Semua artikel
Masalah Mental

Menggali Respon Trauma: Bagaimana Tubuh dan Pikiran Merespons Pengalaman Traumatis

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Pengalaman traumatis adalah peristiwa apa pun dalam hidup yang menyebabkan ancaman terhadap keselamatan kita dan berpotensi membahayakan nyawa kita sendiri atau nyawa orang lain. Akibatnya, ketika mengalami pengalaman traumatis ini seseorang akan mengeluarkan reaksi hingga mengalami tekanan emosional, psikologis, dan fisik tingkat tinggi yang untuk sementara mengganggu kemampuannya untuk berfungsi secara normal dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap orang yang mengalami atau menyaksikan peristiwa mengerikan seperti penembakan di sekolah, pertempuran, bencana alam, penyiksaan, kecelakaan dan hal lainnya yang mengancam keselamatan nyawa mereka atau orang lain bisa jadi akan mengalami trauma. Termasuk orang-orang yang telah menyaksikan peristiwa tersebut berulang kali seperti petugas polisi, pemadam kebakaran, tenaga medis dan lain sebagainya juga bisa mengalami trauma.

Siapapun yang pernah mengalami hal-hal tersebut pasti pernah mengalami shock. Lalu jika semua akhirnya lolos dari bahaya, orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut mungkin merasa hidup “tidak sama lagi”. Mereka mungkin mengalami berbagai reaksi dan banyak yang dapat dimengerti dalam konteks mengalami atau menyaksikan pengalaman traumatis.

Mengenal Reaksi Stres Traumatis

Mengalami gejala fisik atau emosional sebagai respons terhadap pengalaman traumatis adalah hal normal dan disebut reaksi stres traumatis. Siapapun yang terkena badai atau stres traumatis lainnya mungkin mengalami beberapa gejala. Diantaranya seperti menjadi mudah terkejut, sakit kepala, berkeringat, kecemasan, amarah yang sulit terkontrol, berkurangnya

Siapapun yang pernah mengalami hal-hal ini pasti pernah mengalami shock dan, bahkan jika semua akhirnya lolos dari bahaya, orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut mungkin merasa hidup “tidak sama lagi”. Orang mungkin mengalami berbagai reaksi, banyak yang dapat dimengerti dalam konteks mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis seperti angin topan. Mengalami gejala fisik atau emosional sebagai respons terhadap peristiwa traumatis adalah normal dan disebut reaksi stres traumatis.

Reaksi emosional atau fisik yang kuat setelah peristiwa yang menyusahkan atau traumatis adalah hal yang normal. Namun pada banyak kesempatan, reaksi ini mereda sebagai bagian dari proses penyembuhan dan pemulihan alami tubuh. Ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu mengatasi dan pulih dari pengalaman seperti itu.

Cara seseorang bereaksi terhadap trauma tergantung pada jenis dan tingkat keparahan peristiwa traumatis, apakah orang tersebut memiliki pengalaman atau pelatihan sebelumnya yang relevan, apakah mereka aktif atau tidak berdaya, jumlah dukungan yang tersedia setelah kejadian tersebut, stresor lain saat ini di lingkungan, kehidupan seseorang, kepribadian mereka, tingkat ketahanan alami, dan pengalaman traumatis sebelumnya.

Setelah peristiwa yang menyusahkan itu berakhir, Anda mungkin berusaha memahami peristiwa itu. Ini dapat mencakup pemikiran tentang bagaimana dan mengapa itu terjadi, bagaimana dan mengapa Anda terlibat, mengapa Anda merasa seperti itu, apakah perasaan yang Anda alami menunjukkan orang seperti apa Anda, apakah pengalaman itu telah mengubah pandangan Anda tentang kehidupan, dan bagaimana pengalaman tersebut dapat mengubah hidup Anda.

Baca juga: Inilah Ciri-ciri Orang yang Berfungsi Sepenuhnya Menurut Carl Rogers

Reaksi Tubuh Saat Menghadapi Pengalaman Traumatis

Para ilmuwan berusaha untuk mengeksplor akan bagaimana trauma memengaruhi tubuh. Beberapa diantaranya telah melihat apakah banjir hormon stres seperti kortisol dan norepinefrin sebagai penyebabnya.

Sedangkan peneliti lain memiliki teori polivagal untuk menjelaskannya. Yakni Stephen Porges dari Kinsey Institute Traumatic Stress Research Consortium di Indiana University yang menyatakan bahwa sistem saraf manusia telah berkembang sehingga manusia dapat merasakan hal-hal seperti keintiman dan keamanan di sekitar orang lain.

Akan tetapi jika Anda mendeteksi adanya bahaya, bagian primitif lain dari sistem saraf Anda akan bekerja. Seperti halnya sistem saraf simpatik yang mengontrol respons fight-or-flight (lawan atau lari) dan sistem parasimpatis yang menyebabkan Anda menutup diri dan menghemat energi.

Sistem tersebut juga mengontrol hal-hal lain yang berkaitan dengan sistem tubuh seperti pencernaan dan juga detak jantung. Sehingga begitu mereka beraksi, tubuh akan bekerja secara berbeda. Ini bisa menjelaskan mengapa trauma dikaitkan dengan segala hal mulai dari sembelit hingga pingsan.

Pengalaman traumatis juga dikaitkan dengan masalah kesehatan tubuh secara fisik dalam jangka panjang. Korban trauma sekitar tiga kali lebih mungkin untuk menghadapi sindrom iritasi usus, nyeri kronis, fibromyalgia dan sindrom kelelahan kronis.

Tak hanya itu, para ahli juga telah mempelajari kaitannya antara pengalaman atau kejadian traumatis dengan keluhan kesehatan tubuh, terutama pada penderita PTSD. Mereka menemukan bahwa trauma dapat menyebabkan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan artritis reumatoid. Pun juga ahli mengatakan adanya peningkatan di hampir setiap masalah medis dari waktu ke waktu.

Meskipun hanya karena Anda mengalami trauma bukan berarti Anda akan mengalami masalah kesehatan. Faktor lain juga berperan dalam hal ini, seperti pengalaman hidup Anda, dukungan yang Anda dapatkan dari orang sekitar serta gen yang Anda miliki. Sehingga ada pendapat lain bahwa hubungan antara trauma dan masalah medis tidaklah linier. Ketika seseorang mengalami pengalaman traumatis yang sama, beberapa mungkin akan baik-baik saja dan beberapa lainnya akan berubah secara radikal.

Baca juga: Memahami 5 Kategori Pelecehan Seksual

 

Sumber:

Mind/Body Health: The Effects of Traumatic Stress. (2023). University of the Arts. https://www.uarts.edu/students/mindbody-health-effects-traumatic-stress

Trauma – reaction and recovery. (2023). Better Health Channel. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/trauma-reaction-and-recovery

Richmond, C. (2018, December 10). Emotional Trauma and the Mind-Body Connection. WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/features/emotional-trauma-mind-body-connection

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Menggali Respon Trauma: Bagaimana Tubuh dan Pikiran Merespons Pengalaman Traumatis — DeepTalk