Deeptalk.co.id – Tahukah kamu bahwa terkadang pikiran kita bisa membawa kita ke suatu tempat yang tak terduga? Bayangkan jika kamu tiba-tiba kehilangan ingatan tentang siapa dirimu, asal-usulmu, bahkan kehidupanmu yang selama ini kamu jalani. Ini adalah apa yang dialami oleh orang-orang yang menderita gangguan mental yang dikenal sebagai fugue disosiatif. Fugue disosiatif adalah kondisi yang jarang terjadi dan sering kali mengejutkan bagi penderitanya dan orang-orang di sekitarnya. Dalam kondisi ini, penderitanya kehilangan ingatan tentang diri mereka sendiri. Mereka melakukan perjalanan jauh dengan identitas baru yang mereka bentuk untuk diri mereka sendiri. Mari kita pelajari lebih lanjut tentang contoh dari orang-orang yang mengalami fugue disosiatif dan bagaimana kondisi ini memengaruhi hidup mereka.
Contoh dari Fugue Disosiatif
Untuk memudahkan kita memahami fugue disosiatif, maka akan di berikan ilustrasi dari penderita fugue disosiatif. Berikut adalah contoh cerita dari seorang penderita fugue disosiatif. Terdapat seseorang pada tahun 2004, seorang pria tanpa identitas ditemukan tak sadarkan diri di dekat sebuah restoran di Georgia, Amerika Serikat. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menemukan bahwa pria tersebut mengalami fugue disosiatif. Pria tersebut tidak dapat mengingat siapa dirinya dan kehidupannya sebelumnya. Ia bahkan tidak bisa mengingat namanya.
Setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit. Pria tersebut memulai kehidupan barunya dengan identitas yang diberikan oleh petugas medis sebagai Benjamin Kyle. Namun, ia tetap tidak bisa mengingat masa lalunya. Benjamin mencoba mencari tahu identitasnya yang sebenarnya, tapi tidak berhasil. Ia kemudian menjadi terkenal sebagai pria tanpa identitas dan mencoba untuk memulai hidup barunya dengan pekerjaan dan keluarga yang baru.
Namun, pada tahun 2015, Benjamin akhirnya menemukan identitasnya yang sebenarnya melalui tes DNA. Ia ternyata bernama William Burgess Powell, dan telah hilang selama 30 tahun setelah meninggalkan keluarganya di Delaware. Benjamin, atau seharusnya William, akhirnya bertemu dengan saudara kandungnya dan kembali ke kehidupannya yang dulu. Meskipun berhasil menemukan identitasnya yang sebenarnya, Benjamin tetap mengalami kesulitan mengingat kehidupannya selama 30 tahun terakhir.
Cerita Benjamin Kyle menunjukkan betapa seriusnya kondisi fugue disosiatif dan betapa sulitnya bagi penderita untuk mencari tahu identitas mereka yang sebenarnya. Meskipun kasus Benjamin Kyle cukup unik, kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja dan mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami kondisi ini dan memberikan dukungan yang dibutuhkan bagi mereka yang mengalaminya.
Baca juga: Mengulas Tingginya Tingkat Bunuh Diri di Korea Selatan
Apakah Penderita Fugue Disosiatif Mampu Melakukan Kegiatan Harian dengan Baik pada Identitas Barunya?

Penderita fugue disosiatif dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik. Meskipun dengan identitas barunya, tergantung pada seberapa sering dan lamanya mereka mengalami episode fugue disosiatif dan seberapa parah gejala yang dialami. Dalam episode fugue disosiatif, penderita biasanya akan berpindah ke identitas baru yang dibuat oleh pikiran mereka. Hal ini bertujuan sebagai cara untuk melindungi diri dari stres atau trauma yang terkait dengan identitas asli mereka. Identitas baru tersebut biasanya terdiri dari karakteristik atau kualitas yang berbeda dari identitas asli. Misalnya dalam hal perilaku, minat, pekerjaan, atau hubungan sosial.
Namun, dalam beberapa kasus, identitas baru yang dibuat oleh penderita fugue disosiatif dapat menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka mungkin kehilangan pekerjaan, teman, dan keluarga karena orang di sekitar mereka tidak mengenali identitas baru yang diambilnya. Selain itu, mereka juga mungkin mengalami kesulitan dalam mengingat kegiatan atau peristiwa yang terjadi selama episode fugue disosiatif.
Bagaimana Penderita Fugue Disosiatif Membentuk Identitas Baru Setelah Mengalami Amnesia?

Penderita fugue disosiatif, dalam keadaan seperti itu, sering kali membentuk identitas baru yang sejalan dengan keadaannya. Identitas baru yang terbentuk tersebut biasanya terdiri dari nama dan latar belakang baru yang diberikan oleh orang yang bersangkutan. Ataupun yang ditemui selama dalam keadaan fugue. Identitas baru ini sering kali dibangun berdasarkan pada kebutuhan dan keinginan dari orang tersebut. Meskipun seringkali juga tidak konsisten dan tidak terbentuk secara lengkap.
Beberapa penderita fugue disosiatif mengalami kebingungan dan kecemasan saat mereka menemukan diri mereka dalam identitas baru tersebut. Terutama jika identitas baru tersebut berbeda secara signifikan dengan identitas mereka sebelumnya. Namun, ada juga beberapa penderita yang merasa nyaman dengan identitas baru mereka. Bahkan mempertahankan identitas tersebut setelah mereka pulih dari keadaan fugue.
Meskipun terbentuknya identitas baru ini dapat membantu penderita untuk bertahan dalam keadaan fugue. Namun ketidak konsistensian identitas baru tersebut dapat membuat mereka sulit untuk kembali ke keadaan normal. Dan seringkali memerlukan bantuan profesional untuk membantu mereka mengatasi masalah tersebut.
Baca juga: Apakah Orang Bunuh Diri Memiliki Nilai Religius yang Rendah?
Sumber:
Davison, G. C., Neale, J. M., Kring, A. M. (2017). Psikologi Abnormal Edisi Ke-7. Depok: PT Raja Grafindo Persada.
MEMBUTUHKAN KONSULTAN KESEHATAN MENTAL UNTUK INDIVIDU ATAU PERUSAHAAN? KAMI PUNYA SOLUSI MENYELURUH MASALAH MENTAL HEALTH.
HUBUNGI KAMI MELALUI KONTAK DIBAWAH INI:
DeepTalk by Logos Indonesia: Biro Psikologi & Konsultan HRD
Layanan:
1. Rekrutmen & Asemen Karyawan
2. Konsultansi MSDM
3. Training & Development by @logosinstituteofficial
4. Outbound
5. Konseling Online Berbasis Android & iOS by @deeptalkindonesia
6. Klinik Konsultasi Psikologi & Tumbuh Kembang Anak by @deepgrowindonesia
7. Layanan Psikologi Pendidikan by EduQuotient
.
Hubungi kami (Bisa Langsung Klink Nomor Dibawah Ini):
Rekrutmen, Asemen & Konsultansi MSDM: 0811-1744-456
Training & Outbound : 0811-1075-456
Klinik Psikologi, Konseling & Tumbuh Kembang Anak: 0811-1814-456
EduQuotient (Psi. Pendidikan): 0811-1157-456
Email : admin@logosconsulting.co.id
.
Follow Kami:
Logos Indonesia : @logosindonesiaofficial
Logos Institute : @logosinstituteofficial
DeepTalk Indonesia : @deeptalkindonesia
DeepGrow Indonesia : @deepgrowindonesia



