Deeptalk.co.id – Krisis paruh baya atau yang juga dikenal dengan istilah midlife crisis, adalah kondisi mental yang terjadi saat seseorang sedang dalam transisi untuk memasuki usia paruh baya. Krisis paruh baya ini biasanya dialami pada usia 40 – 60 tahun. Pada fase tersebut, penderita akan mengalami berbagai kondisi yang mempengaruhi mental dan perilakunya.
Istilah midlife crisis ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1965 oleh Elliot Jacques. Dimana pada momen tersebut, Jacques melihat adanya perubahan signifikan yang terjadi pada seseorang yang memasuki usia paruh baya.
Pada kondisi krisis paruh baya ini, penderita akan mulai mempertanyakan banyak hal dalam kehidupan mereka. Misalnya mengenai apa yang akan terjadi di usia pensiun, kesiapan finansial saat memasuki usia non produktif, harapan yang belum tercapai, dan masih banyak lagi.
Banyaknya pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya itu menimbulkan berbagai masalah pada kondisi mental seseorang. Maka dari itu, kondisi krisis paruh baya yang tidak diatasi dengan baik bisa memicu masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, dan lain sebagainya.
Lantas, apa sebenarnya yang memicu timbulnya kondisi krisis paruh baya ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai macam-macam pemicu krisis paruh baya.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu atau orang sekitar mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, segera lakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu akan mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
Pada penderita krisis paruh baya ini, umumnya mereka merasa ada hal yang perlu melakukan perubahan signifikan dari dirinya. Hal tersebut bisa berhubungan dengan faktor-faktor internal maupun eksternal pribadi masing-masing.
Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa kondisi yang bisa memicu terjadi krisis paruh baya atau midlife crisis:
Penurunan Kondisi Kesehatan

Salah satu kondisi yang cukup sering memicu terjadinya krisis paruh baya adalah penurunan kondisi kesehatan. Penurunan kondisi kesehatan ini menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian besar orang. Terlebih lagi, usia paruh baya membutuhkan waktu recovery yang lebih panjang dibandingkan usia sebelumnya.
Semakin bertambah usia seseorang, maka akan semakin menurun juga kondisi kesehatan mereka. Terkecuali bagi mereka yang benar-benar menjaga pola hidup sehat sejak dini. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang yang terserang berbagai penyakit di usia paruh baya. Maka tidak heran jika kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Refleksi Usia
Pada setiap jenjang usia tentu terdapat pencapaian-pencapaian tertentu dalam hidup kita. Baik itu pencapaian dengan skala kecil, hingga pencapaian besar. Seiring dengan bertambahnya usia, banyak orang yang melakukan refleksi terhadap usia mereka. Misalnya tentang pencapaian, harapan, tujuan hidup, atau keinginan yang belum tercapai walau sudah memasuki usia paruh baya. Hal semacam ini juga bisa memicu rasa khawatir atau krisis paruh baya.
Masalah Dalam Rumah Tangga

Seiring dengan berjalannya usia, beberapa orang akan menemukan macam-macam kendala dalam kehidupannya. Salah satu kendala dalam hidup yang juga bisa memicu kondisi krisis paruh baya adalah masalah dalam rumah tangga. Masalah dalam rumah tangga juga cukup beragam, mulai dari perbedaan pendapat dengan pasangan, masalah hubungan dengan anak, dan masih banyak lagi.
Baca juga : Midlife Crisis : Kondisi Mental Saat Seseorang Memasuki Usia Paruh Baya
Penurunan Pendapatan Financial
Kondisi lain yang juga bisa memicu krisis paruh baya adalah penurunan pendapatan keuangan. Memasuki usia krisis paruh baya, maka akan semakin mendekati usia pensiun. Dimana pada usia pensiun banyak orang yang tidak bisa produktif dalam mendapatkan penghasilan. Maka tidak heran jika penurunan pendapatan keuangan ini akan memicu krisis paruh baya. Pasalnya, hal tersebut akan menjadi kekhawatiran dalam menjalani kehidupan di kemudian hari.
Kehilangan Orang Tercinta

Kehilangan orang tercinta juga bisa memicu kondisi krisis paruh baya. Saat kita hidup dengan pasangan, anak, atau orang-orang yang kita cintai, tentu akan terbentuk kebiasaan di dalamnya. Dengan demikian, kehilangan orang tercinta tidak hanya menimbulkan kesedihan, namun juga keharusan untuk beradaptasi tanpa kehadiran mereka. Hal inilah yang pada akhirnya berujung pada kondisi krisis paruh baya.
Tekanan Eksternal
Sebagai makhluk sosial, tidak bisa dipungkiri bahwa ada saja faktor-faktor eksternal yang ikut serta dalam kehidupan kita. Pandangan dan komentar orang lain terkait apa yang sudah harus kita dapatkan saat memasuki usia paruh baya juga bisa memicu timbulnya kondisi krisis paruh baya.
Ketidakpuasan Emosional

Saat memasuki usia paruh baya, beberapa orang akan merasa hidupnya terlalu monoton. Terutama bagi mereka yang sudah terbiasa hidup dengan produktivitasnya. Kehidupan yang terlalu monoton ini tidak jarang memicu ketidakpuasan emosional yang bisa berujung pada kondisi krisis paruh baya.
Itu dia beberapa kondisi yang bisa memicu krisis paruh baya. Semoga artikel ini dapat membantu.
Baca juga : Pseudoseizure : Kejang yang Dipicu Oleh Gangguan Jiwa Berat
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



