Semua artikel
Masalah Mental

Bagaimana Mengenali Respon Trauma dan Mengelola Dampaknya

Ditulis oleh DeepTalk Indonesia5 menit baca

Deeptalk.co.id – Trauma adalah pengalaman yang dapat mengguncang dasar keberadaan kita, mengganggu keseimbangan emosional dan mental kita. Setiap individu memiliki cara yang unik dalam merespons dan mengatasi trauma yang mereka alami. Namun, seringkali sulit bagi kita untuk mengenali respon trauma dan memahami dampaknya pada diri kita.

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi pentingnya mengenali respon trauma yang muncul dan bagaimana mengelola dampaknya. Dengan mempelajari tanda-tanda dan gejala yang terkait dengan trauma serta teknik-teknik yang efektif untuk menghadapinya, kita dapat memperoleh alat yang kuat untuk memulihkan diri dan membangun kekuatan dalam menghadapi masa lalu yang sulit. Mari kita mulai perjalanan ini untuk mengenali dan mengelola dampak trauma dengan lebih baik, sehingga kita dapat melangkah menuju pemulihan yang berkelanjutan.

Mengenali Respon Trauma

Reaksi awal atau respon terhadap trauma dapat meliputi kelelahan, kebingungan, kesedihan, kecemasan, agitasi, mati rasa, disosiasi, lemahnya gairah fisik, dan afek tumpul. Sebagian besar respon trauma tersebut adalah hal yang normal karena memengaruhi sebagian besar penyintas dan dapat diterima secara sosial, efektif secara psikologis serta membatasi diri.

Sedangkan indikator dari respon trauma yang lebih parah termasuk tekanan terus menerus tanpa periode relatif tenang atau istirahat, gejala disosiasi yang parah, dan ingatan mengganggu yang terus berlanjut meskipun telah kembali ke tempat aman. Respons yang tertunda terhadap trauma dapat mencakup kelelahan yang terus-menerus, gangguan tidur, mimpi buruk, ketakutan akan terulang kembali, kecemasan yang terfokus pada kilas balik, depresi, dan penghindaran emosi, sensasi, atau aktivitas yang berhubungan dengan trauma, bahkan dari jarak jauh.

Reaksi langsung para penyintas setelah trauma cukup rumit dan tentunya berbeda-beda dari satu orang dengan lainnya. Perbedaan ini dipengaruhi oleh pengalaman mereka, aksesibilitas dukungan dan penyembuh alami, kemampuan bertahan hidup, tanggapan keluarga dekat serta komunitas yang lebih besar di mana mereka tinggal.

Meskipun reaksi tersebut bervariasi dalam tingkat keparahan, yang bahkan respon yang paling akut pun merupakan respons alami untuk mengelola trauma dan itu bukan tanda psikopatologi. Gaya koping bervariasi dari yang berorientasi tindakan hingga relfektif dan dari ekspresi emosional hingga pendiam.

Secara klinis, gaya respons trauma kurang penting daripada sejauh mana upaya koping berhasil memungkinkan seseorang untuk melanjutkan aktivitas yang diperlukan. Termasuk untuk mengatur emosi, mempertahankan harga diri, dan mempertahankan serta menikmati kontak antarpribadi.

Memang, kesalahan masa lalu dalam psikologi stres traumatis, khususnya mengenai trauma kelompok atau massa, adalah asumsi bahwa semua penyintas perlu mengungkapkan emosi yang terkait dengan trauma dan berbicara tentang trauma. Lalu penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa para penyintas yang memilih untuk tidak memproses trauma mereka secara psikologis sama sehatnya dengan mereka yang melakukannya. Pendekatan pembekalan psikologis terbaru menekankan untuk menghormati gaya individu dalam mengatasi dan tidak menilai satu jenis di atas yang lain.

Baca juga: Ciri-Ciri Jika Kamu Terjebak Pada Emotional Sponge

Perubahan Biologis Saat Stres Traumatis

Kebanyakan orang mengaitkan gejala stres pascatrauma (PTSD) kerap dialami oleh veteran atau mantan tentara yang mengikuti pertempuran. Padahal, segala macam trauma terjadi selama hidup seseorang dan dapat menyebabkan gangguan stres pascatrauma atau mungkin gejala yang menyerupainya.

Peristiwa trauma tersebut termasuk dialami orang-orang yang telah mengalami serangan fisik atau seksual, pelecehan, kecelakaan, bencana alam atau banyak peristiwa penuh tekanan yang serius lainnya. Sehingga dengan demikian, siapa pun dapat mengembangkan PTSD dan pada usia berapa pun. Oleh National Center for Post-Traumatic Stress Disorder, ditemukan bahwa sekitar 7 atau 8 dari setiap 100 orang akan mengalami PTSD di beberapa titik dalam hidup mereka.

Namun, untuk mengetahui apakah seseorang berada dalam kelompok risiko tertinggi untuk mengembangkan PTSD, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh ahli. Ada beberapa hal yang meningkatkan risiko secara umum dan beberapa hal lainnya melindungi dari risiko tersebut.

Sementara itu, para peneliti saat sedang mencari tahu apa yang membuat orang berisiko mengalami PTSD. Termasuk bagaimana gejala stres pascatrauma berkembang di otak. Penelitian tersebut didasarkan pada bukti yang menunjukkan bahwa banyak perubahan biologis penting yang menyebabkan gejala terus-menerus terjadi di awal setelah trauma.

Mereka mengumpulkan informasi tentang riwayat hidup sebelum trauma, mengidentifikasi gejala pascatrauma, mengumpulkan data genetik dan data biologis lainnya, serta melakukan pemindaian otak. Studi ini juga menggunakan jam tangan pintar dan aplikasi ponsel pintar untuk mengukur respons tubuh terhadap trauma. Alat-alat ini akan membantu para peneliti mengungkap bagaimana trauma memengaruhi kehidupan sehari-hari orang, seperti aktivitas, tidur, dan suasana hati mereka.

Mengelola Dampaknya

Bagaimana Anda bereaksi ketika sesuatu yang traumatis terjadi, dan segera sesudahnya, dapat membantu atau menunda pemulihan Anda. Terlebih bagi mereka yang memulai terapi dan menjalaninya, sebagian besar dari mereka akan menjadi lebih baik dan akan merasa lega. Juga beberapa obat dapat membantu mengobati gejala tertentu yang menyertai.

Selain itu, berbicara dengan ahli kesehatan mental dapat membantu seseorang dengan gejala stres pascatrauma untuk belajar mengatasinya. Penting bagi siapa pun dengan gejala mirip PTSD untuk dirawat oleh ahli kesehatan mental yang terlatih dalam terapi yang berfokus pada trauma. Namun, PTSD memengaruhi orang secara berbeda, jadi pengobatan yang berhasil untuk satu orang mungkin tidak berhasil untuk orang lain. Beberapa orang dengan PTSD perlu mencoba perawatan yang berbeda untuk menemukan apa yang sesuai dengan gejala mereka.

Memiliki strategi penanggulangan yang positif dan mempelajari sesuatu dari situasi tersebut dapat membantu Anda pulih dari peristiwa traumatis. Begitu juga mencari dukungan dari teman, keluarga, atau kelompok pendukung.

Baca juga: Mengenal Gangguan Fobia : Penyakit Ketakutan yang Berlebihan

 

Sumber:

Center for Substance Abuse Treatment (US). Trauma-Informed Care in Behavioral Health Services. Rockville (MD): Substance Abuse and Mental Health Services Administration (US); 2014. (Treatment Improvement Protocol (TIP) Series, No. 57.) Chapter 3, Understanding the Impact of Trauma. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK207191/

Dealing With Trauma. (2022, October 3). NIH News in Health. https://newsinhealth.nih.gov/2018/06/dealing-trauma

 

MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK  INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.

HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:

DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD

Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):

Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456

Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia

Dipublikasikan oleh DeepTalk

Artikel terkait

Bagaimana Mengenali Respon Trauma dan Mengelola Dampaknya — DeepTalk