Semua artikel
Masalah Mental

Kamu Suka Over Scrolling Media Sosial? Bisa Jadi Passive Coping Yang Sedang Kamu Terapkan

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Jika kita berbicara tentang keseharian dalam era digital ini, hampir bisa dipastikan bahwa media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Dari menjalin interaksi, mencari informasi, hingga menjalankan bisnis. Semua bisa dilakukan hanya dengan satu genggaman gadget di tangan.

Namun, kita semua tau, bahwa waktu yang kita habiskan untuk scroll ke media sosial terasa tidak ada habisnya, bukan? Bayangkan momen di mana kita sedang duduk di sofa, dengan segelas coffee latte di tangan. Kemudian sambil terus scrolling Instagram atau Twitter yang tak kunjung berakhir. Mungkin kita merasa bahwa itu adalah cara kita untuk rileks dan melepaskan stress. Tetapi, apakah kamu tahu bahwa kebiasaan ini bisa menjadi bentuk dari passive coping?

Seseorang dikatakan sedang melakukan passive coping ketika ia mencoba menarik diri dari stres dengan cara menghindarinya dari alam pikirannya. Digemari oleh banyak orang karena efek instan yang membuat kita merasa lebih baik, tetapi apa sebenarnya passive coping itu?

Apa Itu Passive Coping?

Passive coping adalah serangkaian strategi memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari pemicu stres dengan menghindari, menyangkal, atau menarik diri. Jadi, passive coping berfokus pada emosi yang kamu rasakan saat ini, dibandingkan memikirkan cara mengatasinya. Melihat foto-foto cantik atau berita di media sosial, misalnya, membuat kita bisa melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapi. Namun, perlu diingat bahwa ini bukanlah solusi permanen. Kita mungkin merasa lebih baik sekarang, tetapi masalah akan tetap ada sampai kita menghadapinya.

Berikut adalah sebuah contoh yang menggambarkan passive coping ini:

Seorang mahasiswa semester akhir yang sedang disibukkan dengan skripsi. Dalam satu minggu ini, dia merasa tekanan dari dosennya yang meminta progres cepat. Dan juga dari teman-temannya yang sebagian sudah selesai. Dirinya merasa stres dan cemas menghadapi keadaan ini.

Alih-alih berusaha merumuskan strategi untuk menyelesaikan skripsinya atau mencari sumber belajar dan referensi tambahan. Dirinya lebih memilih berlama-lama pada media sosial. Dia menghabiskan jam-jam panjang scrolling melalui berbagai postingan di Instagram, Twitter dan Facebook. Dia larut dalam foto-foto, video, dan berita yang tidak ada hubungannya dengan skripsinya. Aktivitas ini seakan menjadi pelarian bagi dirinya dari tekanan yang tengah dihadapinya.

Hal ini merupakan contoh passive coping melalui over scrolling di media sosial. Meskipun mungkin berfungsi untuk meredakan stres sesaat, tapi strategi ini tidak memberikan solusi permanen atas masalah yang ada.

Baca juga: Ini Penyebabnya Remaja Lebih Rentan Mengalami Kecanduan Media Sosial

Apa Itu Active Coping?

Berbeda dengan passive coping, active coping menuntut kita untuk menghadapi masalah yang sedang dihadapi. Active coping memiliki strategi mengatasi permasalahan yang lebih terstruktur dan adaptif terhadap permasalahan yang dihadapinya. Karena ketika kita merasa stres, kita tidak lari dari masalah, tetapi mencari tahu apa yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikannya. Salah satu contohnya adalah berbicara dengan orang yang kita percayai tentang masalah kita, atau mencari solusi melalui pencarian di internet.

Berikut adalah sebuah contoh yang menggambarkan active coping ini:

Seorang mahasiswa semester akhir sedang merasa tertekan karena tuntutan penyelesaian skripsi yang semakin mendekat. Tidak hanya itu, tuntutan progres dari dosen pembimbing dan keberhasilan teman-teman sekelasnya memperburuk tekanannya. Kondisi ini membuatnya semakin cemas.

Sebagai strategi aktif untuk mengatasi tekanan ini, mahasiswa tersebut mulai merumuskan dan memperbaiki metode penelitiannya. Dia mulai mencari referensi tambahan untuk memperkuat argumentasi dalam skripsinya dan memperluas pemahamannya terkait materi skripsi. Bahkan, dia juga mencari dosen lain atau praktisi di bidang studinya untuk mendapat perspektif baru yang bisa membantu skripsinya.

Mahasiswa tersebut juga aktif dalam menjaga keseimbangan hidup dengan mengatur waktu belajar, beristirahat, dan bersantai dengan baik. Dia juga mulai berolahraga dan meditasi untuk membantu mengelola stresnya.

Dia juga mencoba untuk berkomunikasi dengan dosen pembimbingnya secara terbuka tentang tekanan yang sedang dia alami. Kemudian meminta saran serta arahan lebih lanjut untuk menyelesaikan skripsi. Dengan ini, dia semakin memahami ekspektasi dosen pembimbing dan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

Ini semua adalah bentuk dari active coping. Dimana mahasiswa tersebut tidak lari dari masalah. Tetapi, justru berhadapan dengan tekanan tersebut dan mencari cara terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Lebih Baik Mana, Active Coping Atau Passive Coping?

Masing-masing memiliki tempat dan waktu yang sesuai. Kadang, semua yang kita butuhkan adalah jeda sejenak dari kehidupan dan masalahnya. Dan dalam hal ini, passive coping seperti scrolling media sosial bisa sangat membantu.

Namun, jika kamu merasa bahwa apa yang kamu hadapi adalah masalah yang memerlukan solusi. Maka mungkin active coping adalah pendekatan yang lebih baik. Jangan lupa untuk mencari bantuan profesional jika kamu merasa kewalahan.

Jadi, apakah kita harus berhenti scrolling media sosial? Tentu tidak. Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa kita menggunakannya dengan cara yang sehat. Jangan lupa untuk luangkan waktu untuk merenung, bertemu dengan teman dan keluarga. Dan melakukan aktivitas yang kita cintai. Media sosial hanya alat, dan kita yang menentukan bagaimana cara menggunakannya.

Jadi, selanjutnya ketika kamu merasa perlu melakukan over scrolling. Cobalah tanyakan pada diri sendiri. Apa kamu sedang mencari cara untuk melepaskan diri dari kesibukasan saja atau mau melarikan dari dari permasalahan yang ada?

Baca juga: Pentingnya Mempelajari Self-Knowledge Untuk Kesejahteraan Diri

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Kamu Suka Over Scrolling Media Sosial? Bisa Jadi Passive Coping Yang Sedang Kamu Terapkan — DeepTalk