Deeptalk.co.id – Kamu mungkin pernah mendengar istilah duck syndrome. Istilah ini mengacu pada perilaku yang terlihat baik-baik saja, tenang, tampak bahagia meskipun sebenarnya seseorang memiliki banyak masalah, beban, dan tekanan. Istilah ini pertama kali digunakan di Universitas Stanford dan tampaknya menjadi masalah di kalangan mahasiswa. Nama Duck Syndrome berasal dari analogi bebek yang berenang. Saat bebek berenang, kita hanya bisa melihat bagaimana tubuh bagian atas yang bergerak perlahan dan tenang. Hanya sedikit orang yang tahu bahwa mereka memiliki kaki yang bergerak tidak teratur di dalam air agar posisinya di atas air tetap stabil.
Duck syndrome tidak hanya dialami oleh mahasiswa-mahasiswa di Stanford University. Fenomena ini juga bisa terjadi pada siapa saja yang hidup di era modern ini, terutama kalangan millenial. Millenial adalah generasi yang lahir antara tahun 1981-1996. Mereka tumbuh di era digital dan media sosial yang memberikan banyak informasi dan inspirasi tentang kehidupan orang lain. Mereka juga memiliki banyak pilihan dan peluang untuk mengembangkan diri dan karir mereka.
Namun, hal-hal tersebut juga bisa menjadi sumber tekanan dan stres bagi millenial. Anda mungkin harus bersaing dengan orang lain untuk pengakuan dan penghargaan. Anda mungkin merasa terdorong untuk menahan diri dan orang lain pada standar dan harapan yang tinggi. Mereka mungkin berpikir bahwa mereka harus selalu tampil sempurna dan bahagia di depan umum. Mereka mungkin merasa perlu untuk selalu mencapai sesuatu dan tidak pernah berhenti berkembang.
Semua hal tersebut bisa membuat millenial mengalami duck syndrome. Mereka tidak mau meminta bantuan dan menunjukkan kelemahannya kepada orang lain. Hal ini karena mereka takut di remehkan oleh orang lain atas kelemahan mereka. Sehingga mereka cenderung memilih menampilkan diri kepada orang lain hanya sisi bahagianya saja. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang apa saja penyebab terjadinya duck syndrome di kalangan millenial saat ini.
Baca juga: Dampak Negatifnya Duck Syndrome yang Harus Kamu Ketahui
Apa Saja Penyebab Duck Syndrome?

Duck syndrome bisa disebabkan oleh banyak hal, mulai dari stres berat karena persaingan hidup hingga gangguan mental, seperti depresi dan gangguan cemas. Jika diabaikan begitu saja, duck syndrome berpotensi membuat penderitanya mengalami depresi berat atau bahkan memiliki ide untuk bunuh diri.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami duck syndrome adalah:
Tuntutan Akademik
Millenial yang masih berstatus sebagai siswa atau mahasiswa mungkin merasa tertekan untuk mendapatkan nilai bagus, lulus tepat waktu, atau mendapatkan beasiswa. Mereka mungkin juga merasa harus memilih jurusan atau bidang studi yang sesuai dengan minat atau bakat mereka, atau yang sesuai dengan harapan orang tua atau lingkungan mereka.
Ekspektasi Yang Terlalu Tinggi Dari Keluarga Dan Teman
Millenial mungkin merasa harus memenuhi ekspektasi yang terlalu tinggi dari keluarga dan teman-teman mereka. Mereka mungkin merasa harus membuat orang tua bangga dengan prestasi atau karir mereka. Mereka mungkin juga merasa harus memiliki hubungan asmara yang harmonis, menikah di usia muda, atau memiliki anak sesuai dengan norma sosial.
Pola Asuh Helikopter
Helicopter parenting adalah gaya pengasuhan di mana orang tua terlalu terlibat dengan anak-anak mereka. Pola asuh seperti ini bisa membuat generasi milenial merasa tidak memiliki otonomi untuk mengambil keputusan sendiri. Sehingga membuat mereka tidak mampu menghadapi tantangan hidup.
Pengaruh Media Sosial
Media sosial bisa menjadi sumber informasi dan inspirasi bagi millenial. Namun, media sosial juga bisa menjadi sumber tekanan dan stres bagi mereka. Mereka mungkin terbuai oleh ide bahwa kehidupan orang lain lebih sempurna dan bahagia ketika melihat unggahan dari orang tersebut. Mereka mungkin juga merasa harus selalu mengikuti tren atau gaya hidup yang ada di media sosial.
Perfeksionisme
Perfeksionisme adalah sikap yang menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Millenial yang perfeksionis mungkin merasa tidak puas dengan apa yang mereka miliki atau capai. Mereka mungkin juga merasa takut gagal atau membuat kesalahan. Mereka mungkin juga merasa harus selalu memperbaiki diri atau karyanya agar tidak mendapat kritik atau penilaian negatif dari orang lain.
Pernah Mengalami Peristiwa Traumatik
Millenial yang pernah mengalami peristiwa traumatik, seperti pelecehan verbal, fisik, dan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, atau kematian orang yang dicintai, mungkin merasa sulit untuk mengatasi perasaan-perasaan negatif yang timbul akibat peristiwa tersebut. Mereka mungkin juga merasa tidak aman, tidak percaya diri, atau tidak berharga.
Self-Esteem Yang Rendah
Self-esteem adalah harga diri atau rasa percaya diri seseorang terhadap kemampuan dan kualitasnya. Millenial yang memiliki self-esteem yang rendah mungkin merasa tidak pantas untuk mendapatkan hal-hal baik dalam hidupnya. Mereka mungkin juga merasa tidak berdaya, tidak berharga, atau tidak dicintai.
Baca juga: First Born Syndrome : Pengertian dan Karakteristiknya
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



