kedua kondisi tersebut disebabkan oleh penyakit mental tertentu, tetapi juga dapat dipicu oleh kondisi medis, cedera atau tanpa penyebab yang diketahui sama sekali. Halusinasi melibatkan indera dan terasa nyata tetapi sebenarnya tidak. Sedangkan delusi merupakan keyakinan yang salah dan tetap ada meskipun terdapat buktinya.

Keduanya tidak selalu perlu dikhawatirkan, namun ketika dialami harus mengarah pada evaluasi medis dan kesehatan mental. Ini bisa memiliki keterkaitan dengan gangguan mental lainnya seperti skizofrenia atau gangguan bipolar. Selain itu halusinasi dan delusi melibatkan distorsi pada kenyataan dan dapat terjadi bahkan tanpa adanya penyakit mental.

Halusinasi vs Delusi

Baik halusinasi maupun delusi adalah gejala khas psikosis dan penyakit mental yang dapat memicu episode psikotik, seperti skizofrenia. Namun, keduanya juga memiliki penyebab dan pemicu lain seperti kondisi medis fisik. Meskipun satu episode delusi atau satu halusinasi mungkin tidak mengindikasikan adanya kondisi mendasar yang serius, keduanya harus diperiksa dan dievaluasi oleh dokter medis atau profesional kesehatan mental.

Baca juga: Tips Mengelola Kecerdasan yang Anda Miliki

Halusinasi

Halusinasi didefinisikan sebagai kondisi yang dirasakan, baik didengar, dilihat, diraba atau bahkan dicium yang semua itu ternyata tidak nyata terjadi. Mereka yang mengalami halusinasi mungkin percaya bahwa itu semua nyata, termasuk segala sesuatu tentang penglihatan, suara atau sensasi lainnya yang tampak sangat nyata.

Halusinasi secara harfiah dapat berupa apa saja yang berhubungan dengan indera, dan setiap orang yang berbeda dengan kondisi yang sama dapat mengalami sesuatu yang benar-benar unik. Ada beberapa contoh halusinasi yang umum terjadi, antara lain:

– Perasaan merayap pada kulit

– Mendengar suara biasa yang tidak ada di sana, seperti pintu tertutup atau langkah kaki

– Mendengar suara-suara, termasuk suara yang memerintahkan seseorang untuk melakukan sesuatu

– Melihat cahaya atau pola

– Sensasi melayang atau berada di luar tubuh seseorang

– Mencium bau yang tidak ada penjelasannya

Pengobatan serta perawatan untuk halusinasi tergantung pada penyebabnya. Diantaranya seperti obat-obatan yang dapat digunakan atau bersamaan dengan konseling. Obat spesifik yang akan diresepkan pun tergantung pada gejala halusinasi. Sedangkan konseling dapat membantu pasien dengan wawasan tentang apa yang mereka alami dan bekerja sama dengan pasien untuk mengembangkan strategi penanganan. Lalu jika halusinasi disebabkan oleh obat, dokter Anda dapat mengurangi dosis obat tersebut atau menghentikannya.

Delusi

Sama halnya dengan halusinasi, delusi juga melibatkan pengalaman akan sesuatu yang terasa nyata tetapi sebenarnya tidak. Namun, perbedaannya ialah delusi sudah jelas-jelas keyakinan yang salah, namun orang yang mengalaminya menganggapnya benar.

Delusi bukanlah sekedar keyakinan yang salah karena kecerdasan, pendidikan, budaya, agama, atau faktor lain yang serupa. Akan tetapi sebaliknya, dimana delusi dinilai salah karena adanya ketidaknormalan dalam pemikiran individu. Orang tersebut akan tetap meyakini delusi tersebut meskipun telah berulang kali ditunjukkan bukti-bukti yang bertentangan.

Keyakinan yang terus-menerus dan salah bisa jadi merupakan sebuah delusi, tetapi seperti halnya halusinasi, ada beberapa jenis dan kategori delusi yang umum, yang paling sering dipicu oleh penyakit mental atau episode psikotik, diantaranya yakni:

– Penganiayaan. Ini adalah delusi di mana seseorang percaya bahwa ada orang yang mengejar mereka atau menganiaya mereka.

– Megah. Waham megah adalah keyakinan apa pun yang berkaitan dengan memiliki kekuatan khusus, hubungan dengan seseorang yang penting atau terkenal, atau memiliki bakat atau kemampuan yang luar biasa.

– Cemburu. Waham cemburu melibatkan keyakinan bahwa pasangannya tidak setia.

– Somatik. Keyakinan yang salah bahwa seseorang sakit atau cacat secara fisik adalah somatik.

– Aneh. Delusi sering kali tidak aneh, artinya delusi itu bisa jadi benar tetapi tidak. Waham aneh adalah waham yang tidak mungkin benar, seperti meyakini bahwa seseorang mengendalikan pikiran seseorang.

Dalam penanganannya, terapi perilaku kognitif (CBT) adalah cara yang efektif untuk mengobati delusi. Terapi CBT adalah proses yang melibatkan membangun hubungan dengan profesional kesehatan mental, mengenali bagaimana delusi memengaruhi Anda, dan menerapkan strategi CBT. Jika delusi merupakan bagian dari psikosis, CBT sering digunakan bersama dengan obat antipsikotik.

Baik halusinasi maupun delusi adalah gangguan dalam realitas. Keduanya merupakan pengalaman yang tampak nyata bagi pengamatnya, namun sebenarnya tidak nyata. Salah satu perbedaannya adalah seseorang yang mengalami halusinasi mungkin menyadari bahwa hal itu tidak benar. Misalnya, ketika migrain menyebabkan aura atau garis-garis pada penglihatan. Ketika disebabkan oleh penyakit mental, halusinasi dan delusi sering terjadi bersamaan.

Penelitian terbaru telah menentukan bahwa sebanyak satu dari 20 orang mengalami halusinasi yang tidak disebabkan oleh penggunaan narkoba, alkohol, mimpi, atau gangguan psikotik. Penelitian ini juga menemukan bahwa sekitar enam persen orang pernah mengalami halusinasi atau delusi dan halusinasi lebih sering terjadi.

Mungkin mudah untuk mengacaukan antara halusinasi dan delusi. Keduanya merupakan gejala psikosis, dan menunjukkan adanya jeda dari kenyataan. Keduanya juga sering terjadi bersamaan. Namun, meskipun keduanya berhubungan, halusinasi dan delusi masing-masing memiliki gejala yang unik. Halusinasi lebih menunjukkan pengalaman indrawi, dan delusi adalah keyakinan yang salah.

Jika Anda atau orang yang Anda cintai hidup dengan halusinasi atau delusi, bicarakan dengan dokter Anda. Mereka dapat membantu Anda dengan langkah selanjutnya untuk mendapatkan bantuan, atau merujuk Anda ke ahli kesehatan jiwa yang memiliki spesialisasi lebih dan dapat memberikan dukungan yang Anda butuhkan.

Baca juga: Inilah Tanda Kamu Takut Gagal Sebelum Memulai

 

Sumber:

Herndon, J. (2021, June 4). Understanding the Difference Between Hallucinations vs. Delusions. Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/hallucinations-vs-delusions

What’s the Difference Between a Delusion and a Hallucination? – BrightQuest Treatment Centers. (2020, July 24). BrightQuest Treatment Centers. https://www.brightquest.com/delusional-disorder/whats-the-difference-between-a-delusion-and-a-hallucination/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Perbedaan Antara Delusi dan Halusinasi — DeepTalk