Deeptalk.co.id – Bisa melakukan pekerjaan dengan produktif tentu menjadi keinginan kebanyakan orang. Produktivitas menjadi hal yang positif karena dapat mempermudah pekerjaan. Namun pernahkah Anda mengira kalau productivity bisa berubah menjadi hal yang toxic atauberbahaya?
Produktivitas bisa menjadi hal yang berbahaya dan hal ini biasa disebut dengan toxic produktivity. Sisi positif dan manfaat bekerja dengan produktif akan menjadi beracun ketika produktivitas membuat kewalahan dalam menghadapi tugas dan pekerjaan, hingga mengesampingkan hal-hal lain yang menjadi kebutuhan pribadi.
Pengertian Toxic Productivity

Menurut PsychologyToday, toxic productivity merupakan kebutuhan obsesif untuk selalu produktif, hingga melepaskan kebutuhan diri sendiri, termasuk kesehatan, hubungan dan kehidupan pribadi. Istilah lain yang mungkin pernah terdengar yakni bias tindakan atau action bias.
Ketika sudah terjebak dengan toxic productivity, seseorang akan terdorong untuk terus menghasilkan atau melakukan sesuatu, baik di tempat kerja maupun di rumah. Perilaku ini justru tidak memberikan hasil yang terbaik, karena prosesnya yang instan dan tanpa pemikiran, analisis, perencanaan atau refleksi yang memadai. Lalu ketika saat melakukan sesuatu tubuh sudah merasa cepat lelah dan kehabisan energi, hingga merasa bersalah ketika tidak melakukan apapun, bisa dipastikan Anda telah menderita bias tindakan atau produktivitas yang beracun.
Pada dasarnya, toxic productivity membuat seseorang mempertaruhkan kebutuhan dirinya sendiri. Termasuk kesehatan yang terabaikan karena mereka sering lupa makan dan istirahat akibat terlalu menyibukkan diri. Akibatnya mereka yang mengalami kondisi ini akan terjadi penurunan pada kondisi kesehatannya.
Selain itu, kondisi ini juga bisa berakibat pada kesehatan mental seseorang. Toxic productivity memungkinkan seseorang menjadi stres karena tekanan pekerjaan dan minimnya istirahat yang mereka lakukan. Mereka pun bisa kehilangan minat pada hal yang disukai, seperti hobi, kebiasaan, dan lain-lain. Yang pada akhirnya toxic productivity justru mengganggu dan menurunkan produktivitas seseorang.
Baca juga: Waspada Toxic Parenting, Berikut Ciri Orang Tua yang Narsistik
Penyebab Terjebak Toxic Productivity

Munculnya toxic productivity akibat adanya budaya di lingkungan kita yang sangat menjunjung tinggi produktivitas. Masih banyak orang yang salah mengartikan produktivitas dan mengira kalau orang yang produktif yakni mereka yang sibuk dan memiliki banyak pekerjaan dalam satu waktu.
Budaya ini pun menimbulkan perilaku kompetisi antar individu demi terlihat menonjol sebagai pekerja keras yang giat untuk maju dalam dunia karier. Hingga seringkali ada bias pribadi atau dari orang sekitar yang mendorong untuk melakukan sesuatu, bahwa tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Sehingga seseorang merasa untuk lebih baik mengerjakan sesuatu daripada tidak melakukan apapun.
Akibatnya, ketika memiliki waktu luang yang seharusnya digunakan untuk istirahat, seseorang malah merasa bersalah karena tidak melakukan apapun. Hingga seorang psikolog sekaligus pendiri Teletherapist Network, Kathryn Esquer mengatakan bahwa kita bisa saja menggunakan waktu luang untuk beristirahat, memulihkan tenaga, dan memulihkan diri. Tetapi kebanyakan malah mengisi jam-jam itu dengan lebih banyak pekerjaan sebagai cara untuk merasa berharga, terpenuhi, dan dalam kontrol.
Tanda-Tanda Terjangkit Toxic Productivity

Berikut adalah lima tanda bahwa seseorang telah jatuh ke dalam perangkap toxic productivity :
1. Menetapkan ekspektasi yang tidak realistis
Demi memenuhi ego yang ambisius itu, seseorang akan merasa yakin mampu memenuhi tujuan yang terbilang tidak realistis. Terkadang mereka sangat yakin bisa merampungkan banyak pekerjaan dalam waktu yang singkat.
2. Terbebani dengan rasa bersalah terkait pekerjaan
Harapan untuk mencapai tujuan yang ambisius itu juga membawa penderita toxic productivity merasa bersalah ketika ia tidak mampu menyelesaikan rencana yang telah dibuat sebelumnya.
3. Anda merasa cemas saat downtime
Setiap saat yang dihabiskan untuk bersantai mengilhami banyak kegelisahan kekhawatiran. Perasaan itu muncul karena perasaan bersalah tidak mengerjakan apapun disaat waktu istirahat.
4. Kesuksesan Anda terasa tidak berarti
Ketika telah berhasil mencapai sesuatu, seseorang tidak akan langsung merasa puas. Justru setelah itu kepala dibayangi banyak keinginan baru untuk melakukan hal banyak lainnya. Sehingga, Anda langsung beralih ke hal berikutnya dalam daftar tanpa akhir.
5. Anda merasa lelah dan kehabisan energi
Semua produktivitas itu melelahkan dan Anda hanya bisa terus menerus bekerja sebelum mencapai titik kelelahan secara total. Ketika melakukannya, menyelesaikan sesuatu terasa seperti berjalan dengan susah payah melalui semen basah, dan energi sudah benar-benar habis.
Baca juga: Pentingnya Olahraga Untuk Kesehatan Mental
Sumber:
https://cimsa.or.id/news/index/productivity-know-your-limit-before-it-turns-toxic#:~:text=Menurut Dr. Julie Smith – seorang,tidak bisa melakukan banyak hal.
https://paperform.co/blog/toxic-productivity/
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



