Semua artikel
Bullying

Memahami Bagaimana Bullying Mempengaruhi Kesehatan Mental

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Bullying merupakan bagian dari masalah sosial yang sering terjadi di berbagai lingkungan masyarakat. Termasuk diantaranya yakni sekolah, tempat kerja dan lingkungan sosial lainnya. Walaupun memang sudah menjadi bagian dari kehidupan, namun tindakan bullying tidak pernah dibenarkan karena dampaknya yang buruk bagi kesehatan mental si korban.

Ada beragam bentuk tindakan bullying, seperti intimidasi, pelecehan secara verbal, fisik atau yang sering terjadi akhir-akhir ini yakni cyber bullying. Semua bentuk bullying tersebut bisa mengakibatkan korbannya merasa terisolasi, merendahkan diri sendiri hingga depresi yang berujung pada bunuh diri. Hal ini pun akan berdampak pada kinerja akademik dan hubungan sosial korban, serta mengarah pada masalah kesehatan mental yang lebih serius.

Dampak dari bullying pada kesehatan mental dapat bervariasi dari individu ke individu. Namun, beberapa dampak umum yang terjadi adalah perasaan tidak aman, kecemasan, ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain, dan gangguan tidur. Dalam beberapa kasus, bullying dapat juga memicu masalah kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi, gangguan kecemasan, dan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Bullying concept with person

Apa Itu Bullying?

Oleh Center for Disease Control (CDC), bullying atau intimidasi didefinisikan sebagai bentuk “kekerasan remaja” terhadap korban yang melibatkan perilaku agresif yang tidak diinginkan, yang ia dapatkan dari pelaku intimidasi baik individu maupun kelompok.

Intinya ada pada ketidakseimbangan kekuatan, baik yang hanya sekedar dirasakan maupun yang nyata, dari status sosial, kekayaan, kekuatan fisik, atau ukuran. Pada banyak kasus, bullying sering dilakukan secara berulang selama periode waktu tertentu. Sehingga mengakibatkan kerugian fisik, psikologis, sosial atau pendidikan.

Beberapa diantaranya bentuk perilaku bullying meliputi:

– intimidasi atau bahaya fisik—menyandung, memukul, mendorong, atau meludahi korban

– pengucilan sosial, mengolok-olok korban, menggoda, menyebut nama dan / atau penghinaan

– ancaman, perusakan harta benda, membuat korban melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya

– menyebarkan desas-desus atau kebohongan tentang korban

Baca juga: Cara Memulihkan Diri Setelah Mengalami Kondisi Trauma

Prevalensi Kasus Bullying

Mengutip dari Best Day Psychiatry, setidaknya satu dari lima siswa berusia 12–18 tahun melaporkan bahwa dirinya mengalami intimidasi. Data tersebut menandakan bahwa bullying memang sering terjadi. Lebih tepatnya paling tidak seminggu sekali di 14% di sekolah negeri, dengan angka tertinggi pada sekolah menengah pertama.

Tak hanya itu, perkembangan teknologi yang menciptakan dunia cyber pun justru mengembangkan praktik bullying. Hal ini dikenal dengan cyberbullying atau intimidasi secara online. Bahkan, menurut laporan dari Pew Research Center, hampir dua dari tiga remaja Amerika pernah mengalaminya. Pun karena dunia cyber yang bisa diakses 24/7 juga bersifat publik, memungkinkan korban menjadi sulit untuk menghindarinya.

Lebih lengkapnya, sekitar 59% remaja AS telah diintimidasi atau dilecehkan secara online, dan persentase yang sama mengatakan bahwa ini adalah masalah besar bagi orang seusia mereka. Pada saat yang sama, sebagian besar remaja menganggap guru, perusahaan media sosial, dan politisi gagal menangani masalah ini.

Seseorang yang kerap dijadikan korban bullying ialah mereka yang terlihat “berbeda” dari lingkungannya, baik penampilan, orientasi seksual, identitas budaya atau kecacatan. Lalu, para pelaku bullying cenderung akan menggertak korban jika mereka sulit mengikuti aturan, atau orang tua mereka yang terlihat abai akan hal itu. Sehingga mereka pun menganggap kekerasan yang mereka lakukan dapat diterima.

Efek Bullying Terhadap Kesehatan Mental

Perilaku bullying dan penindasan memiliki dampak negatif bagi kesehatan mental, sehingga ini menjadi perhatian yang serius. Beberapa efek dari bullying seperti timbulnya perasaan penolakan, pengucilan, isolasi, rendah diri, hingga perasaan tersebut pada beberapa individu bisa berkembang menjadi depresi dan anxiety, atau bahkan Acute Stress Disorder atau Post Traumatic Stress Disorder.

Penelitian telah menunjukkan bahwa menjadi korban bullying dapat menyebabkan dampak jangka panjang termasuk kekerasan antarpribadi, penggunaan zat, kekerasan seksual, fungsi sosial yang buruk, dan kinerja yang buruk. Bahkan hanya dengan menyaksikan intimidasi pun dapat memengaruhi kesejahteraan seseorang.

Mengalami bullying pada usia muda dapat memengaruhi seseorang melewati masa kanak-kanak dan dapat menyebabkan kerusakan psikologis seumur hidup. Selama tahun-tahun muda ini, anak-anak mengidentifikasi peran, mengembangkan kepribadian, dan mencari tahu siapa mereka.

Ketika seorang anak diintimidasi, itu dapat menyebabkan masalah dengan kepercayaan pada orang lain, harga diri, dan kemarahan. Mungkin sulit untuk mengembangkan hubungan dengan orang lain di usia yang lebih tua ketika Anda mungkin tidak memilikinya di usia yang lebih muda.

Juga ketika berulang kali dihadapkan pada pukulan tentang siapa kita atau apa yang kita lakukan, ia cenderung akan menciptakan citra diri yang buruk dan berharap orang lain melihatnya dengan cara yang sama.

Perundungan seringkali meninggalkan korban dengan perasaan yang berlarut-larut, lalu berubah menjadi kemarahan terhadap orang lain atau dirinya sendiri. Ketika seseorang mengalami intimidasi dalam jangka waktu yang lama, mereka mungkin akan mulai menyalahkan diri sendiri karena diintimidasi.

Memikirkan hal-hal seperti “Jika saya tidak terlalu jelek, orang-orang akan meninggalkan saya sendiri”, atau “Jika saya berusaha lebih keras, orang tidak akan mengolok-olok saya”. Jenis pemikiran dapat mengubah cara kita melihat dan merasakan tentang diri kita sendiri dan meninggalkan dampak jangka panjang.

Baca juga: 4 Bentuk Gaslighting yang Perlu Diketahui

 

Sumber:

Best Day Psych. (2020, December 1). The Effects of Bullying on Mental Health. Best Day Psychiatry & Counseling. https://bestdaypsych.com/the-effects-of-bullying-on-mental-health/

Warner, M. (2021, March 12). The impact of bullying on mental health. Louis a. Faillace, MD, Department of Psychiatry and Behavioral Sciences. https://med.uth.edu/psychiatry/2021/03/12/the-impact-of-bullying-on-mental-health/

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait