Deeptalk.co.id – Akhir-akhir ini kita memang cukup sering menemukan istilah-istilah baru dalam dunia psikologis. Hal tersebut tidak mengherankan jika mengingat banyaknya orang yang semakin peduli akan kesehatan mental. Artinya, kemunculan istilah-istilah baru ini menandakan bahwa ilmu psikologi sudah jauh berkembang dibandingkan sebelumnya.
Salah satu istilah baru dalam dunia psikologi adalah treadmill hedonic. Istilah yang satu ini menggambarkan ketidak cukupan seseorang, walaupun mereka sudah mencapai apa yang diinginkan. Seperti apa lebih lengkapnya mengenai treadmill hedonic itu? Artikel kali ini akan secara khusus membahas mengenai treadmill hedonic.
Sebelum kita masuk pada topik pembahasan utamanya, perlu diketahui bahwa artikel ini dibuat sebagai bahan edukasi, dan tidak untuk dijadikan patokan self diagnosis. Jika kamu mengalami beberapa kondisi seperti yang dipaparkan dalam artikel ini, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lebih lanjut dengan psikolog atau psikiater. Dengan begitu kamu bisa mendapatkan diagnosa dan penanganan yang tepat.
Pengertian Treadmill Hedonic

Treadmill hedonic terdiri dari dua kata, yaitu treadmill yang merupakan alat olahraga untuk berlari di tempat, dan hedonic yang memiliki arti bersenang-senang atau mencari kebahagiaan. Treadmill hedonic sendiri merupakan kondisi dimana seseorang mencari kesenangan atau kebahagiaan, namun pada kenyataannya orang tersebut berada di tempat yang sama walaupun sudah mencapai kesuksesan yang dipikir bisa membuatnya merasa bahagia.
Sebelum mendapat julukan treadmill hedonic, kondisi serupa memiliki istilah lain berupa hedonic adaptation. Istilah hedonic adaptation ini pertama kali dicetuskan oleh Brickman dan Campbell, di tahun 1971, dalam bukunya yang berjudul “Hedonic Relativism and Planning the Good Society”. Barulah di tahun 1990-an Michael Eynick mencetuskan kondisi serupa dengan istilah treadmill hedonic. Sejak saat itu, kondisi tersebut lebih dikenal dengan istilah treadmill hedonic.
Walaupun kita jarang mendengar istilah treadmill hedonic, namun tanpa kita sadari kondisi tersebut sangat akrab dengan kita. Bisa jadi, kita atau orang terdekat mengalami kondisi serupa, namun tidak menyadarinya karena kurangnya pengetahuan dan juga kepekaan.
Setiap orang tentu memiliki standar hidup yang berbeda-beda. Hal-hal yang bisa membuat kita merasa bahagia atau puas tentu berbeda-beda. Namun, apakah hal yang kita anggap bisa membahagiakan kita benar-benar membuat kita merasa bahagia? Jika kamu berhasil mencapai hal yang kamu anggap bahagia, namun nyatanya membuatmu merasa biasa saja. Bisa jadi kamu sedang dalam kondisi treadmill hedonic.
Baca juga: Manfaat Self Care Terhadap Kesehatan Mental
Penyebab Treadmill Hedonic

Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan treadmill hedonic, tentu timbul pertanyaan mengenai apa yang menyebabkan seseorang mengalami kondisi tersebut. Pada dasarnya penyebab utama dari treadmill hedonic belum diketahui hingga saat ini.
Meski demikian, beberapa sumber menyatakan bahwa kondisi tersebut bisa saja dipicu oleh repetisi, atau pengulangan kejadian yang dialami seseorang. Seseorang yang selalu mengulang kejadian yang sama cenderung merasa biasa saja akan hal tersebut, walaupun mereka sangat mendambakannya.
Misalnya seseorang yang sudah biasa mendapat peringkat pertama, dan untuk kesekian kalinya mendapatkan hal serupa. Walaupun peringkat pertama merupakan hal yang sangat didambakannya, namun perasaan senang tidak seperti saat pertama kali mendapatkan peringkat pertama. Dengan arti kata lain, repetisi membuat seseorang kehilangan sensitivitas emosionalnya akan stimulus yang sering dijumpai.
Sumber lainnya memaparkan bahwa treadmill hedonic bisa saja dipicu oleh perasaan bahwa kamu akan merasa lebih senang atau bahagia jika mendapatkan sesuatu, memiliki, atau berada dalam situasi tertentu. Perasaan semacam itu biasanya muncul ketika kita melihat kondisi seseorang yang berhasil mendapatkan atau mencapai yang yang mereka usahakan. Dengan demikian, kamu akan terpacu untuk mendapatkan hal serupa. Namun sayangnya, saat kamu berhasil mendapatkan hal tersebut, ternyata rasa senang yang kamu rasakan tidak seperti yang kamu pikirkan sebelumnya. Bisa jadi pencapaian tersebut bukan hal yang bebar-benar kamu inginkan. Melainkan hanya perasaan agar kamu sama seperti orang lain tersebut.
Ciri-Ciri Orang Dengan Kondisi Treadmill Hedonic

Berikut beberapa ciri-ciri orang yang mungkin saja mengalami treadmill hedonic:
· Selalu memaksakan diri untuk mendapatkan keinginan mereka, walaupun hal tersebut bukah sesuatu yang benarbenar mereka butuhkan. Maka dari itu, kita seharusnya lebih pandai untuk memilah prioritas berdasarkan apa yang paling kita butuhkan terlebih dahulu.
· Timbulnya perasaan ingin terlihat sukses dan berkelas, walaupun pada dasarnya mereka tidak sesukses atau seberkelas itu. Maka dari itu, menjadi apa adanya merupakan hal yang lebih baik. Tentunya tanpa merendahkan diri sendiri, dan selalu upgrade diri agar benar-benar menjadi lebih baik.
· Tidak memiliki tujuan hidup, karena pada dasarnya mereka hanya mengejar hal-hal yang tidak jelas akan membuatnya bahagia atau tidak. Penting untuk kita mengenal diri, termasuk apa yang benar-benar bisa membuat kita merasa bahagia.
Itu dia penjelasan singkat mengenai treadmill hedonic. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.
Baca juga: Gambling Disorder: Kecanduan Judi yang Parah
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia
EduQuotient : @eduquotientofficial



