Deeptalk.co.id – Saat menjelajah dunia kesehatan dan psikologi, mungkin kita pernah mendengar tentang Sindrom Tourette. Sindrom ini memang nggak sepopuler flu atau batuk. Tapi, tau nggak sih kalau Sindrom Tourette ini merupakan kondisi yang cukup umum yang bisa memengaruhi siapa saja. Nah, dalam artikel kali ini, kita akan coba membahas lebih dalam tentang apa itu Sindrom Tourette.
Sindrom Tourette bisa jadi membingungkan dan menakutkan, terutama jika kamu nggak tahu apa yang sedang terjadi. Itu sebabnya, menjadi sangat penting bagi kita untuk mengetahui dan memahami tentang Sindrom Tourette. Apa yang terjadi dalam tubuh saat sindrom ini muncul? Bagaimana gejala-gejalanya, dan apa yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka yang hidup dengan sindrom ini.
Dengan memahami Sindrom Tourette, kita bisa membantu memberikan pemahaman yang tepat kepada mereka yang tidak tau dengan kondisi ini. Ataupun memberikan pemahaman kepada mereka yang mungkin punya teman, rekan kerja, atau anggota keluarga dengan sindrom ini.
Gejala Sindrom Tourette

Yuk, kita mulai bahas tentang gejala-gejala Sindrom Tourette. Bicara gejala Sindrom Tourette, kita pasti tak bisa lepas dari yang namanya ‘tics’. Tics adalah gerakan atau suara yang muncul secara tiba-tiba dan berulang. Berikut ini adalah gejala motorik dan vocal pada Sindrom Tourette.
- Tics Motorik Sederhana – Nah, kalau tics motorik sederhana itu seperti apa sih? Bayangkan saat kamu berkedut atau mengedipkan mata, itu contoh tics motorik sederhana. Biasanya, gerakan ini sifatnya singkat dan cepat.
- Tics Motorik Kompleks – Sementara, tics motorik kompleks ini agak lebih kompleks. Contohnya saat kamu melompat-lompat atau menendang-nendang, gerakan itu bisa jadi adalah tics motorik kompleks.
- Tics Vokal Sederhana – Lalu, ada tics vokal sederhana. Misalnya, tiba-tiba kamu membunyikan suara seperti batuk atau bersiul, itulah tics vokal sederhana.
- Tics Vokal Kompleks – Tics vokal kompleks bisa jadi hal seperti berbicara kata-kata atau frasa tanpa alasan yang jelas.
Durasi gejala bisa sangat bervariasi. Ada ‘tics’ yang cuma sebentar, tapi ada juga yang bertahan cukup lama dan bahkan berulang-ulang dalam waktu yang lama.
Baca juga: 4 Gaya yang Berbeda Seseorang Ketika Meluapkan Amarah
Dampak Gejala Sindrom Tourette pada Kehidupan Sehari-hari

Sindrom Tourette ini, nggak cuma soal tics. Dampaknya ke hidup sehari-hari bisa cukup besar. Bisa jadi kehidupan sosial mereka terganggu atau mereka merasa malu dan cemas berlebihan. Makanya, penting bagi kita semua untuk lebih peka dan pengertian pada mereka yang memiliki kondisi ini.
Dengan memahami gejalanya, kita bisa mempersiapkan diri dan merespon dengan lebih baik jika bertemu dengan orang yang punya kondisi ini.
Diagnosis Sindrom Tourette dan Kriteria diagnostik menurut DSM-5

Sindrom Tourette dikarakteristikkan dengan adanya tics motorik dan vokal. Tics motorik adalah gerakan tubuh yang berulang-ulang, seperti berkedip, mengangkat bahu, atau bahkan menyentak lengan. Sementara itu, tics vokal adalah suara atau kata-kata yang diucapkan berulang-ulang, mulai dari berdeham, merintih, hingga meneriakkan kata-kata tertentu. Jika hanya ada satu atau dua tics, mungkin kondisinya bukan Sindrom Tourette karena Sindrom Tourette melibatkan kedua jenis tics tersebut.
Menurut DSM-5, untuk dapat didiagnosis sebagai Sindrom Tourette, tics harus muncul selama lebih dari satu tahun. Jadi tidak cukup hanya dengan adanya tics, tapi bagaimana durasinya juga penting.
1. Usia saat Onset Gejala
Umumnya, gejala sindrom Tourette muncul saat usia anak-anak, biasanya sebelum berusia 18 tahun. Pada kebanyakan kasus, gejala sindrom Tourette muncul di masa anak-anak antara usia 3-9 tahun. Jadi kalau tics baru muncul saat sudah dewasa, mungkin kondisinya bukan Sindrom Tourette.
2. Penyebab
Penyebab Sindrom Tourette masih menjadi misteri. Meski demikian, ada bukti yang menunjukkan bahwa faktor genetik dan lingkungan mungkin berperan dalam kondisi ini. Bebrapa penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik mungkin berperan. Jadi, Sindrom Tourette mungkin bisa diwariskan dalam keluarga. Tapi, ini bukan berarti semua orang dalam keluarga yang memiliki gen Sindrom Tourette akan mengalami gejalanya, ya.
Selain itu, ada juga teori yang menyatakan bahwa Sindrom Tourette bisa terjadi karena adanya ketidaknormalan dalam beberapa area otak. Area-area ini meliputi kortex (bagian otak yang bertanggung jawab atas pemikiran tingkat tinggi dan pergerakan). Basil ganglia (bagian otak yang terlibat dalam kontrol gerakan). Dan thalamus (bagian otak yang mengirim sinyal sensorik dan motorik).
3. Pemeriksaan Penunjang
Pada umumnya, dokter akan melakukan observasi dan wawancara terhadap tics yang dialami pasien untuk memastikan diagnosanya Sindrom Tourette. Kadang-kadang, mungkin perlu dilakukan tes penunjang lainnya untuk menyingkirkan kondisi lain yang mungkin memengaruhi gejalanya.
Nah, dengan pengetahuan kita tentang diagnosis Sindrom Tourette, semoga bisa membantu kita lebih memahami kondisi ini dan cara menanganinya.
Baca juga: Emotional Eating Secara Psikologis : Mengapa Kita Beralih Ke Makanan Untuk Kenyamanan
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



